Petani di Kediri Andalkan Sumur Bor Hadapi Kemarau
- 11 Jul 2026 05:20 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Kediri - Memasuki musim kemarau 2026, petani di Kabupaten Kediri mulai mengandalkan sumur bor sebagai sumber air alternatif untuk menjaga pasokan air irigasi. Langkah tersebut dilakukan menyusul berkurangnya debit air di sejumlah saluran irigasi yang berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman dan menurunkan hasil panen.
Salah satu petani di Kecamatan Badas, Antok Rahman, mengatakan sumur bor menjadi pilihan ketika pasokan air dari jaringan irigasi tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan lahan pertanian. Menurutnya, keberadaan sumur bor membantu petani tetap dapat mengairi sawah sehingga tanaman tidak mengalami kekeringan selama musim kemarau.
"Kalau musim kemarau seperti sekarang, debit air irigasi mulai berkurang. Karena itu kami memanfaatkan sumur bor agar sawah tetap mendapatkan pasokan air dan tanaman tidak sampai kekeringan maupun gagal panen," ujar Antok, Jumat, 10 Juli 2026.
Ia menambahkan, penggunaan sumur bor memang menambah biaya operasional petani, terutama untuk bahan bakar pompa air. Namun, langkah tersebut dinilai lebih baik dibandingkan harus menanggung kerugian akibat tanaman kekurangan air.
"Biaya operasional memang bertambah karena harus menjalankan pompa air. Tetapi itu masih lebih baik daripada sawah kekeringan dan hasil panen menurun," katanya.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Kediri menyiapkan sejumlah langkah untuk mendukung kebutuhan air pertanian selama musim kemarau. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Kediri, Sukadi, mengatakan pemerintah terus berkoordinasi dengan Pertamina dan PLN agar kebutuhan petani dapat terpenuhi, mulai dari ketersediaan solar bersubsidi hingga penyediaan jaringan listrik untuk program sumur submersible.
"Kami dengan Pertamina selalu berkomunikasi dan berkoordinasi terkait kebutuhan solar agar petani diprioritaskan. Dengan PLN juga kami terus berkoordinasi karena program sumur submersible membutuhkan pasokan listrik yang memadai," ujar Sukadi.
Selain menjamin pasokan energi, Dispertabun juga mempercepat proses penerbitan rekomendasi pembelian solar bersubsidi. Kini petani tidak lagi harus datang langsung ke kantor dinas, melainkan cukup mengajukan permohonan melalui Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dengan melengkapi persyaratan yang dibutuhkan.
"Rekomendasi dari kami akan diterbitkan pada hari yang sama setelah persyaratan dinyatakan lengkap. Selanjutnya dikirim kepada PPL untuk dicetak dan diserahkan kepada petani, sehingga dalam sehari barcode solar bersubsidi sudah dapat digunakan," jelasnya.
Meski proses pengurusan dipermudah, Sukadi menegaskan pengawasan tetap dilakukan agar distribusi BBM subsidi tepat sasaran. Solar bersubsidi hanya diperuntukkan bagi kebutuhan operasional pompa air maupun alat dan mesin pertanian yang digunakan petani.
Sebagai upaya memperkuat ketahanan air di sektor pertanian, Pemerintah Kabupaten Kediri juga menargetkan pembangunan sekitar 380 titik sumur submersible pada tahun 2026 melalui dukungan anggaran pemerintah pusat maupun daerah. Fasilitas tersebut akan diprioritaskan bagi kelompok tani di berbagai wilayah sebagai tambahan sumber air ketika musim kemarau berlangsung.
"Kami dengan PLN Kediri maupun Mojokerto terus berkomunikasi dan berkoordinasi agar kebutuhan listrik untuk petani dapat diprioritaskan sehingga program sumur submersible dapat berjalan dengan baik," ucap Sukadi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....