Pemanis Sorbitol Dikaitkan dengan Risiko Perlemakan Hati

  • 28 Nov 2025 08:33 WIB
  •  Kupang

KBRN, Kupang: Para ilmuwan memperingatkan bahwa pemanis yang banyak ditemukan dalam produk “bebas gula” bisa meningkatkan risiko penyakit hati. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa konsumsi salah satu pemanis umum tersebut dapat memicu penumpukan sorbitol, zat yang kemudian memicu penimbunan lemak di hati.

Kondisi ini dapat berkembang menjadi MASLD (Metabolic dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease), penyakit yang sebelumnya dikenal sebagai fatty liver non-alkohol. Menurut British Liver Trust, MASLD kini memengaruhi satu dari lima orang di Inggris, namun para ahli menduga angka sebenarnya bisa mencapai 40 persen populasi, dengan sekitar 80 persen kasus tidak terdiagnosis.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science Signalling ini meneliti mikrobioma usus ikan zebra, yang berfungsi seperti ekosistem bakteri “baik” pada manusia. Bakteri tersebut penting dalam proses pencernaan, termasuk memecah sorbitol menjadi zat yang aman bagi tubuh.

Hasil studi menunjukkan, ketika mikrobioma usus terganggu, misalnya akibat penggunaan antibiotik, sorbitol tidak dapat dipecah dengan baik. Akibatnya, sorbitol menumpuk, bergerak menuju hati, dan menyebabkan perlemakan hati meski ikan diberi makanan normal.

Para peneliti menyimpulkan bahwa bakteri usus berperan penting dalam melindungi tubuh dari penyakit hati terkait gula, dan sorbitol sebagai pemanis dapat meningkatkan risiko apabila dikonsumsi berlebihan atau ketika bakteri usus menurun. Dr Gary Patti, profesor dari Universitas Washington, menjelaskan bahwa sorbitol merupakan bentuk turunan dari fruktosa, zat yang telah terbukti dapat memicu pertumbuhan sel kanker dan menyebabkan penyakit hati steatotik.

Ia menambahkan bahwa produksi sorbitol dalam tubuh meningkat saat kadar gula darah tinggi, yang menjelaskan kaitannya dengan diabetes. Jika mikrobioma usus tidak mampu memproses sorbitol dengan baik, zat tersebut akan diteruskan ke hati dan berubah menjadi fruktosa, memicu penumpukan lemak.

Menurut thesun, konsumsi sorbitol yang berlebihan, termasuk melalui produk berlabel “bebas gula”, dapat mengganggu keseimbangan bakteri usus. Bahkan bakteri “ramah” yang cukup sekalipun bisa kewalahan jika jumlah sorbitol terlalu tinggi.

Para peneliti menegaskan bahwa meski perlu penelitian lanjutan, anggapan bahwa pemanis bebas gula selalu lebih sehat dapat menyesatkan. Dalam jumlah besar, pemanis alternatif ternyata dapat memberi tekanan pada hati dan metabolisme, bahkan menyamai risiko konsumsi gula biasa.

Temuan ini menambah bukti bahwa konsumsi pemanis buatan harus tetap dibatasi. Gangguan mikrobioma usus dan peningkatan sorbitol dapat meningkatkan risiko berkembangnya MASLD, sebuah kondisi serius yang kini semakin banyak ditemukan, di sisi lain, para ahli mengingatkan bahwa pemanis buatan tetap memiliki risiko yang perlu dibandingkan secara bijak dengan gula, bukan dianggap sepenuhnya aman. (JR)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....