Muktamar NU 35, Bedah Kiprah Shinta Nuriyah dan Advokasi Perempuan
- 29 Agt 2026 16:44 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Jombang – Kiprah Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dalam pemberdayaan dan advokasi perempuan menjadi sorotan dalam pembahasan rangkaian agenda Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang. Perjalanannya tidak hanya dikenal sebagai istri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, tetapi juga mencakup pendidikan pesantren, pengalaman jurnalistik, dan aktivitas sosial.
Penulis Biografi Shinta Nuriyah, Achmad Mukafi Niam, mengatakan Shinta memiliki perjalanan dan kontribusi yang berdiri sendiri. Selama ini, sosoknya lebih banyak dipersepsikan sebagai pendamping Gus Dur sehingga kiprah personalnya belum banyak diketahui masyarakat.
“Bu Shinta memiliki legacy sendiri. Beliau bukan sekadar bayang-bayang Gus Dur, tetapi justru memiliki peran yang melengkapi perjalanan Gus Dur,” ujar Niam, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Menurut Niam, kepedulian Shinta terhadap pendidikan dan pemberdayaan perempuan terbentuk dari perjalanan hidupnya sejak di Jombang. Ia tumbuh di lingkungan pesantren, pernah belajar di Tebuireng dan Denanyar, serta membantu berbagai kegiatan Muslimat NU yang dilakukan ibunya. Pendidikan kemudian dilanjutkan di Madrasah Muallimat, Sunan Kalijaga, hingga Krapyak dan tetap diteruskan setelah menikah, termasuk hingga jenjang magister.
Pengalaman sebagai wartawan di Jakarta turut membentuk perjalanan intelektual Shinta sebelum aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan advokasi. Bagi Shinta, pemberdayaan perempuan tidak cukup dilakukan dengan memberikan bantuan, tetapi harus disertai pendidikan untuk membangun kapasitas dan kemandirian.
“Pemberdayaan tidak hanya berupa bantuan. Pendidikan penting agar perempuan memiliki pengetahuan, kapasitas, dan kemampuan untuk mandiri,” katanya.
Menurut Niam, kiprah Shinta yang tidak sepopuler Gus Dur juga dipengaruhi pilihan ruang pengabdiannya. Jika Gus Dur banyak berada di ruang publik, Shinta lebih memilih bekerja langsung di tengah masyarakat tanpa menjadikan sorotan media sebagai ukuran keberhasilan.
“Bu Shinta tidak membutuhkan validasi media. Bagi beliau, yang utama adalah substansi dan manfaat dari kerja yang dilakukan,” ujar Niam.
Penulis lainnya, Syaifullah Amin, menyebut kepedulian terhadap kelompok marginal, khususnya perempuan, menjadi salah satu karakter kuat Shinta. Sebagai anak sulung dari 12 bersaudara, ia sejak kecil terbiasa membantu orang tua dan merawat adik-adiknya, yang kemudian berkembang menjadi kepedulian sosial yang lebih luas.
Salah satu bentuknya diwujudkan melalui tradisi sahur keliling yang dijalankan sejak Gus Dur menjadi presiden. Menurut Amin, kegiatan tersebut menjadi sarana berbagi sekaligus membangun empati kepada masyarakat yang membutuhkan, termasuk kelompok marginal dan masyarakat lintas agama.
Shinta juga turut mendirikan Puan Amal Hayati, lembaga yang memberikan pendampingan kepada perempuan korban kekerasan dan ketidakadilan. Kiprah tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya dalam memperjuangkan perlindungan dan pemberdayaan perempuan.
Amin juga menggambarkan Shinta sebagai sosok yang konsisten menjalankan tirakat, pekerja keras, dan adaptif. Sejak muda, ia terbiasa menjalankan puasa sunah, membaca Al-Qur'an, dan bershalawat. Ia juga pernah membantu usaha ibunya sebagai perias pengantin hingga menjalani pekerjaan sederhana seperti berjualan es dan jajanan ketika berada di Jombang.
Pengalaman bekerja sebagai wartawan kemudian memperluas aktivitasnya di bidang advokasi. Bahkan setelah mengalami kecelakaan yang menyebabkan keterbatasan fisik, Shinta tetap melanjutkan aktivitas belajar dan berkarya.
Perjalanan hidup dan kiprah tersebut kemudian dituangkan dalam Biografi Shinta Nuriyah yang ditulis Niam dan Syaifullah Amin. Buku tersebut dikerjakan selama sekitar delapan tahun, melalui proses panjang termasuk pandemi dan pemeriksaan naskah secara berulang untuk menggambarkan perjalanan Shinta secara lebih utuh.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....