ISPA dan Diare Anak Meningkat Pascabencana Sumatra

  • 02 Des 2025 12:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Sumatra Barat, Asrawati melaporkan gangguan pernapasan anak mendominasi di wilayah Sumatra Barat. Dua lokasi pengungsian yang dikunjungi mencatat 80 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada anak.

Asrawati menjelaskan, timnya juga menemukan sejumlah penyakit lain meski jumlahnya tidak signifikan. “Ada empat kasus diare, enam kasus penyakit kulit, dan empat kasus morbili,” kata Asrawati dalam sesi Seminar Media IDAI secara daring, Selasa (2/12/2025).

Ia menyebut akses komunikasi dan koordinasi masih menjadi kendala dalam pengumpulan data. Banyak tenaga kesehatan daerah masih terfokus menangani pasien di rumah sakit.

Menurut Asrawati, keterbatasan personel juga membuat pelaporan berlangsung lambat. “Setiap RSUD hanya punya satu atau dua dokter anak, dan semuanya sedang bertugas,” ujarnya.

Wakil Ketua IDAI Sumatra Utara, Eka Erlangga menyebut penyakit berbasis air bersih masih mendominasi di lokasi pengungsian. Ia menyampaikan kasus diare dan infeksi kulit terus ditemukan pada anak-anak penyintas.

Ia menambahkan bahwa kondisi sanitasi yang terbatas membuat anak-anak rentan mengalami infeksi berulang. Petugas kesehatan juga terus melakukan pemantauan untuk mendeteksi kasus dengan gejala berat.

"Secara umum penyakit berbasis air bersih seperti diare, luka di kulit, itu mendominasi lokasi pengungsian di Sumatra Utara. Sudah kami tangani dengan pengelolaan pemberian air bersih dan pemberian obat-obatan sederhana dengan salep, dan sebagainya," ujar Eka.

Sementara Ketua IDAI Cabang Aceh, Raihan menyampaikan situasi serupa turut terjadi di wilayahnya. Akses tim medis baru mencapai daerah Pidie Jaya.

Raihan menjelaskan, sebagian fasilitas kesehatan di wilayah tersebut belum dapat beroperasi. “Kasus yang muncul sejauh ini masih didominasi ISPA dan diare,” katanya.

Ia menyebut ada temuan pneumonia dan luka terbuka pada beberapa anak penyintas. Kondisi ini serupa dengan temuan medis di wilayah Sumatra Utara.

Raihan menegaskan, kewaspadaan terhadap penyakit infeksi berbahaya harus ditingkatkan. “Kami antisipasi kemungkinan munculnya tetanus di lokasi pengungsian,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwa proses pendataan masih berlangsung karena sebagian tenaga kesehatan turut menjadi korban. Tim lapangan terus memperluas jangkauan untuk mendapatkan laporan terbaru.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....