Generasi Muda Penentu Keberlanjutan Semangat Reformasi 1998 di Era Digital

  • 17 Sep 2026 06:27 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Semangat Reformasi 1998 dinilai menghadapi tantangan baru di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan media sosial. Perubahan ruang publik dari interaksi langsung ke ruang digital membuat generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga budaya kritis sekaligus menyaring berbagai informasi yang beredar.

Pengamat Hukum dan Politik Universitas Bhinneka PGRI Kediri, Andreas A. Djatmiko, mengatakan generasi muda saat ini memiliki kondisi yang berbeda dibandingkan generasi yang mengalami langsung Reformasi 1998. Kemajuan teknologi membuat akses informasi semakin mudah, tetapi pada saat yang sama menghadirkan persoalan baru berupa banjir informasi dan potensi penyebaran berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Kalau kita bicara tentang cita-cita reformasi di tengah era digitalisasi saat ini, memang ada jarak yang cukup jauh. Dengan adanya digitalisasi dan media sosial, ruang publik itu berpindah. Ini membawa tantangan baru, termasuk polarisasi,” ujar Andreas kepada RRI, Rabu, 16 September 2026.

Menurutnya, masyarakat kini dituntut untuk lebih cerdas dalam menentukan informasi yang dapat dipercaya. Kecepatan memperoleh berita tidak selalu diikuti dengan kemampuan memeriksa kebenaran informasi tersebut. Kondisi ini dapat membuat masyarakat mudah terpengaruh oleh informasi yang bersifat provokatif.

Andreas menilai perubahan teknologi juga berpengaruh terhadap cara generasi muda memperoleh pengetahuan. Ia memberikan gambaran bahwa jika dahulu mahasiswa harus mencari berbagai referensi secara manual melalui buku, kini banyak sumber informasi dapat diperoleh dengan cepat melalui teknologi digital.

Dulu mahasiswa kalau mengerjakan skripsi mencari referensi secara manual, membawa buku. Sekarang perkembangan digital sudah sangat maju, sehingga banyak hal bisa diperoleh dengan lebih cepat,” ujarnya.

Namun, kemudahan tersebut menurut Andreas tidak seharusnya membuat generasi muda kehilangan kemampuan berpikir kritis. Justru di tengah kemudahan teknologi, kemampuan memeriksa informasi, membandingkan sumber, dan memahami konteks menjadi semakin penting.

Ia juga meminta generasi muda tidak bersikap apatis terhadap kehidupan bernegara. Menurut Andreas, sikap tidak peduli masyarakat terhadap kondisi negara dapat menjadi persoalan serius karena demokrasi membutuhkan partisipasi warga, termasuk dalam memberikan kritik dan mengawasi jalannya pemerintahan.

Generasi muda itu justru harus menjadi agen perubahan. Kalau peka dengan kondisi yang ada di lapangan, harus berani secara prinsip mengatakan tidak terhadap sesuatu yang tidak benar,” katanya.

Dalam konteks politik, Andreas juga mendorong generasi muda untuk ikut memutus praktik politik uang. Menurutnya, pemilu seharusnya menjadi ruang bagi masyarakat untuk menentukan calon pemimpin berdasarkan pertimbangan yang rasional, bukan karena pemberian materi.

Jangan dibiasakan menerima amplop baru datang ke TPS. Kita memilih calon pemimpin yang akan menentukan kehidupan kita lima tahun ke depan. Generasi muda justru harus menjadi frontliner untuk memutus mata rantai politik uang,” ungkapnya.

Andreas menambahkan, cita-cita Reformasi 1998 perlu terus dikenalkan kepada generasi muda agar tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Menurutnya, kalangan akademik juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga kesinambungan pengetahuan mengenai reformasi sehingga generasi berikutnya memahami latar belakang, tujuan, sekaligus persoalan yang masih harus diperbaiki.

Harusnya cita-cita reformasi ini menjadi sebuah kurikulum yang wajib diketahui teman-teman generasi muda, sehingga mereka bisa lebih kritis melihat apa yang menjadi kekurangan kita dan apa yang masih menjadi kendala untuk diwujudkan,” ujar Andreas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....