Kemenkes Himpun 700 Inovasi Kesehatan Primer, Perkuat Kebijakan Cegah Stunting

  • 27 Jul 2026 19:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementerian Kesehatan dan BRIN telah mengumpulkan hampir 700 inovasi pelayanan kesehatan primer nasional melalui Leimena Conference 2026.
  • Inovasi-inovasi tersebut menjadi fondasi pengembangan kebijakan pencegahan stunting nasional yang berkelanjutan.
  • Leimena Conference 2026 merupakan konferensi ilmiah pertama di Indonesia yang secara khusus mengangkat tema pelayanan kesehatan primer (primary health care).

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama BRIN mengumpulkan hampir 700 inovasi pelayanan kesehatan primer nasional. Temuan menjadi dasar pengembangan kebijakan cegah stunting nasional berkelanjutan.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, mengatakan seluruh inovasi itu dikumpulkan melalui Leimena Conference 2026. Endang menjelaskan acara tersebut merupakan konferensi ilmiah pertama di Indonesia yang mengangkat tema pelayanan kesehatan primer (primary health care).

“Kami menerima hampir 700 abstrak dari seluruh puskesmas, dinas kesehatan maupun akademisi dari seluruh Indonesia. Setelah dikurasi, sekitar 530 abstrak akan masuk dalam abstract book,” kata Maria Endang Sumiwi saat memberikan sambutan dalam konferensi pers Leimena Conference 2026 di Gedung Widya Graha BRIN, Jakarta Selatan, Senin, 27 Juli 2026.

Lebih lanjut, Maria menjelaskan praktik terbaik tenaga kesehatan dihimpun melalui konferensi. Bersama riset akademik memperkuat inovasi pelayanan kesehatan primer nasional.

“Apa yang dilakukan puskesmas, perawat maupun dinas kesehatan dengan inovasinya. Sehingga menghasilkan pelayanan yang lebih baik, semuanya kita kumpulkan agar bisa dipelajari bersama,” ujarnya.

Maria berharap berbagai inovasi tersebut mampu memperkuat upaya penanganan stunting dan penyakit tidak menular. Seperti stroke, penyakit jantung, serta gagal ginjal yang kini menjadi penyebab kematian terbesar di Indonesia.

“Melalui praktik-praktik baik ini kita ingin mengetahui seperti apa pelaksanaan cek kesehatan gratis yang paling efektif. Termasuk strategi terbaik dalam pencegahan stunting,” ucapnya.

Maria mengungkapkan prevalensi stunting Indonesia pada 2024 masih berada di angka 19,8 persen. Pencegahan harus dimulai sejak masa kehamilan melalui pemeriksaan rutin, pemenuhan gizi ibu hamil, pemberian Multiple Micronutrient Supplement (MMS), hingga pemantauan pertumbuhan balita di Posyandu.

Saat ini, data yang masuk dari Posyandu mencapai sekitar 12 juta balita setiap bulan. Pemerintah menargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi 16 juta balita agar pemantauan status gizi anak semakin optimal.

Sementara, Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Prof. Indi Dharmayanti menyatakan hasil penelitian kesehatan akan diselaraskan dengan agenda transformasi kesehatan nasional. Penyelarasan dilakukan mendukung program Kementerian Kesehatan.

“Hal itu juga termasuk melalui berbagai skema pendanaan nasional maupun kerja sama internasional. Langkah ini dilakukan agar hasil riset dapat diimplementasikan dalam pelayanan kesehatan,” kata Prof Indi.

Dukungan terhadap penyelenggaraan Leimena Conference 2026 juga datang dari WHO Regional Office for the Western Pacific (WPRO). Director of the Division of Health Systems and Services WHO WPRO, Lui Vinyal Torres, menilai Indonesia berada di jalur yang tepat dengan menjadikan pelayanan kesehatan primer sebagai prioritas reformasi kesehatan.

“Masih banyak kesenjangan riset dan implementasi pelayanan kesehatan primer yang perlu dibuktikan apakah benar-benar efektif di lapangan. Konferensi ini merupakan inisiatif yang sangat baik,” ujar Torres.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....