Peternak Ayam Petelur di Jombang Keluhkan Tingginya Harga Pakan
- 29 Mar 2026 20:05 WIB
- Kediri
RRI.CO.ID, Jombang – Kenaikan harga pakan ayam dalam beberapa bulan terakhir mulai menekan usaha peternak ayam petelur di Kabupaten Jombang. Biaya produksi yang terus meningkat tidak sebanding dengan harga jual telur yang cenderung fluktuatif di tingkat peternak.
Untung Suharjo, peternak ayam petelur asal Kecamatan Jogoroto, mengaku harga pakan utama seperti konsentrat dan jagung mengalami kenaikan cukup signifikan sejak awal tahun. Ia menyebut, harga konsentrat yang sebelumnya masih di kisaran Rp6.800 per kilogram kini sudah menembus Rp8.000 per kilogram.
“Dulu masih bisa dapat di bawah Rp7.000, sekarang sudah di atas Rp8.000. Jagung juga ikut naik, sekarang kisaran Rp6.000 lebih per kilo,” ujar Untung, Minggu, 29 Maret 2026.
Dalam operasional sehari-hari, Untung mengelola sekitar 1.000 ekor ayam petelur. Ia menyebut kebutuhan pakan per hari berada di kisaran 110 hingga 120 kilogram, dengan komposisi campuran jagung giling, konsentrat, serta dedak.
“Kalau 1.000 ekor, sehari bisa habis sekitar 1,1 sampai 1,2 kuintal. Biasanya pakai campuran jagung, konsentrat, sama bekatul,” jelasnya.
Dengan komposisi tersebut, biaya pakan yang sebelumnya berada di kisaran Rp700.000 per hari kini meningkat menjadi hampir Rp1.000.000 per hari. Kenaikan biaya ini diperkirakan mencapai 25 hingga 30 persen.
Tidak hanya bahan utama, harga dedak atau bekatul juga ikut naik dari sekitar Rp2.500 menjadi Rp3.000 hingga Rp3.200 per kilogram. Sementara itu, kebutuhan tambahan seperti vitamin dan obat-obatan ternak juga mengalami kenaikan harga.
Menurut Untung, kondisi ini semakin berat karena harga telur di tingkat peternak tidak selalu stabil. Dalam beberapa waktu terakhir, harga telur hanya berkisar antara Rp25.000 ribu hingga Rp27.000 per kilogram.
“Kalau harga telur pas turun, ya berat sekali. Soalnya biaya sudah tinggi, tapi jualnya tidak ikut naik,” katanya.
Ia menambahkan, dalam kondisi normal, satu ekor ayam petelur dapat menghasilkan sekitar 80 hingga 90 persen produksi telur per hari. Namun dengan biaya pakan yang meningkat, margin keuntungan menjadi semakin tipis.
“Produksi masih jalan, cuma hitungannya sekarang mepet. Kadang kalau pas harga turun, ya tidak nutup,” ujarnya.
Para peternak berharap ada upaya dari pemerintah untuk membantu menstabilkan harga pakan, khususnya jagung sebagai komponen utama. Selain itu, mereka juga berharap adanya kemudahan akses bahan baku dengan harga yang lebih terjangkau.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....