Mutiara Pagi: Bersyukur Adalah Cara Menjaga Hati Tetap Tenang

  • 05 Okt 2026 08:55 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari - Bersyukur menjadi salah satu sikap penting yang perlu terus ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari. Bersyukur bukan hanya sebatas mengucapkan kalimat “Alhamdulillah” ketika mendapatkan rezeki atau sesuatu yang menyenangkan, tetapi juga menyadari bahwa setiap nikmat yang dimiliki merupakan karunia Allah SWT.

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam program Mutiara Pagi RRI Pro 1 Kendari, Senin 5 Oktober 2026 yang mengangkat topik tentang bersyukur. Dalam dialog tersebut dijelaskan, terdapat sejumlah makna penting dari rasa syukur, di antaranya mengakui nikmat Allah, menghadirkan perasaan positif dalam diri, serta menggunakan nikmat yang diberikan untuk hal-hal yang baik.

Narasumber menjelaskan, mengakui nikmat Allah berarti menyadari bahwa kehidupan yang dijalani tidak terlepas dari berbagai karunia. Mulai dari nikmat iman, kesehatan, keluarga, rezeki, ilmu, kesempatan, hingga kemampuan untuk bekerja dan menjalani kehidupan. Kesadaran tersebut menjadi dasar bagi seseorang untuk tidak mudah merasa kekurangan.

Hal ini juga menjadi perhatian ketika salah seorang pendengar, Pak Saide dari Anduonohu, menyampaikan pertanyaan mengenai seseorang yang memiliki penghasilan lebih dari yang diharapkan, tetapi masih sering mengatakan bahwa usahanya belum maksimal dan selalu merasa kurang.

Menanggapi hal tersebut, narasumber menjelaskan bahwa bersyukur tidak berarti seseorang harus berhenti memiliki target atau keinginan untuk berkembang. Menurutnya, seseorang tetap diperbolehkan berusaha meningkatkan penghasilan, tetapi usaha tersebut harus disertai dengan kesadaran bahwa rezeki yang telah diterima merupakan nikmat dari Allah SWT.

“Pada hakikatnya, salah satu makna bersyukur adalah mengakui nikmat Allah. Nikmat iman, kesehatan, keluarga, rezeki, termasuk kemampuan dan kesempatan yang diberikan kepada kita untuk bekerja dan berusaha,” jelas narasumber.

Amin menyebut, seseorang yang bersyukur tetap dapat memiliki cita-cita dan target yang lebih tinggi. Namun, keinginan tersebut tidak boleh membuat hati terus-menerus merasa kekurangan. Rezeki yang sudah diterima perlu dihargai dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Sementara itu, pertanyaan lain disampaikan Ibu Murni dari Wua-Wua yang menanyakan hubungan antara bersyukur dengan ketenangan hati. Ia juga mempertanyakan mengapa orang yang belajar bersyukur cenderung lebih mampu menerima keadaan dalam kehidupannya.

Narasumber menjelaskan, salah satu hal yang sering membuat manusia merasa tidak tenang adalah kebiasaan membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain. Ketika seseorang terus melihat apa yang dimiliki orang lain, sementara lupa terhadap nikmat yang telah dimiliki, maka perasaan kurang akan semakin besar.

“Ketika kita membandingkan standar hidup orang lain dengan hidup kita, sering kali yang muncul adalah rasa kurang. Kita melihat keberhasilan orang lain, kemudian lupa melihat begitu banyak nikmat yang sudah Allah berikan kepada diri kita,” ungkapnya.

Menurut narasumber, bersyukur mengajarkan manusia untuk lebih menghargai apa yang telah dimiliki. Syukur bukan berarti tidak memiliki masalah ataupun berhenti berusaha. Sebaliknya, rasa syukur dapat menjadi kekuatan agar seseorang tetap menjalani kehidupan dengan optimistis, tanpa terus-menerus dikuasai oleh rasa kurang.

Pertanyaan berikutnya datang dari Pak Firman di Lepo-Lepo yang menanyakan bagaimana seseorang tetap dapat bersyukur ketika menghadapi kesulitan, sementara keadaan yang dihadapi terasa berat dan mengecewakan.

Menjawab pertanyaan tersebut, narasumber mengakui bahwa setiap manusia memiliki masa ketika kehidupan terasa berat. Kesulitan ekonomi, pekerjaan, keluarga, maupun berbagai persoalan lainnya dapat membuat seseorang merasa sedih dan kecewa. Namun, kondisi tersebut tidak semestinya membuat seseorang melupakan seluruh nikmat yang masih dimiliki. “Memang tidak bisa dipungkiri, ada waktu-waktu tertentu kita merasa berat dalam hidup ini. Merasa sedih, kecewa, atau berat bukan berarti kita tidak bersyukur. Itu bagian dari manusia. Yang penting adalah bagaimana kita menghadapi keadaan tersebut,” jelasnya.

Amin menambahkan, rasa syukur dapat menjadi kekuatan ketika seseorang sedang menghadapi ujian. Manusia tetap diperbolehkan merasakan kesedihan, tetapi setelah itu perlu kembali mengingat Allah, menyadari nikmat yang masih ada, dan berusaha mencari jalan keluar dari persoalan yang dihadapi.

Dengan demikian, bersyukur bukan hanya dilakukan ketika mendapatkan sesuatu yang menyenangkan. Syukur juga menjadi sikap yang membantu seseorang tetap kuat ketika menghadapi ujian. Dengan bersyukur, seseorang belajar menerima keadaan, tetap berusaha, serta meyakini bahwa setiap fase kehidupan memiliki hikmah yang dapat menjadi pelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....