Gubernur Sultra Minta Posko Bencana Segera Diaktifkan Hadapi Karhutla

  • 26 Agt 2026 13:32 WIB
  •  Kendari

RRI.CO.ID, Kendari – Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Andi Sumangerukka meminta seluruh pemerintah kabupaten dan kota segera mengaktifkan posko siaga bencana untuk mengantisipasi ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta kekeringan.

Permintaan tersebut disampaikan saat Andi Sumangerukka memimpin Apel Siaga dan Simulasi Penanggulangan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan serta Kekeringan Provinsi Sultra Tahun 2026 di Lapangan Upacara Kantor Gubernur Sultra, Rabu 26 Agustus 2026.

Gubernur menegaskan kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak boleh berhenti pada kegiatan apel dan simulasi, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata di lapangan.

“Jangan kita hanya berhenti di apel siaga dan simulasi, tapi betul-betul menganggap bahwa kita betul-betul siap menghadapi bencana itu,” tegas Andi Sumangerukka.

Menurutnya, ancaman Karhutla dan kekeringan setiap musim kemarau perlu diantisipasi dengan strategi yang terukur. Perubahan iklim global juga membuat kondisi cuaca semakin sulit diprediksi sehingga diperlukan penguatan upaya pencegahan dan pengurangan risiko bencana.

Andi Sumangerukka menyebut paradigma penanggulangan bencana saat ini telah bergeser dari pola reaktif menuju pencegahan. Kesiapsiagaan harus didukung data, perkembangan ilmu pengetahuan, perencanaan terpadu serta sistem komando lapangan yang jelas.

Berdasarkan laporan Stasiun Klimatologi BMKG Sultra pada Juli 2026 dan pemetaan dalam Dokumen Kajian Risiko Bencana Provinsi Sultra 2022-2026, terdapat tujuh daerah yang memiliki risiko tinggi Karhutla.

Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Kolaka, Konawe, Konawe Selatan, Bombana, Buton Tengah, Kota Kendari dan Kota Baubau. Sementara seluruh kabupaten dan kota di Sultra berada pada tingkat risiko tinggi terhadap bencana kekeringan.

Kondisi tersebut perlu diwaspadai menjelang puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung pada September hingga Oktober 2026. Durasi kekeringan diperkirakan dapat mencapai 21 dasarian.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, gubernur meminta seluruh bupati dan wali kota melalui BPBD masing-masing segera mengaktifkan posko siaga bencana.

Koordinasi lintas sektor juga diminta diperkuat, terutama dalam pengamanan sektor pangan, sumber daya air dan bendungan, energi serta lingkungan.

Pada wilayah yang rawan Karhutla, patroli terpadu dan deteksi dini titik panas harus ditingkatkan. Dinas Kehutanan, Manggala Agni, BKSDA, TNI dan Polri diminta memperkuat pengawasan, terutama di wilayah berisiko tinggi dan kawasan hutan lindung.

“Di setiap ada laporan titik api, tim Satgas Pemadam Kebakaran harus segera tiba di lokasi sebelum api membesar,” ujarnya.

Selain langkah pencegahan, Andi Sumangerukka menekankan pentingnya penegakan hukum terhadap pihak yang sengaja maupun lalai melakukan pembakaran hutan dan lahan. Sosialisasi larangan membuka lahan dengan cara membakar juga perlu terus dilakukan kepada masyarakat.

Pemerintah daerah diminta menyiapkan langkah antisipasi terhadap potensi krisis air, termasuk menyediakan sumber air alternatif dan armada truk tangki untuk distribusi air bersih di wilayah yang mengalami kekeringan.

Fasilitas kesehatan juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan untuk mengantisipasi gangguan kesehatan yang dapat muncul akibat kondisi lingkungan dan debu selama musim kemarau.

Pemanfaatan teknologi menjadi bagian penting dalam sistem mitigasi bencana. BPBD Sultra diminta mengoptimalkan data, pemantauan satelit BMKG, big data serta aplikasi digital Lapor Bencana secara real-time sebagai dasar pengambilan keputusan.

Gubernur menilai keberhasilan penanggulangan bencana membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, termasuk masyarakat. Karena itu, pemerintah kabupaten dan kota diminta memastikan ketersediaan anggaran, sarana mitigasi dan logistik menghadapi potensi bencana.

“Pencegahan itu jauh lebih baik daripada kita melakukan pengobatan,” kata Andi Sumangerukka.

Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penyerahan bantuan sarana mitigasi berupa mesin penyedot air sebagai dukungan pemerintah dalam menghadapi potensi kekeringan di Sultra.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....