Kasus Pneumonia di Pontianak Naik 20 Persen imbas Kabut Asap Karhutla

  • 29 Agt 2026 08:35 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kasus pneumonia di RS Bhayangkara Pontianak meningkat hingga 20 persen seiring memburuknya kualitas udara akibat karhutla.
  • Kabut asap berpotensi memperburuk gangguan pernapasan, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita asma.
  • Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas luar ruangan saat kualitas udara memburuk serta menggunakan masker jika harus keluar rumah.

RRI.CO.ID, Jakarta - Rumah Sakit Bhayangkara Anton Soedjarwo Pontianak, Kalimantan Barat, mencatat peningkatan kasus pneumonia hingga 20 persen. Peningkatan kasus ini seiring memburuknya kualitas udara di Pontianak akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Peningkatan kasus infeksi paru-paru tersebut menjadi perhatian rumah sakit untuk mengantisipasi bertambahnya pasien dengan gangguan pernapasan. Demikian disampaikan oleh Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Anton Soedjarwo Pontianak Kombes Pol drg. Josep Ginting.

"Sehingga rumah sakit mengantisipasi peningkatan kasus dengan menyiapkan tenaga kesehatan, alat medis. Adapun ruang perawatan, serta sistem koordinasi dengan rumah sakit lain," katanya dalam keterangan pers yang diterima RRI, Sabtu, 29 Agustus 2026.

Senada dengan drg. Josep Ginting, dokter spesialis paru Rumah Sakit Bhayangkara Anton Soedjarwo Pontianak dr. Andreas pun demikian. Ia mengatakan paparan kabut asap dapat memperburuk kondisi saluran pernapasan, kondisi ini juga dapat berkembang menjadi pneumonia.

Menurutnya, kelompok rentan, terutama anak-anak dan lansia, lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap. "Orang tua lebih banyak dan rentan terdampak pneumonia, bisa karena kabut asap ini," ujarnya.

Ia menjelaskan gejala awal akibat paparan asap antara lain batuk dan bersin. Gejala tersebut dapat muncul lebih cepat pada masyarakat yang memiliki alergi atau riwayat asma.

"Kalau paparan berlangsung terus-menerus dan tubuh tidak mampu mentoleransinya. Gejala dapat berkembang menjadi sesak napas," ucapnya.

Ia mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk. Jika harus beraktivitas di luar, masyarakat disarankan menggunakan masker.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....