HUT RI ke-81, Tokoh Agama Kecamatan Pare Ajak Masyarakat Tangkal Radikalisme

  • 19 Agt 2026 18:34 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi momentum bagi masyarakat untuk memperkuat persatuan sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran paham radikalisme. Tokoh agama asal Kecamatan Pare, Ustadz Arif Nawawi, mengajak masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang beredar di media sosial, terutama konten yang mengandung hoaks, provokasi, maupun narasi yang dapat memecah belah persatuan.

Menurut Arif, semangat kemerdekaan harus diikuti dengan upaya menjaga keutuhan bangsa. Persatuan dinilai menjadi salah satu modal penting agar masyarakat tidak mudah terpecah oleh perbedaan pandangan, latar belakang, maupun pilihan.

“Ancaman terhadap persatuan tidak selalu muncul dalam bentuk konflik secara langsung. Di era digital, informasi yang menyesatkan dan provokatif dapat dengan cepat menyebar melalui media sosial dan memengaruhi cara pandang masyarakat,” ujarnya, kepada RRI, Rabu, 19 Agustus 2026.

Karena itu, masyarakat diminta lebih kritis sebelum mempercayai maupun menyebarkan informasi yang diterima melalui media sosial. Setiap informasi, terutama yang berkaitan dengan isu agama, politik, maupun kelompok tertentu, perlu diperiksa terlebih dahulu kebenarannya.

Arif menilai penyebaran berita bohong dapat menjadi pintu masuk munculnya prasangka dan kebencian di tengah masyarakat. Jika tidak disikapi secara bijak, informasi yang tidak benar dapat berkembang menjadi provokasi dan memperlebar perbedaan.

Selain hoaks, masyarakat juga perlu mewaspadai konten digital yang membawa narasi radikalisme. Menurutnya, penyebaran paham tersebut dapat berlangsung secara perlahan melalui konten yang terlihat sederhana, tetapi secara bertahap menanamkan kebencian terhadap kelompok lain maupun sikap intoleran.

“Masyarakat perlu berhati-hati dalam menerima informasi di media sosial. Jangan langsung percaya atau menyebarkan berita yang belum diketahui kebenarannya, terlebih jika isinya mengarah pada provokasi, kebencian, atau memecah persatuan. Informasi harus disikapi dengan bijak dan diperiksa terlebih dahulu,” jelas Arif.

Ia juga menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menghadapi perkembangan informasi digital. Generasi muda dinilai tidak hanya perlu memiliki kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga harus mempunyai kemampuan memilah informasi agar tidak mudah terpengaruh konten yang berpotensi merusak persatuan.

Arif mengajak generasi muda memperkuat keimanan, ketakwaan, serta pengetahuan sebagai bekal menghadapi berbagai pengaruh di ruang digital. Sikap tersebut dinilai dapat membantu generasi muda membedakan informasi yang membangun dengan konten yang sengaja dibuat untuk memicu konflik.

Menurutnya, momentum kemerdekaan juga dapat dimaknai dengan memperkuat kepedulian terhadap kehidupan berbangsa. Perjuangan para pahlawan tidak cukup hanya dikenang, tetapi perlu diteruskan melalui upaya menjaga persatuan dan menciptakan lingkungan sosial yang aman dari konflik maupun paham yang mengancam keutuhan bangsa.

“Kemerdekaan hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan, sekaligus mendorong terwujudnya keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Generasi muda harus terus belajar, memperkuat ibadah, serta bijak menggunakan media sosial agar dapat meneruskan perjuangan para pendiri bangsa,” ucapnya.

Ia berharap masyarakat dapat bersama-sama membangun ruang digital yang sehat dengan tidak ikut menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, maupun konten yang mengandung paham radikal. Menurutnya, menjaga persatuan di tengah derasnya arus informasi merupakan bagian dari tanggung jawab bersama dalam mengisi kemerdekaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....