Gelombang Panas Rekor Landa Korea Selatan

  • 09 Jul 2025 21:57 WIB
  •  Batam

KBRN, Batam: Gelombang panas ekstrem melanda Korea Selatan dan mencatat suhu tertinggi awal Juli dalam sejarah pencatatan suhu di negara itu. Pada 8 Juli 2025, suhu di ibu kota Seoul mencapai 37,8°C, menjadikannya hari terpanas di awal Juli (1–10 Juli) sejak pencatatan dimulai 117 tahun lalu, menurut Badan Meteorologi Korea. Pemerintah Kota Seoul secara resmi menyatakan bahwa suhu ekstrem ini sebagai sebuah "bencana" yang mengancam kehidupan masyarakat.

Menurut data resmi yang dirilis 9 Juli 2025, lebih dari 1.200 orang telah mengalami gangguan kesehatan terkait panas sejak 15 Mei, dengan delapan kematian tercatat. Angka ini meningkat tajam dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024, di mana hanya 486 kasus dan tiga kematian yang tercatat. Pada 8 Juli saja, 238 orang dilarikan ke unit gawat darurat di seluruh negeri akibat kondisi yang dipicu oleh suhu panas berlebihan.

Pemerintah Korea Selatan segera merespons dengan memperketat pengawasan serta memperkuat langkah-langkah pencegahan untuk mengurangi risiko korban jiwa. Pihak berwenang juga meningkatkan layanan kesehatan darurat dan memperingatkan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak, untuk menghindari aktivitas luar ruangan selama siang hari. Selain itu, tempat penyejuk darurat (cooling centers) telah diaktifkan di berbagai wilayah.

Kondisi ini menambah daftar panjang dampak perubahan iklim yang kian terasa di Korea Selatan. Sebelumnya di tahun 2025, negara ini juga mengalami kebakaran hutan paling mematikan dalam sejarahnya akibat kombinasi angin kencang dan kekeringan ekstrem. Selain itu, muncul pula fenomena invasi serangga “lovebug” yang memperparah situasi lingkungan dan menimbulkan aroma busuk serta tumpukan bangkai serangga.

Tekanan dari masyarakat, khususnya para aktivis muda lingkungan, turut mendorong perubahan. Pada 2024, Mahkamah Konstitusi Korea Selatan menyatakan bahwa target iklim pemerintah tidak cukup ambisius untuk melindungi masa depan generasi muda. Putusan ini memaksa pemerintah merevisi target iklimnya. Fenomena serupa terjadi di Eropa, di mana para ilmuwan menyimpulkan bahwa gelombang panas terbaru diperparah oleh perubahan iklim yang disebabkan manusia, membuat suhu meningkat hingga 4°C lebih tinggi di berbagai kota dan menyebabkan risiko kematian meningkat drastis.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....