Buah Pinang bagi Masyarakat Papua sebagai Pelengkap Lima Sempurna.

  • 24 Jun 2026 05:31 WIB
  •  Jayapura

RRI.CO.ID, Jayapura - Slogan empat sehat lima sempurna sudah lama dikenal masyarakat sebagai pedoman gizi dalam kehidupan sehari-hari. Namun di Papua, lima sehat belum dianggap sempurna tanpa kehadiran pinang sebagai pelengkap kebiasaan masyarakat.

Mengunyah pinang, telah menjadi tradisi sekaligus rutinitas yang melekat dalam kehidupan masyarakat Papua sejak lama. Kebiasaan tersebut dilakukan berbagai kalangan, mulai anak-anak hingga orang dewasa, mengikuti tradisi yang diwariskan keluarga.

Tidak mengherankan, jika buah pinang mudah ditemukan di berbagai tempat hingga sudut-sudut kota di Papua. Buah tersebut dijual secara grosiran maupun eceran dan menjadi komoditas yang selalu tersedia setiap hari.

Popularitas pinang, tidak hanya terbatas pada masyarakat asli Papua yang telah mengenalnya sejak lama. Banyak pendatang yang menetap di Papua, juga menjadikan pinang sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari.

Salah satunya adalah Ibu Ine, yang mengaku sudah lahir dan besar di Papua sejak kecil. Meski bukan orang asli Papua, ia merasa hidupnya kurang lengkap tanpa mengunyah pinang setiap hari.

“Wah kalau tidak mengunyah pinang tuh rasanya hidup ini belum lengkap. Jadi kalau bepergian, selalu bawa pinang dalam tas, karena harus kunyah pinang supaya tambah semangat," ucapnya.

Hal senada disampaikan Ibu Rosmina Gandeguay, yang merupakan warga asli Papua dan penggemar pinang. Ia mengaku merasa kurang bertenaga, ketika tidak mengunyah pinang dalam menjalani aktivitas sehari-hari yang padat.

"Kalau tidak makan pinang itu, wah rasanya macam badan loyo kah, tidak kuat kerja dan semangat tidak ada. Tapi kalau mulai kunyah pinang, macam hidup ini indah dan nikmat," katanya..

Kebiasaan mengunyah pinang juga terlihat pada anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan masyarakat Papua. Alin, yang masih berusia tujuh tahun mengaku merasa lebih senang dan bersemangat setelah mengunyah pinang..

Besarnya minat masyarakat terhadap pinang, membuka peluang usaha yang cukup menjanjikan bagi banyak pedagang. Selain dikonsumsi sehari-hari, pinang juga digunakan dalam berbagai acara adat dan aktivitas sosial masyarakat.

Salah satu pedagang pinang, Udin yang berasal dari Buton mengaku telah lama berjualan pinang. Usaha tersebut ditekuni selama puluhan tahun, untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan membiayai pendidikan anak.

Menurut Udin, pinang memiliki nilai budaya yang kuat sehingga tetap diminati berbagai kalangan masyarakat Papua. Tradisi mengunyah pinang yang diwariskan turun-temurun, membuat permintaan pasar terus bertahan hingga sekarang.

Untuk memperoleh pinang berkualitas, Udin turun langsung ke kampung mencari hasil panen dari masyarakat setempat. Ia memanjat pohon, menyeleksi buah terbaik, lalu membeli dalam jumlah besar untuk dijual.

Setiap karung berisi sekitar 50 kilogram pinang dibeli dengan harga mencapai 500 ribu rupiah. Perjalanan menuju kebun pinang memerlukan waktu cukup lama, sehingga pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga dan ketekunan.

Meski demikian, Udin tetap menjalani usaha tersebut karena menjadi sumber penghidupan utama bagi keluarganya. Menurutnya, berjualan pinang telah memberikan manfaat ekonomi yang cukup besar selama bertahun-tahun.

Terkait persoalan sampah pinang, para pedagang mengaku turut menjaga kebersihan lingkungan pasar secara bersama-sama. Mereka membayar retribusi kebersihan setiap hari, sehingga pengelolaan sampah dapat dilakukan secara teratur dan berkelanjutan.

Udin menjelaskan, bahwa seluruh pedagang pinang berkontribusi membayar retribusi untuk mendukung kebersihan kawasan pasar. Dengan jumlah pedagang yang banyak, dana kebersihan terkumpul dan membantu operasional petugas pengangkut sampah.

Sampah hasil penjualan pinang juga dikumpulkan pada titik tertentu, agar mudah diangkut petugas kebersihan. Cara tersebut dinilai lebih efektif, karena mempermudah proses pengelolaan dan pengangkutan menuju tempat pembuangan resmi..

Menurut Udin, sampah pinang tidak perlu menjadi kekhawatiran apabila dikelola dengan baik dan teratur. Kerja sama antara pedagang serta petugas pasar, dinilai mampu menjaga kebersihan lingkungan secara berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....