Harga Cabai di Pasar Induk Pare Kediri Fluktuatif
- 06 Jul 2026 23:03 WIB
- Kediri
Poin Utama
- Harga cabai di Pasar Induk Pare Kabupaten Kediri bergerak fluktuatif pada Senin, 6 Juli 2026
- APCI memperkirakan, fluktuasi harga cabai masih akan terjadi sepekan ke depan
RRI.CO.ID, Kediri - Harga cabai di Pasar Induk Pare Kabupaten Kediri bergerak fluktuatif pada Senin, 6 Juli 2026. Harga Cabai Merah Besar atau CMB justru turun, sedangkan Cabai Merah Keriting (CMK) dan Cabai Rawit Merah (CRM) naik, meskipun pasokan semua jenis cabai turun drastis.
Ketua Asosiasi Petani Cabai Indonesia (APCI) Kabupaten Kediri, Suyono merinci, pasokan CMB hanya 5 ton dari hasil panen secara normal mencapai 18 ton, atau turun 72,2 persen.
Pada Senin, 6 Juli 2026, harga CMB jenis Gada EVO Rp22.000 turun Rp2.000, Biola F1 Rp21.000 turun Rp1.000, dan Sandi 108 F1 Rp19.000 turun Rp3.000.
Suyono mengatakan, kondisi persediaan berbeda dengan CMB, cabai merah keriting (CMK) yang justru naik. Pasokan CMK hanya 1,5 ton dari normal 10 ton atau turun 85 persen.
"Harga CMK jenis Bogos 1x1 F1 naik Rp2.000 menjadi Rp25.000. Sbad 46 juga naik Rp2.000 ke Rp23.000 per Kilogram," katanya.
Ia menyebutkan, tren kenaikan paling tajam terjadi pada cabai rawit merah (CRM). Pasokan 14 ton dari normal 35 ton, turun 60 persen, tetapi harganya melonjak.
"Harga CRM jenis Brengos 99 Rp31.000 naik Rp11.000. Asmoro 043 Rp38.000 naik Rp11.000. TUMI 99 Rp35.000 naik Rp12.000. Juwita 25 F1 Rp35.000 naik Rp14.000," katanya.
Suyono mengatakan, kondisi ini dipengaruhi serapan industri dan pengiriman luar daerah. Penyerapan ke industri melalui Glower cukup tinggi.
"Seperti pada CMB 2 ton, CMK 7 ton, CRM 4 ton. CRM juga dikirim 4 ton ke Kalimantan," jelas Suyono.
Menurut Suyono, pasokan yang masuk Pasar Induk Pare saat ini memang lebih sedikit dari biasanya. Untuk asal pasokan CMB dari Kediri, Malang, Blitar, Jember.
"CMK dari Kediri dan Blitar, sedangkan CRM dari Kediri, Malang, dan Jawa Tengah," katanya.
Kemudian, imbuhnya, sisa pasokan setelah diserap industri dan dikirim ke luar daerah, digunakan untuk kebutuhan pasar modern dan tradisional di seluruh Jawa Timur. Hal itu yang membuat stok di pasar induk terasa menipis.
"Penurunan harga CMB, meski pasokan turun terjadi karena permintaan pasar lebih rendah dibanding CMK dan CRM. Kini, permintaan industri dan pedagang lebih banyak ke cabai keriting dan rawit, sehingga harganya terdorong naik,” katanya.
Suyono mengimbau, agar petani untuk tetap memantau harga dan mengatur pola panen. Sebab, dengan pasokan turun, momentum harga rawit dan keriting bisa dimanfaatkan petani.
"Tapi tetap jaga kualitas agar serapan industri lancar," ungkapnya.
APCI memperkirakan, fluktuasi harga cabai masih akan terjadi sepekan ke depan. Tergantung cuaca panen di sentra produksi dan permintaan dari industri maupun luar Jawa Timur.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....