Gubernur Khofifah Buka Pameran dan Klinik Turots di Ponpes Tambakberas
- 27 Agt 2026 15:24 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Jombang – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa membuka Pameran dan Klinik Turots di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Kamis, 27 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama sekaligus ruang untuk memperkenalkan dan mengkaji warisan intelektual ulama Nusantara.
Pameran dan Klinik Turots tersebut dibuka bersama Wakil Rais Aam Syuriah PBNU KH Afifuddin Muhajir dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi. Kegiatan itu turut dihadiri Rais Syuriah PBNU KH Syadid Jauhari, tim Nahdlatut Turots, serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Khofifah mengatakan keberadaan turots perlu terus dihidupkan melalui kajian dan pengembangan. Menurutnya, warisan tersebut bukan sekadar peninggalan sejarah, tetapi menjadi bagian dari kesinambungan tradisi keilmuan ulama Nusantara.
“Turots bukan hanya peninggalan masa lalu. Ini merupakan mata rantai keilmuan ulama Nusantara yang harus terus dihidupkan, dikaji, dan dikembangkan sehingga dapat menjadi referensi bagi dunia,” ujar Khofifah.
Khofifah mengungkapkan, pengembangan teknologi preservasi menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan manuskrip yang telah mengalami kerusakan. Ia pernah menemukan metode yang memungkinkan kertas naskah yang lapuk diperkuat kembali sekaligus membuat tulisan yang sebelumnya tidak terlihat menjadi terbaca. “Ketika kertas yang sudah lapuk diberi perlakuan dengan bahan khusus, kondisinya bisa diperkuat kembali. Tulisan yang sebelumnya tidak terlihat juga dapat muncul dan dibaca,” ujarnya.
Upaya pelestarian tersebut kemudian dikembangkan melalui kerja sama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Riyadh. Menurut Khofifah, karya-karya ulama Jawa Timur yang ditampilkan di Arab Saudi mendapat perhatian dari diplomat, pemerintah, dan kalangan akademisi.
“Setelah kami tampilkan melalui kerja sama dengan Kedutaan RI di Riyadh, responsnya sangat besar. Para diplomat, pemerintah, hingga akademisi di sana menunjukkan minat yang luar biasa. Mereka dapat melihat pemikiran dan kedalaman keilmuan ulama kita. Karena itu, kemitraan harus diperkuat, tidak hanya dengan ulama yang memiliki karya di Jawa Timur, tetapi juga dengan ulama Nusantara secara keseluruhan,” ucapnya.
Menurut Khofifah, penguatan turots relevan dengan pelaksanaan Muktamar Ke-35 NU di Jombang. Penerbitan, digitalisasi, preservasi, dan kajian terhadap karya ulama terdahulu dinilai dapat memperkaya referensi keislaman sekaligus memperluas pengenalan pemikiran ulama Nusantara.

“Ada karya yang sudah didigitalisasi oleh Pemprov dan ada yang sudah dibuat dalam bentuk ikhtisar. Saya optimistis referensi kita akan semakin kaya karena keilmuan ulama Nusantara dari ratusan tahun lalu masih relevan untuk membaca berbagai fenomena hari ini dan yang akan datang,” ucapnya tegas.
Pada kesempatan tersebut, Khofifah menyerahkan dua kompilasi karya ulama Jawa Timur, yakni Majmūah al-Muṣannafāt as-Sāmiyah li Baḍ Ulamā’ Jawa asy-Syarqiyyah dan Majma` al-Anwār min Rasā’il al-Akhyār. Kedua karya tersebut merupakan hasil kolaborasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur dengan Nahdlatut Turots.
Sementara itu, Wakil Rais Aam PBNU KH Afifuddin Muhajir menilai turots memiliki posisi penting dalam menjaga kesinambungan tradisi keilmuan ulama dan pesantren. “Tidak akan ada kebangkitan ulama tanpa kebangkitan turots. Warisan keilmuan masa lalu harus diteruskan kepada generasi berikutnya karena di dalamnya terdapat ilmu agama, sumber agama, serta ilmu alat untuk memahami agama,” ujar Afifuddin.
Menurutnya, pesantren memiliki peran untuk mempertahankan tradisi keilmuan salaf sekaligus menyesuaikannya dengan perkembangan zaman. Ia menilai perpaduan tersebut membutuhkan perhatian terhadap kitab-kitab turots sebagai salah satu fondasi keilmuan pesantren.
“Pesantren harus mampu memadukan kesalafan dan kemodernan. Hal itu tidak mungkin terwujud tanpa memberikan perhatian terhadap kitab-kitab turots,” ucapnya.
Afifuddin berharap upaya pengembangan turots dapat terus dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pihak. Dengan demikian, warisan keilmuan ulama terdahulu tetap dapat dipelajari dan dikembangkan oleh generasi berikutnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....