Ekonomi Sultra Tumbuh 6,19 Persen, Pertanian dan Industri Jadi Penopang

  • 27 Agt 2026 19:13 WIB
  •  Kendari
Poin Utama
  • Ekonomi Sulawesi Tenggara tumbuh 6,19 persen year-on-year pada triwulan II 2026, mengalami sedikit perlambatan dari triwulan I 2026 yang mencapai 6,23 persen.
  • Pertumbuhan ekonomi Sultra tetap berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,29 persen pada periode yang sama.
  • Kepala Seksi Kehumasan Bank Indonesia Sulawesi Tenggara, Zulpan Riski Amanda, menyampaikan data pertumbuhan ekonomi regional tersebut kepada media.

RRI.CO.ID, Kendari - Ekonomi Sulawesi Tenggara pada triwulan II 2026 tumbuh sebesar 6,19 persen secara tahunan atau year on year (yoy), meskipun mengalami sedikit perlambatan dibandingkan triwulan I 2026 yang mencapai 6,23 persen.

Kepala Seksi Kehumasan Bank Indonesia Sulawesi Tenggara, Zulpan Riski Amanda, mengatakan pertumbuhan ekonomi Sultra pada triwulan II 2026 masih berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,29 persen.

“Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara pada triwulan II 2026 tetap menunjukkan kinerja yang positif dengan pertumbuhan 6,19 persen secara tahunan, meskipun sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya,” ujar Zulpan.

Dari sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi Sultra terutama didorong oleh sektor industri pengolahan, konstruksi, perdagangan besar dan eceran, serta pertanian, kehutanan, dan perikanan.

Sementara dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), konsumsi pemerintah, ekspor, dan konsumsi rumah tangga.

Zulpan menjelaskan, sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang memiliki potensi besar untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi Sultra ke depan melalui peningkatan produktivitas dan hilirisasi.

“Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara ke depan masih dapat diperkuat melalui akselerasi sektor pertanian serta perluasan konstruksi dan industri, dengan tetap memperhatikan berbagai tantangan eksternal dan kondisi global,” katanya.

Salah satu potensi pengembangan sektor pertanian yakni program peremajaan 38 juta bibit kelapa dan kakao serta optimalisasi 8.200 hektare lahan di Kolaka Utara yang diharapkan dapat memperluas lapangan kerja dan memperkuat ketahanan ekonomi daerah.

Selain pertanian, sektor konstruksi dan investasi juga terus berkembang, salah satunya didorong pembangunan kawasan industri nikel di Kolaka serta pembangunan fasilitas pemurnian dan infrastruktur pendukung.

Namun, pertumbuhan ekonomi Sultra masih menghadapi sejumlah faktor penahan, terutama industri pengolahan nikel yang terdampak pemangkasan RKAB 2026 dan kenaikan harga sulfur global.

Kenaikan harga sulfur berpengaruh terhadap biaya produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), dengan sulfur menjadi salah satu komponen terbesar dalam struktur biaya produksi, yakni sekitar 56 persen.

“Kenaikan harga sulfur menjadi salah satu tantangan bagi industri pengolahan nikel karena berpengaruh terhadap struktur biaya produksi dan margin keuntungan industri,” jelas Zulpan.

Bank Indonesia Sultra menilai penguatan sektor pertanian, konstruksi, investasi, serta diversifikasi sumber pertumbuhan perlu terus dilakukan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....