Mutiara Pagi: Budaya Hedonisme Menjadi Ancaman Moral di Era Modern

  • 24 Agt 2026 06:22 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari - Budaya hedonisme menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi masyarakat modern saat ini. Arus informasi yang begitu cepat melalui media sosial turut mendorong munculnya gaya hidup yang mengutamakan kesenangan, kemewahan, dan kepuasan duniawi semata. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam program Mutiara Pagi RRI yang menghadirkan narasumber Dr. H. Samsuri, S.Ag., M.Pd.

Dalam dialog tersebut, Dr. Samsuri menjelaskan bahwa hedonisme merupakan pandangan hidup yang menjadikan kesenangan dan kenikmatan dunia sebagai tujuan utama kehidupan. Menurutnya, seseorang yang terjebak dalam budaya hedonisme akan mengukur kebahagiaan berdasarkan materi, kemewahan, serta pengakuan dari lingkungan sekitar.

"Budaya hedonisme ini merupakan salah satu fenomena yang paling meresahkan dalam kehidupan masyarakat saat ini. Hedonisme adalah pandangan hidup yang menjadikan kesenangan, kenikmatan, dan kepuasan duniawi sebagai tujuan utama dalam hidup, sehingga nilai-nilai spiritual dan moral sering kali terabaikan," ujar Dr. Samsuri.

Dr.Samsuri menjelaskan, terdapat tiga ciri utama yang menjadi manifestasi budaya hedonisme dalam kehidupan sehari-hari. Pertama adalah konsumerisme yang berlebihan atau gaya hidup boros. Dalam ajaran Islam, perilaku tersebut dikenal sebagai israf, yakni menggunakan harta secara berlebihan dan melampaui batas kebutuhan.

"Islam melarang sikap israf karena dapat menumbuhkan sifat berlebihan dan menjauhkan seseorang dari sikap sederhana yang dicintai Allah SWT," katanya.

Ciri kedua adalah kecenderungan mencari validasi melalui popularitas, pujian, dan pengakuan dari orang lain. Dalam Islam, perilaku tersebut berkaitan dengan riya dan sum'ah, yaitu melakukan sesuatu agar dipuji atau diketahui banyak orang.

"Ketika seseorang lebih mementingkan pencitraan daripada keikhlasan, maka ia sedang terjebak dalam penyakit riya dan sum'ah. Amal yang dilakukan bukan lagi karena Allah, tetapi demi memperoleh perhatian manusia," jelasnya.

Sementara itu, ciri ketiga adalah kecanduan terhadap kesenangan yang melalaikan. Dalam istilah Islam dikenal dengan lahwun, yaitu aktivitas yang membuat seseorang lalai dari mengingat Allah dan kewajibannya sebagai seorang muslim.

Menurut Dr. Samsuri, kondisi tersebut telah diingatkan Allah SWT dalam Al-Qur'an Surah Al-Hadid ayat 20 yang menjelaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga-bangga, serta berlomba dalam kekayaan dan keturunan.

"Allah SWT telah mengingatkan dalam Surah Al-Hadid ayat 20 bahwa kehidupan dunia ini hanyalah permainan, hiburan, perhiasan, saling bermegah-megahan, dan berlomba-lomba dalam harta serta anak-anak. Ayat ini bukan melarang manusia hidup di dunia, tetapi mengingatkan agar dunia tidak menjadi tujuan akhir kehidupan," ungkapnya.

Dr. Samsuri mengajak masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam menyikapi perkembangan zaman dan tidak menjadikan ukuran kebahagiaan semata-mata berdasarkan materi. Ia menegaskan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat, sehingga setiap muslim harus mampu mengendalikan keinginan serta menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama dalam hidup.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....