Waspada Karhutla, 76 Desa di Wilayah Batanghari Berstatus Sangat Rawan
- 24 Apr 2026 21:43 WIB
- Jambi
RRI.CO.ID, Jambi : Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Batang Hari, Provinsi Jambi, makin mengkhawatirkan seiring datangnya musim kemarau. Sedikitnya 76 desa telah ditetapkan masuk dalam zona rawan api.
Kawasan desa yang terancam tersebut tersebar luas di delapan kecamatan, yakni Pemayung, Bajubang, Muara Bulian, Muara Tembesi, Maro Sebo Ulu, Maro Sebo Ilir, Mersam, dan Batin XXIV.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Batang Hari, Sholihin, membenarkan bahwa seluruh wilayah kecamatan di daerahnya pada dasarnya berisiko. Namun, delapan kecamatan yang memayungi puluhan desa tersebut menjadi sorotan utama yang butuh pengawasan ekstra ketat.
Tingkat kerentanan di lokasi-lokasi ini diprediksi akan melonjak tajam saat puncak kemarau melanda.
“Puluhan desa memiliki potensi kebakaran cukup besar. Beberapa di antaranya Jembatan Mas, Bungku, Pasar Baru, Jelutih, hingga Kembang Paseban,” ujar Sholihin, Rabu (22 April 2026).
Ancaman ini rupanya bukan isapan jempol belaka. Di lapangan, BPBD Batang Hari mencatat sudah ada 57 titik panas yang terdeteksi. Rinciannya terdiri dari 41 hotspot (titik panas) dan 16 firespot (titik api). Rentetan kebakaran ini telah menghanguskan total lahan seluas kurang lebih 19,4 hektare.
Jika dirinci, sebaran titik panas paling masif berada di Kecamatan Maro Sebo Ulu dengan 15 titik. Sementara untuk firespot atau api yang benar-benar menyala terbanyak ditemukan di kawasan Muara Bulian dengan tujuh titik.
Fenomena menarik sekaligus berbahaya dicatat oleh petugas di lapangan. Di beberapa wilayah yang jumlah titik apinya terbilang sedikit, luasan lahan yang terbakar justru sangat besar. Hal ini membuktikan bahwa api dengan sangat mudah menjalar dan membesar, terutama di kawasan lahan yang kering serta terbuka tanpa sekat.
“Ini membuktikan bahwa kebakaran bisa berkembang cepat, khususnya di wilayah yang kondisi lahannya mudah terbakar,” tegasnya.
Menyoroti akar permasalahannya, Sholihin tidak menampik bahwa faktor dominan pemicu karhutla di Batang Hari masih berasal dari kelalaian dan ulah manusia. Tradisi membuka lahan baru dengan cara instan yakni dibakar, hingga kebiasaan membakar sampah sembarangan menjadi penyumbang terbesar.
Di tengah bayang-bayang cuaca panas ekstrem yang diprediksi akan berlangsung panjang, BPBD tak henti-hentinya meminta warga untuk lebih peduli lingkungan.
"Kami berharap masyarakat benar-benar menghentikan praktik pembakaran lahan. Risikonya sangat besar, bukan hanya bagi lingkungan, tetapi juga keselamatan bersama," pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....