UNP Kediri Hilirisasi Tujuh Teknologi Tepat guna di Desa Tempurejo

  • 13 Sep 2026 17:27 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri mengembangkan inovasi teknologi tepat guna untuk mempercepat transformasi Desa Tempurejo, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, menjadi desa ekowisata berkelanjutan. Upaya ini diwujudkan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Skema Pemberdayaan Desa Binaan tahun 2026.

Melalui program yang didanai sepenuhnya oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek tersebut, UNP Kediri mendorong hasil riset dan inovasi perguruan tinggi agar dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat. Hilirisasi teknologi diarahkan untuk memperkuat sentra pemberdayaan, mengembangkan wisata edukatif, serta meningkatkan nilai ekonomi potensi lokal.

Ketua Tim PkM-PDB UNP Kediri 2026, Dr. Agus Muji Santoso, M.Si., mengatakan terdapat tujuh teknologi tepat guna yang dikembangkan dalam program tersebut.

“Ada tujuh teknologi tepat guna yang kami hilirisasi dalam program ini agar bisa mengakselerasi Desa Tempurejo sebagai desa ekowisata,” ucap Agus.

Menurutnya, teknologi tepat guna menjadi salah satu instrumen penting untuk menghubungkan potensi alam dengan aktivitas produktif masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, pengembangan ekowisata tidak berhenti pada pemanfaatan keindahan destinasi, tetapi juga mencakup penguatan pengetahuan, produk lokal, dan inovasi yang dihasilkan masyarakat.

Menghubungkan Wisata Alam dengan Edukasi dan Produksi Lokal

Salah satu fokus pengembangan berada di KUB Wono Lestari. Kelompok usaha ini bergerak dalam pembibitan berbagai jenis Ficus dan pengelolaan Arboretum Ficus.

Melalui hilirisasi hasil riset dan teknologi, sentra pembibitan tersebut diarahkan menjadi bagian dari paket wisata edukasi Tempurejo. Wisatawan nantinya dapat mengenal keragaman tanaman Ficus, menyaksikan proses pembibitan, membeli bibit, serta mempelajari peran tanaman dalam mendukung konservasi lingkungan, termasuk potensi kaitannya dengan kelestarian sumber mata air.

Pengembangan juga dilakukan pada KUB Surya Agrotani. Kelompok ini selama ini memproduksi pupuk organik untuk memenuhi kebutuhan anggota kelompok tani dan masyarakat sekitar.

Ke depan, KUB Surya Agrotani tidak hanya berperan sebagai sentra produksi, tetapi juga dikembangkan sebagai lokasi pembelajaran bagi wisatawan. Pengunjung dapat mengenal proses pembuatan pupuk organik berbasis konsorsium mikroba potensial sekaligus memahami penerapan teknologi dalam mendukung pertanian yang lebih berkelanjutan.

Kedua sentra tersebut menjadi bagian dari upaya UNP Kediri untuk membangun pengalaman wisata yang menggabungkan keindahan alam, kegiatan produksi, edukasi lingkungan, dan potensi ekonomi masyarakat.

Ekowisata Berbasis Paket dan Pemberdayaan

Pengembangan desa ekowisata Tempurejo juga diarahkan pada penyusunan paket-paket wisata yang menghubungkan sejumlah potensi desa. Wisatawan tidak hanya menikmati destinasi seperti Sumber Jembangan dan Wisata Alam Alaska (Alazka), tetapi juga dapat mengikuti aktivitas edukatif di sentra-sentra pemberdayaan masyarakat.

Program PkM tahun 2026 mencakup penguatan struktur sentra yang terlibat, penyusunan paket ekowisata, peningkatan kapasitas pengelola, serta pengembangan digital marketing untuk mendukung promosi destinasi dan produk lokal.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperluas manfaat keberadaan wisata bagi masyarakat. Produk hasil pemberdayaan tidak hanya dipasarkan sebagai komoditas, tetapi juga dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata yang memiliki nilai edukasi.

“Pengembangan ekowisata tidak cukup hanya dengan mengandalkan daya tarik alam. Potensi masyarakat, produk lokal, pengetahuan, teknologi, dan aktivitas edukatif perlu diintegrasikan sehingga memberikan pengalaman yang lebih lengkap kepada wisatawan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat desa,” jelas Agus.

Mahasiswa Belajar Langsung di Tengah Masyarakat

Program PkM Pemberdayaan Desa Binaan UNP Kediri juga melibatkan mahasiswa dalam proses pengembangan Desa Tempurejo. Keterlibatan tersebut memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi secara langsung dalam konteks pembangunan masyarakat.

Kaprodi Pendidikan Biologi UNP Kediri, Dr. Poppy Rahmatika Primandiri, menjelaskan bahwa mahasiswa yang terlibat memperoleh rekognisi SKS sebagai bentuk apresiasi terhadap capaian pembelajaran di luar kampus.

“Mahasiswa yang terlibat juga kami berikan rekognisi SKS sebagai apresiasi atas capaian belajar mahasiswa di luar kampus melalui skema Pengabdian Desa Binaan sesuai Peraturan Rektor,” kata Poppy.

Menurutnya, pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkuat kompetensi mahasiswa dalam mengembangkan solusi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus membangun kepedulian terhadap persoalan masyarakat dan lingkungan.

Tim PkM Pemberdayaan Desa Binaan UNP Kediri terdiri atas Dr. Agus Muji Santoso, M.Si., Prof. Dr. Siti Zubaidah, Dr. Rizky Aswi Ramadani, M.Kom., serta Hesti Isqtiqlaliyah, S.T., M.Eng.

Menuju Model Desa Ekowisata Berkelanjutan

Melalui hilirisasi teknologi tepat guna, UNP Kediri menargetkan Desa Tempurejo memiliki model pengembangan ekowisata yang mengintegrasikan potensi alam, inovasi, aktivitas edukatif, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong desa agar tidak hanya menjadi tujuan kunjungan wisata, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran, pusat inovasi, dan tempat tumbuhnya ekonomi lokal yang tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.

UNP Kediri berharap sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, kelompok masyarakat, dan mahasiswa dapat mempercepat terwujudnya Tempurejo sebagai desa ekowisata berkelanjutan berbasis potensi lokal dan teknologi tepat guna.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....