Kepemimpinan dan Masa Depan NU Jadi Bahasan Munas-Konbes NU
- 21 Jun 2026 22:39 WIB
- Kediri
Poin Utama
- Kepemimpinan dan masa depan Nahdlatul Ulama menjadi bahasan pada Munas-Konbes NU Tahun 2026
- Hadir pada pembukaan Munas-Konbes NU Tahun 2026, Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa Gubernur Khofifah menegaskan, bahwa Munas-Konbes NU merupakan forum strategis untuk merumuskan pandangan keagamaan sekaligus menghadirkan solusi umat
RRI.CO.ID, Kediri - Kepemimpinan dan masa depan Nahdlatul Ulama menjadi bahasan pada Munas-Konbes NU Tahun 2026.
Pada hari kedua Munas-Konbes NU di Kediri, Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Afifuddin Muhadjir menyampaikan, sejumlah pembahasan mengenai kepemimpinan dan masa depan NU dalam forum Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2026.
Di lokasi ini, Wakil Rais Aam PBNU, KH Afifuddin Muhajir (Kiai Afif) menyebut, terdapat dua prinsip yang berkaitan dengan perjalanan NU sebagai sebuah organisasi.
"Persoalannya hal-hal apa saja di dalam NU ini yang harga mati dan hal-hal apa saja di dalam NU yang bisa beradaptasi," ujar Kiai Afif, sapaan akrabnya, pada Sidang Pleno II Munas-Konbes NU 2026, di Pondok Pesantren Al Falah, Ploso, Kediri, pada Minggu, 21 Juni 2026.
Menurut Kiai Afif, ada hal-hal yang harga mati sudah barang tentu tidak bisa berubah karena perubahan situasi dan kondisi.
"Sementara yang bisa beradaptasi, bisa menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi," katanya.
Ia merinci, ada empat hal yang disampaikan sebagai sesuatu yang sifatnya permanen, antara lain Qanun Asasi (termasuk di dalamnya Mukaddimah, Qanun Asasi yang bersifat ushul, dan Khittah), konsep NU sebagai jam'iyyah ijtima'iyyah (bukan partai politik), NU berdasarkan Pancasila, dan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyyah.
Dalam Munas Konbes terakhir periode Masa Khidmah Kepengurusan PBNU ini, Kiai Afif menjelaskan pula, terkait mekanisme pemilihan dalam NU sebagai sebuah organisasi, apakah termasuk ke dalam hal yang permanen atau yang dapat beradaptasi.
"Berbicara tentang mekanisme pemilihan, apakah termasuk yang harga mati atau apakah yang termasuk bisa beradaptasi," ucapnya.
Kiai Afif mengatakan, bahwa harga mati didasarkan pada hal-hal yang bersifat tujuan, sementara mekanisme pemilihan dipandang sebagai sarana menggapai tujuan sehingga digolongkan kepada hal yang bisa beradaptasi.
"Harga mati dalam hal yang menyangkut tujuan, akan tetapi bisa beradaptasi dalam hal-hal yang menyangkut sarana untuk mencapai tujuan," jelasnya.
Ia menilai, prinsip yang tidak bisa ditinggalkan dalam mekanisme pemilihan tersebut adalah prinsip musyawarah.
"Dalam hal sekecil apa pun, Nabi diperintahkan untuk musyawarah. Apalagi dalam persoalan besar seperti pemilihan pemimpin. Kemudian disebut sebagai ahlussyuro, dan disebut sebagai ahlul ikhtiyar, kemudian disebut sebagai Ahlul Halli Wal Aqdi," ujarnya.
Ia mengingatkan, menjadi bagian dari pemilih atau tim penentu dalam forum tertinggi NU bukanlah perkara mudah karena ada prasyarat ketat yang harus dipenuhi. Oleh karena itu, ia menekankan agar penentuan sistem pemilih dan pemilihan selalu menitikberatkan pada jalur musyawarah.
Terkait perdebatan mengenai penerapan sistem Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) maupun regulasi pemilihan lainnya yang kerap menghangat menjelang forum tertinggi organisasi, Kiai Afif menyerahkan sepenuhnya pada forum permusyawaratan resmi.
"Mekanisme bisa dimusyawarahkan bagaimana baiknya. Mudah-mudahan di Muktamar nanti bisa dirembugi tentang apa yang terbaik (untuk NU)," kata Kiai Afif.
Hadir pada pembukaan Munas-Konbes NU Tahun 2026, Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa Gubernur Khofifah menegaskan, bahwa Munas-Konbes NU merupakan forum strategis untuk merumuskan pandangan keagamaan sekaligus menghadirkan solusi atas berbagai persoalan umat, bangsa, dan negara.
Khofifah optimistis, forum permusyawaratan para ulama ini akan menghasilkan keputusan-keputusan yang mampu memperkuat peran NU dalam membangun kemaslahatan sosial, mempererat persaudaraan, serta menjawab berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini.
"Semoga Allah SWT memudahkan seluruh rangkaian musyawarah dan menghasilkan keputusan-keputusan terbaik yang membawa kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan negara, sekaligus memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah," katanya.
Khofifah juga menyampaikan, bahwa Jawa Timur sebagai provinsi dengan ribuan pondok pesantren memiliki tanggung jawab besar untuk terus mendukung penguatan peran pesantren dan Nahdlatul Ulama dalam pembangunan sumber daya manusia, pendidikan, ekonomi umat, serta penguatan nilai-nilai kebangsaan.
"Kami meyakini pesantren dan Nahdlatul Ulama memiliki peran sangat penting dalam menyiapkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual, berakhlak mulia, dan memiliki kepedulian sosial sebagaimana yang menjadi pesan utama Rais Aam," ungkapnya.p
Lebih lanjut, Khofifah memberi apresiasi kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, keluarga besar Pondok Pesantren Al Falah Ploso, para kiai, santri, relawan, dan seluruh panitia yang telah mempersiapkan penyelenggaraan Munas dan Konbes NU 2026.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....