GPAN Kediri Siapkan Program Berkelanjutan untuk Tingkatkan Literasi Anak

  • 20 Sep 2026 17:57 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara (GPAN) Regional Kediri menyiapkan sejumlah kegiatan lanjutan untuk menjaga keberlangsungan gerakan literasi anak setelah HOMPIMPA! Festivaria Sastra Anak Dhanapura berakhir. Upaya tersebut diarahkan melalui lapak baca rutin, pengenalan kembali permainan tradisional, serta katalogisasi sastra dan dongeng anak.

Ketua Pelaksana HOMPIMPA! Festivaria Sastra Anak Dhanapura, Gema Rohullah Khumaini, mengatakan festival tersebut tidak ditujukan sebagai kegiatan yang berhenti setelah rangkaian acara selesai. Menurutnya, keberlanjutan menjadi bagian penting agar pengenalan sastra anak dan permainan tradisional dapat berkembang menjadi kebiasaan di masyarakat.

"Jangan sampai sastra anak hanya berhenti di festival. Ketika festival selesai, harus ada efek yang tetap bertahan. Itu yang menjadi tantangan sekaligus pekerjaan kita bersama," ujar Gema, kepada RRI, usai acara Festivaria Sastra Anak Dhanapura di Rumah Budaya – Warung Setono Goerih, Kota Kediri, Minggu, 20 September 2026.

Salah satu program yang akan terus diperkuat adalah lapak baca mingguan yang sebelumnya telah dijalankan GPAN di sejumlah ruang publik, seperti car free day dan taman. Kegiatan tersebut akan diarahkan tidak hanya untuk menyediakan bacaan, tetapi juga menjadi ruang interaksi anak dengan buku, sastra, dan aktivitas kreatif.

Gema mengatakan GPAN juga berencana membawa kembali permainan tradisional dalam kegiatan literasi. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkenalkan kembali dolanan anak yang dinilai semakin jarang ditemukan seiring berubahnya pola bermain anak ke aktivitas digital.

"Kami sebenarnya sudah memiliki lapak baca mingguan di beberapa tempat. Ke depan akan lebih kami gencarkan lagi, termasuk membawa permainan tradisional agar dolanan anak kembali mendapat ruang dan lebih dikenal," katanya.

Selain kegiatan rutin, GPAN berencana melakukan katalogisasi terhadap permainan tradisional dan dongeng anak. Pendokumentasian tersebut diharapkan dapat menjadi pijakan untuk mengenalkan kembali berbagai bentuk sastra dan permainan anak yang berkembang di masyarakat.

Menurut Gema, pendokumentasian menjadi pekerjaan jangka panjang karena perlu menghimpun informasi mengenai jenis permainan, dongeng, serta bentuk-bentuk sastra anak yang masih berkembang maupun yang mulai jarang dikenal.

"Yang juga akan kami lakukan adalah katalogisasi. Misalnya, permainan anak itu ada apa saja dan dongeng anak itu apa saja. Ini memang pekerjaan panjang, tetapi perlu dimulai supaya kekayaan tersebut tidak hilang begitu saja," jelasnya.

Gema menilai keberlanjutan gerakan literasi anak tidak dapat hanya mengandalkan komunitas. Orang tua juga memiliki peran untuk mengenalkan bacaan dan dongeng di lingkungan keluarga, sementara guru dapat memperkuatnya melalui pembelajaran di sekolah.

Ia juga berharap pemerintah dapat terus memberikan dukungan berupa fasilitas dan ruang bagi komunitas untuk menjalankan kegiatan literasi secara konsisten. Dengan demikian, aktivitas literasi tidak hanya muncul dalam momentum tertentu, tetapi dapat hadir dalam keseharian masyarakat.

Gema berharap kegiatan lanjutan tersebut dapat menjaga momentum gerakan literasi anak di Kota Kediri. Ia juga mendorong semakin banyak komunitas literasi untuk saling terhubung dan bekerja bersama dalam memperluas pengenalan sastra serta permainan tradisional kepada masyarakat.

"Harapannya, literasi yang sekarang mulai berkembang bisa tetap bertahan dan terus tumbuh. Komunitas literasi di Kota Kediri juga semakin srawung, sementara sastra anak dan dolanan tradisional semakin dikenal dengan dukungan masyarakat," ucap Gema.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....