Ketahui Penyebab sering Terjadinya Kedutan Otot
- 02 Feb 2026 09:30 WIB
- Kupang
RRI.CO.ID, Kupang: Pernahkah Anda sedang bersantai di sofa, lalu tiba-tiba kelopak mata berkedut tanpa henti? Atau otot di lengan, kaki, bahkan telapak kaki terasa kejang selama beberapa detik, jam, atau bahkan berhari-hari?. Meski kerap dianggap sepele, kondisi ini sering menimbulkan rasa khawatir.
Faktanya, kedutan otot dialami sekitar 70 persen orang setidaknya sekali dalam hidupnya. Secara medis, kedutan otot terbagi menjadi dua jenis utama, yakni mioklonus dan fasikulasi.
Mioklonus terjadi ketika seluruh otot atau sekelompok otot mengalami kejang, sementara fasikulasi melibatkan serat otot tunggal yang berkedut, sering kali terlihat atau terasa di bawah kulit tanpa menggerakkan anggota tubuh. Banyak orang mengaitkan kedutan otot dengan penyakit serius seperti multiple sclerosis.
Kekhawatiran ini membuat sebagian orang menjalani pemeriksaan lanjutan, mulai dari pungsi lumbal hingga pemindaian MRI. Namun, dalam banyak kasus, kedutan otot ternyata dipicu oleh faktor-faktor sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut sciencealert, salah satu pemicu paling umum adalah konsumsi kafein berlebihan. Sebagai zat stimulan, kafein memengaruhi sistem saraf dan otot, memperlambat relaksasi otot serta meningkatkan pelepasan ion kalsium di dalam sel otot, akibatnya, pola kontraksi otot menjadi tidak normal dan memicu kedutan.
Selain kafein, zat stimulan lain seperti nikotin, kokain, dan amfetamin juga dapat menyebabkan kedutan otot karena mengganggu neurotransmiter yang mengatur fungsi otot. Beberapa obat resep, termasuk antidepresan, obat antikejang, obat tekanan darah, antibiotik, hingga anestesi, diketahui memiliki efek samping berupa gangguan otot.
Kedutan otot juga dapat disebabkan oleh kekurangan mineral, seperti kalsium, magnesium, dan kalium. Kondisi hipokalsemia atau rendahnya kadar kalsium dalam tubuh sering dikaitkan dengan kedutan, terutama di punggung dan kaki, salah satu tanda khasnya adalah tanda Chvostek, yakni kedutan di wajah yang muncul saat pipi diketuk di depan telinga.
Kekurangan magnesium juga berkontribusi pada kejang otot, terutama pada individu dengan pola makan buruk atau gangguan penyerapan usus seperti penyakit celiac. Sementara itu, kalium berperan penting dalam menjaga stabilitas sel otot, ketika kadarnya menurun, keseimbangan listrik sel terganggu dan otot menjadi lebih rentan mengalami kejang.
Tak kalah penting, dehidrasi dapat memicu kedutan otot karena mengganggu keseimbangan natrium dan kalium dalam tubuh. Kondisi ini sering terjadi saat berolahraga atau melakukan aktivitas fisik berat tanpa asupan cairan yang cukup.
Faktor psikologis juga berperan, stres dan kecemasan meningkatkan hormon adrenalin yang membuat sistem saraf berada dalam kondisi siaga tinggi. Lonjakan adrenalin ini dapat memicu kontraksi otot secara tidak sadar, bahkan ketika tubuh sedang beristirahat.
Selain itu, beberapa infeksi diketahui dapat menyebabkan kedutan dan kejang otot. Tetanus, misalnya, menyebabkan kondisi rahang kaku. Penyakit Lyme, serta infeksi lain seperti influenza, HIV, herpes simpleks, toksoplasmosis, dan sistiserkosis juga dikaitkan dengan gangguan pada saraf dan otot.
Jika berbagai penyebab serius telah disingkirkan, sebagian orang didiagnosis mengalami sindrom fasikulasi jinak, yakni kedutan otot tanpa penyakit mendasar yang dapat diidentifikasi. Kondisi ini diperkirakan memengaruhi sekitar 1 persen populasi sehat dan dapat berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.
Meski sering kali mengganggu, sebagian besar kedutan otot bukan tanda penyakit serius dan dapat dikelola dengan perubahan gaya hidup, pola makan seimbang, manajemen stres, serta istirahat yang cukup. Namun, jika kedutan berlangsung lama, disertai nyeri, kelemahan otot, atau gejala lain, pemeriksaan medis tetap dianjurkan untuk memastikan penyebabnya. (JR)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....