Cegah Penularan TBC Kelurahan Alolama Gelar Skrining Massal

  • 07 Sep 2026 20:33 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari — Kelurahan Alolama lama bekerja sama dengan Puskesmas Labibia menggelar pemeriksaan dan skrining kesehatan massal guna mengantisipasi serta mencegah penularan penyakit Tuberkulosis (TBC) di wilayah Kecamatan Mandonga.

Lurah Alolama, Isran, S.H, menyatakan bahwa kegiatan ini dilaksanakan sebagai langkah proaktif pemerintah setempat bersama pihak medis untuk memetakan kondisi kesehatan masyarakat serta memastikan wilayahnya bebas dari penularan TBC.

"Kami berkoordinasi dengan Kepala Puskesmas Labibia dan melibat seluruh ketua RT dan RW untuk mengimbau warga hadir. Target awal kami 100 orang yang mengikuti pemeriksaan ini," ujarnya, Senin 7 September 2026.

Meski target awal dipatok untuk 100 peserta, partisipasi masyarakat ternyata sangat tinggi. Isran mengungkapkan jumlah warga yang datang memeriksakan diri justru melebihi kapasitas yang disiapkan.

"Alhamdulillah masyarakat sangat antusias. Awalnya target hanya 100 orang, tapi yang datang melebihi estimasi sampai pihak penyelenggara sempat kewalahan. Namun seluruh rangkaian kegiatan tetap bisa diselesaikan dengan baik," tambahnya.

Melihat tingginya kesadaran warga, pihak Puskesmas Labibia berencana menindaklanjuti program ini dengan melakukan pemeriksaan secara berkala langsung ke tingkat RT.

Dokter Puskesmas Labibia, Amry Adi Haris, menjelaskan gejala awal TBC umumnya ditandai batuk yang berlangsung selama dua minggu atau lebih.

“Gejala awal TBC itu biasanya disertai batuk selama dua minggu. Batuknya sering kali mengeluh kering dan terjadi terus-menerus. Kemudian ada keringat pada malam hari, serta kadang disertai demam yang tidak terlalu tinggi. Nafsu makan menurun dan berat badan biasanya ikut turun. Pada orang dewasa, keluhan batuk lebih menonjol. Namun pada anak-anak, yang lebih menonjol adalah pembesaran kelenjar dan berat badan yang tidak kunjung naik. Itu yang menjadi indikator awal untuk mencurigai adanya TBC” jelasnya.

Amry mengatakan TBC disebabkan oleh kuman TBC dan bukan penyakit keturunan, sedangkan pengobatannya telah disiapkan pemerintah secara gratis, namun pasien harus menjalani pengobatan secara teratur karena ketidakpatuhan dapat menyebabkan kuman menjadi kebal terhadap obat dan membutuhkan pengobatan yang lebih kuat serta lebih lama.

Ia mengimbau masyarakat menggunakan masker bagi yang sedang batuk serta menjaga sirkulasi udara dengan membuka jendela dan ventilasi rumah pada siang hari, karena penularan TBC dapat terjadi melalui percikan yang terbawa udara, sementara kondisi ruangan yang lembap dapat membuat kuman lebih mudah bertahan.

Menurut Amry, perubahan cuaca pada musim kemarau secara umum tidak memengaruhi kuman TBC, namun udara yang kering dan berdebu dapat membuat masyarakat lebih mudah mengalami batuk, sehingga apabila penderita TBC batuk, kuman dapat lebih mudah tersebar dan menulari orang dengan daya tahan tubuh yang menurun.

Dalam kesempatan tersebut, Isran juga mengimbau warga yang mengalami indikasi gangguan kesehatan, seperti batuk berlanjut, agar tidak ragu mendatangi fasilitas kesehatan terdekat.

Ia menegaskan bahwa pihak kelurahan bertugas menggerakkan dan memfasilitasi warga, sedangkan penentuan diagnosis medis sepenuhnya merupakan kewenangan pihak Puskesmas.

"Kami menyarankan kepada RT dan warga, jika ada yang mengalami gejala atau batuk, segera periksa ke Puskesmas Labibia. Yang bisa menentukan apakah itu TBC atau bukan adalah tenaga medis. Harapan kita bersama, wilayah Kelurahan Alolama dan Kecamatan Mandonga secara keseluruhan benar-benar bersih dari TBC," tutupnya.

Penulis: Roy Aldika

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....