Gubernur Khofifah: Munas-Konbes NU 2026 Wujud Penguatan Sosial Keagamaan

  • 22 Jun 2026 00:36 WIB
  •  Kediri

RRI.CO.ID, Kediri - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meyakini Munas-Konbes NU merupakan forum strategis untuk merumuskan pandangan keagamaan. "Agenda ini sekaligus menghadirkan solusi atas berbagai persoalan umat, bangsa, dan negara," kata Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, saat menghadiri pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama - Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama Tahun 2026 di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Mojo, Kediri, Sabtu malam, 20 Juni 2026.

Menurut perempuan yang juga salah satu Ketua PBNU, tema Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2026, 'Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa', memiliki keterkaitan erat dengan pesan Rais Aam tentang pentingnya penguatan kesadaran sosial, moralitas publik, dan kualitas kepemimpinan.

"Pesan yang disampaikan Rais Aam KH Miftachul Akhyar menjadi pengingat bahwa menjaga marwah tidak cukup hanya menjaga integritas dan moralitas organisasi, tetapi juga harus diwujudkan melalui khidmat yang semakin nyata dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat," kata Khofifah.

Karena itu, ia optimistis, forum permusyawaratan para ulama ini akan menghasilkan keputusan-keputusan yang mampu memperkuat peran NU dalam membangun kemaslahatan sosial, mempererat persaudaraan, serta menjawab berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini.

"Semoga Allah SWT memudahkan seluruh rangkaian musyawarah dan menghasilkan keputusan-keputusan terbaik yang membawa kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan negara, sekaligus memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah," katanya.

Khofifah juga menyampaikan, bahwa Jawa Timur sebagai provinsi dengan ribuan pondok pesantren memiliki tanggung jawab besar untuk terus mendukung penguatan peran pesantren dan Nahdlatul Ulama dalam pembangunan sumber daya manusia, pendidikan, ekonomi umat, serta penguatan nilai-nilai kebangsaan.

'Kami percaya pesantren dan Nahdlatul Ulama memiliki peran sangat penting dalam menyiapkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual, berakhlak mulia, dan memiliki kepedulian sosial sebagaimana yang menjadi pesan utama Rais Aam," tegasnya.

Lebih lanjut, Khofifah menyampaikan, apresiasi kepada Pengurus Besar Nahdlatul , keluarga besar Pondok Pesantren Al Falah Ploso, para kiai, santri, relawan, dan seluruh panitia yang telah mempersiapkan penyelenggaraan Munas dan Konbes NU 2026. "Atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Khofifah menyampaikan selamat datang kepada seluruh peserta yang hadir dari berbagai daerah di Indonesia. Ahlan wa sahlan kepada seluruh peserta Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2026 di Jawa Timur," katanya.

Ia berharap, seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar, penuh hikmah, dan membawa keberkahan serta kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan negara, Pembukaan Munas-Konbes NU 2026 di Ponpes Al-Falah Ploso Mojo Kabupaten Kediri ditandai dengan penabuhan kenteng sebanyak sembilan kali oleh Rais Aam PBNU yang juga didampingi Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Sekjen PBNU, Khatib Aam, Gubernur Khofifah serta perwakilan Pondok Pesantren Al Falah Ploso.

Dalam sambutannya, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menegaskan, bahwa Nahdlatul Ulama menghadapi tantangan peradaban yang semakin kompleks sehingga membutuhkan lompatan strategis dalam menjalankan khidmat kepada umat. Kiai Miftachul Akhyar merinci, terdapat tiga kebutuhan mendesak yang harus diperkuat oleh jam’iyah NU untuk menjawab tuntutan masa kini dan masa depan.

"Hal pertama, membangkitkan kembali dhamir ijtima’i atau kesadaran sosial di tengah umat melalui langkah-langkah nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat," katanya.

Kemudian, kedua, membangun opini publik yang berlandaskan moral sehingga tumbuh kontrol sosial yang kuat dalam kehidupan bermasyarakat. Lalu hal ketiga, memperkuat kualitas kepemimpinan yang berlandaskan semangat jihad dan ijtihad agar mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan kontemporer yang dihadapi umat, bangsa, dan negara.

"Jam’iyah kita yang terorganisasi ini, demi menghadapi tuntutan masa kini dan masa depan, berada dalam kondisi sangat membutuhkan tiga hal penting," kata KH Miftachul Akhyar.

Ia menekankan, kepemimpinan dalam NU membutuhkan kesungguhan perjuangan, keluasan ilmu, kecerdasan, serta kemampuan memberikan keputusan yang tepat terhadap berbagai persoalan baru yang berkembang di tengah masyarakat. Selain itu, Kiai Miftachul Akhyar lantas membedah makna Jihad dan Ijtihad. Terkait jihad, ia mendeskripsikannya sebagai tindakan yang mencurahkan segala kemampuan dan puncak kesungguhan untuk meraih capaian terbesar, yaitu ketaatan kepada Allah, tunduk pada hukum-Nya, serta berserah diri pada perintah-perintah-Nya.

"Hal tersebut membutuhkan perjuangan (jihad) yang panjang lagi berat dalam melawan segala hal yang merongrong ketaatan tersebut," katanya.

Sementara mengenai ijtihad, ia mengatakan, bahwa nakhoda yang memimpin jam'iyah ini wajib memiliki kapasitas intelektual yang mumpuni. "Ijtihad artinya orang yang memimpin organisasi atau jam'iyah yang diberkahi ini harus memiliki kemampuan untuk memberikan keputusan atau solusi yang tepat terhadap masalah-masalah kontemporer. Ia juga harus memiliki kecerdasan, aktivitas, kesungguhan, serta keluasan ilmu yang mumpuni dan layak untuk posisi tersebut," katanya.

Dengan pesan tersebut, diharapkan arahan Rais Aam menjadi panduan penting bagi seluruh keluarga besar Nahdlatul Ulama dalam memperkuat peran organisasi di tengah dinamika zaman.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....