Hadapi Perubahan Zaman, Pesantren Tebuireng Dorong Pembelajaran Berbasis Riset

  • 28 Sep 2026 23:42 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Jombang - Pesantren Tebuireng, Jombang, mendorong penguatan pembelajaran berbasis riset untuk menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan yang berlangsung cepat. Pendekatan ini diarahkan agar peserta didik tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu mengidentifikasi persoalan, mengolah data, berpikir kritis, dan menemukan solusi berdasarkan proses ilmiah.

Kepala Bidang Riset, Inovasi, Pengembangan, dan Penjaminan Mutu Pesantren Tebuireng, Abdul Ghofur, mengatakan perubahan ilmu pengetahuan menuntut lembaga pendidikan untuk terus beradaptasi. Menurutnya, riset menjadi salah satu cara agar pembelajaran tetap relevan dengan perkembangan zaman.

“Perubahan ilmu pengetahuan berlangsung sangat cepat. Karena itu, Tebuireng perlu memperkuat riset, terutama riset yang berkaitan dengan proses pembelajaran,” ujarnya, Senin, 28 September 2026.

Menurut Abdul Ghofur, pesantren memiliki kekuatan dari sisi tradisi dan nilai pendidikan. Namun, keunggulan tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan mengikuti perubahan. Tantangannya adalah mempertahankan identitas pesantren sekaligus memenuhi tuntutan perkembangan zaman melalui integrasi, inovasi, dan riset.

“Pesantren memiliki banyak keunggulan, tetapi jika tidak mengikuti perkembangan zaman bisa tertinggal. Karena itu, identitas pesantren dan tuntutan perubahan perlu dipertemukan melalui integrasi, inovasi, serta riset,” katanya.

Dalam konsep Research Based School atau RBS, peserta didik didorong terlibat dalam proses penelitian, mulai dari menemukan persoalan, mengumpulkan data, menganalisis informasi, hingga menghasilkan karya. Pendekatan tersebut juga dapat dikembangkan melalui diskusi, pendampingan peneliti, maupun penggunaan hasil riset sebagai bahan pengembangan pembelajaran.

“Sekolah berbasis riset berarti riset menjadi salah satu cara untuk memahami sekaligus menyelesaikan persoalan yang dihadapi,” jelas Abdul Ghofur.

Budaya riset tidak hanya ditujukan kepada siswa, tetapi juga guru dan pengelola sekolah. Bagi guru, penelitian dapat digunakan untuk mencari solusi persoalan pembelajaran, mengembangkan metode dan model belajar, menyusun bahan ajar serta instrumen penilaian. Sementara siswa dapat melakukan riset di bidang sains, sosial-humaniora, teknologi, robotika, keagamaan, hingga lingkungan.

Abdul Ghofur menekankan, persoalan pendidikan perlu ditangani berdasarkan bukti empiris, bukan sekadar asumsi. Misalnya, ketika siswa mengantuk saat pembelajaran, guru perlu mencari penyebabnya melalui pengamatan dan penelitian sebelum menentukan solusi.

“Kalau ada siswa mengantuk, jangan langsung menyimpulkan penyebabnya. Persoalannya perlu dicari tahu terlebih dahulu berdasarkan data dan bukti,” ucapnya.

Penerapan pembelajaran berbasis riset dapat menggunakan sejumlah model, seperti project-based learning, problem-based learning, inquiry, discovery learning, dan pembelajaran kooperatif. Pendekatan tersebut diarahkan untuk membangun kemampuan memecahkan masalah, berpikir kritis dan kreatif, serta bekerja sama.

Menurut Abdul Ghofur, penguatan budaya riset juga menuntut perubahan peran guru. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi menjadi pembimbing yang membantu siswa mengembangkan penelitian dan menghasilkan karya. Guru yang mampu mengembangkan pembelajaran sekaligus menghasilkan karya ilmiah juga didorong untuk mendapatkan apresiasi.

“Membiasakan riset memang tidak mudah, terutama jika pembelajaran masih satu arah. Tetapi ketika proses belajar dilakukan secara ilmiah, riset akan lebih mudah dikembangkan,” katanya.

Pesantren Tebuireng mengarahkan pengembangan budaya tersebut melalui pembaruan visi, misi, tujuan, dan strategi pendidikan menuju Research Based Learning atau RBL. Implementasinya diharapkan menghasilkan pembelajaran berbasis riset, guru yang inovatif, siswa yang kritis dan kreatif, serta pengambilan keputusan pendidikan yang didasarkan pada data.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....