Impian Menjadikan Makam Kapitan Yongker Pusat Budaya Maluku di Jakarta

  • 25 Mei 2026 11:37 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, Jakarta – Sudah lebih dari dua dekade Pak Henri (67) mendedikasikan hidupnya untuk merawat Makam Kapitan Yongker di kawasan Marunda, Jakarta Utara. Menjadi juru kunci sejak tahun 2002 menggantikan pendahulunya, Almarhum Pak Frang, Pak Henri tidak hanya menjaga fisik bangunan, tetapi juga membawa misi besar untuk menyelamatkan sejarah yang kian hari kian terpinggirkan oleh industrialisasi.

Dalam sebuah wawancara, Pak Henri mengungkapkan harapannya agar pemerintah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata memberikan perhatian lebih serius pada situs cagar budaya ini. Ia memiliki visi untuk mengubah kawasan makam yang saat ini tersembunyi dan berdebu menjadi sebuah destinasi wisata sejarah yang representatif, menyerupai situs "Rumah Si Pitung" yang terletak tak jauh dari sana.

"Maunya sih tempat ini diperbagus, disamakan dengan tempat sejarah lainnya seperti Rumah Si Pitung. Ada tamannya, penataan yang rapi, jadi orang yang datang bukan cuma untuk ibadah, tapi juga untuk belajar sejarah," ujar Pak Henri ketika ditemui RRI Jakarta, Minggu 24 Mei 2026.

Pak Henri juga mengusulkan ide inovatif untuk menghidupkan suasana di sekitar makam dengan membangun sentra kerajinan Maluku. Ia membayangkan adanya area yang menjual aksesori khas Ambon hingga kain tenun Ambon yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

"Kalau ditata dengan baik, pemerintah juga yang untung. Ada pemasukan dari parkir, dari wisatawan. Bisa juga dipasang gerai-gerai yang menjual kain tenun Ambon dan pernak-pernik lainnya. Ini bukan sekadar makam, tapi aset negara yang berpotensi besar jika dikelola dengan hati," kata Henri menambahkan.

Ada nada keprihatinan saat Pak Henri bercerita tentang para pengunjung. Ia mencatat bahwa banyak orang yang datang ke makam hanya saat mereka sedang mengalami kesulitan hidup atau mencari jalan keluar spiritual.

"Namanya manusia, kadang kalau lagi susah atau miskin baru ingat Tuhan, baru ingat datang ke sini. Padahal, harapan saya orang datang itu untuk menghormati sejarah, menghargai 'orang tua' (leluhur) yang pernah berjasa bagi bangsa ini," tuturnya.

Warisan untuk Anak Cucu

Bagi Pak Henri, perjuangannya menjaga makam selama 24 tahun terakhir adalah bentuk ketaatan pada "firman" dan amanah. Ia merasa telah banyak ditolong secara spiritual oleh sosok Kapitan Yongker, sehingga ia merasa memiliki hutang budi untuk memastikan sejarah sang panglima tidak hilang ditelan zaman.

"Sejarah itu tidak boleh hilang. Supaya anak cucu kita ke depan tahu siapa Kapitan Yongker, bagaimana perjuangannya. Jangan sampai situs ini hilang begitu saja hanya karena kita kurang peduli," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....