BMKG Deteksi 100 Hotspot Tersebar di Sultra
- 30 Agt 2026 20:38 WIB
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi 100 titik panas atau hotspot di wilayah Sulawesi Tenggara pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Titik panas tersebut terpantau melalui pemantauan satelit pada periode pukul 00.00 hingga 23.00 Wita. Dari jumlah tersebut, 96 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah dan empat titik pada tingkat kepercayaan rendah.
Tidak ditemukan hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi dalam pemantauan tersebut. BMKG menegaskan, keberadaan titik panas belum dapat langsung diartikan sebagai kebakaran yang telah terjadi.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Sultra Kusairi menjelaskan, data hotspot diperoleh melalui sejumlah satelit polar, di antaranya NOAA-20, Suomi NPP, Terra dan Aqua.
“Pemantauan titik panas merupakan salah satu upaya untuk mengidentifikasi wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Namun, keberadaan titik panas tidak serta-merta menunjukkan bahwa telah terjadi kebakaran,” jelas Kusairi dalam keterangan resminya, Kamis, 27 Agustus 2026.
Berdasarkan sebarannya, Kabupaten Konawe menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 36 titik. Jumlah tersebut terdiri atas dua titik dengan tingkat kepercayaan rendah dan 34 titik dengan tingkat kepercayaan menengah.
Kabupaten Muna berada di urutan berikutnya dengan 19 titik panas, seluruhnya berada pada tingkat kepercayaan menengah. Selanjutnya Kolaka Timur mencatat 10 titik, Buton Utara tujuh titik dan Muna Barat enam titik.
Sementara itu, Bombana, Konawe Selatan, Konawe Utara dan Wakatobi masing-masing terdeteksi empat titik panas. Kabupaten Kolaka tercatat tiga titik, Buton dua titik dan Kota Kendari satu titik.
Adapun wilayah yang tidak terdeteksi hotspot dalam pemantauan tersebut meliputi Kota Baubau, Buton Selatan, Buton Tengah, Kolaka Utara dan Konawe Kepulauan.
BMKG mengingatkan data hotspot hanya menjadi indikator awal dalam mendeteksi potensi Karhutla. Hasil pemantauan satelit tetap membutuhkan konfirmasi di lapangan untuk memastikan apakah titik panas benar-benar berkaitan dengan kebakaran.
Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena sebagian wilayah Sultra masih berada dalam periode musim kemarau. Kondisi cuaca yang lebih kering dapat meningkatkan kerawanan terhadap munculnya kebakaran hutan dan lahan.
Masyarakat, khususnya yang berada di wilayah dengan sebaran hotspot cukup tinggi, diimbau meningkatkan kewaspadaan serta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Pemantauan hotspot akan terus dilakukan sebagai bagian dari upaya deteksi dini. Informasi tersebut diharapkan dapat membantu pemerintah daerah dan masyarakat mengambil langkah pencegahan lebih cepat sebelum potensi kebakaran berkembang menjadi kejadian yang lebih luas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....