Penambang Pasir Tradisional di Kediri Tepis Anggapan Rusak Lingkungan
- 12 Mei 2026 14:42 WIB
- Kediri
Poin Utama
- Sejumlah penambang pasir yang tergabung dalam Paguyuban Penambang Pasir Tradisional di aliran Sungai Brantas Kota Kediri menepis anggapan merusak lingkungan
- Kehadiran penambang manual justru membantu menjaga kebersihan aliran sungai
RRI.CO.ID, Kediri - Sejumlah penambang pasir yang tergabung dalam Paguyuban Penambang Pasir Tradisional di aliran Sungai Brantas Kota Kediri menepis anggapan merusak lingkungan. Seperti yang diungkapkan Ketua Paguyuban Penambang Pasir Tradisional Semampir-Mojoroto, Bapak Marlan (53), saat ditemui, di lokasi penambangan di bantaran Sungai Brantas Kediri, Selasa, 12 Mei 2026.
Ia menyebutkan, aktivitas penambangan di wilayahnya dilakukan secara turun-temurun dengan metode manual tanpa bantuan mesin penyedot. "Bagaimana tidak turun-temurun, karena keahlian kami hanya jadi penambang pasir manual. Ini yang kami bisa," kata Marlan.
Pria yang merupakan warga asli Kelurahan Semampir, menjelaskan bahwa profesi penambang pasir manual di wilayah ini bukanlah hal baru. Keseharian ini telah berlangsung selama lebih dari 30 tahun dan kini telah memasuki generasi kelima.
"Saya sendiri sudah 30 tahun menggeluti ini, dan sudah generasi ke-5. Kami sangat menjaga tradisi dan kelestarian sungai karena ini mata pencaharian kami," kata Marlan.
Pada kesempatan ini, Marlan juga menanggapi adanya pemberitaan atau isu miring yang menyebutkan penggunaan mesin penyedot yang berpotensi merusak fondasi jembatan dan ekosistem sungai. "Di sini terdapat 8 titik penambangan dari wilayah Semampir hingga Mojoroto yang semuanya beroperasi secara manual. Kami tidak ada mekanik (mesin), semuanya murni pakai alat tradisional," katanya tegas.
Ia mengaku, jikalau ada oknum yang nekat membawa mesin ke sini, para penambang sendiri yang akan menolak dan memberontak. "Alat yang digunakan hanyalah alat tradisional sederhana seperti songkro (alat angkut pasir), cangkul, dan donak," katanya.
Selain itu, imbuh Marlan, penambang menyelam langsung ke dasar sungai untuk mengambil pasir. "Kalau mesin yang terlihat pada perahu, itu hanya berfungsi sebagai penggerak transportasi perahu dari tengah ke pinggir sungai, bukan untuk menyedot pasir. Tolong jangan salah sangka," katanya.
Di sisi lain, aktivitas penambangan manual ini menjadi tumpuan ekonomi bagi ratusan keluarga. Berdasarkan data paguyuban, terdapat sekitar 300 hingga 400 tenaga kerja yang menggantungkan hidup di 8 titik penambangan tersebut.
"Upah mereka ini rata-rata Rp60.000 hingga Rp80.000 per hari jika cuaca cerah. Kalau musim hujan, kami tidak berani turun, keselamatan adalah prioritas, sebab debit air akan naik," katanya.
Di samping itu, Marlan meyakini, kehadiran penambang manual justru membantu menjaga kebersihan aliran sungai. Para penambang secara rutin meminggirkan sampah-sampah yang tersangkut di area penambangan agar aliran air tetap lancar.
"Kami berharap pihak media dan Aparat Penegak Hukum (APH) tidak salah paham dalam mengartikan aktivitas mereka. Ia mengimbau agar oknum-oknum yang menyebarkan informasi tidak benar dapat melihat langsung proses kerja di lapangan," katanya. "Tolong jangan dibenturkan dengan APH. Kami ini membantu masyarakat dan menjaga lingkungan. Silakan lihat langsung ke tengah sungai bagaimana proses manual kami bekerja."
Sementara itu, Lutfi Zakaria, salah satu penambang pasir mengemukakan, pekerjaan ini sudah lama ia tekuni demi menghidupi keluarganya. "Saya sudah 10 tahun menggeluti kerjaan sebagai penambang pasir tradisional. Selain mendapat pasir, di sini juga menemukan banyak sampah," kata Lutfi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....