Makam Kapitan Yongker, Permata Sejarah Maluku yang Terabaikan

  • 25 Mei 2026 11:48 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, jakarta – Di tengah hiruk-pikuk kawasan industri Cilincing, Jakarta Utara, terdapat sebuah situs cagar budaya yang menyimpan jejak sejarah besar nusantara: Makam Kapitan Yongker. Namun sayang, situs yang seharusnya menjadi kebanggaan ini kini kondisinya memprihatinkan, seolah "dianaktirikan" dibandingkan situs sejarah lainnya di Jakarta.

Pak Kasmadi (50), seorang warga yang telah menjadi penghubung sekaligus penjaga sukarela situs ini sejak tahun 2020, menceritakan betapa sulitnya masyarakat menemukan lokasi makam tersebut. Tanpa adanya papan petunjuk arah yang memadai di persimpangan jalan besar, banyak pengunjung yang tersesat.

"Dibandingkan situs lain seperti Pitung atau Mbah Priok yang punya denah dan penunjuk arah, di sini dari perempatan Cilincing sampai ke lokasi itu kosong (informasi). Kalau tidak saya tegur, orang tidak akan tahu kalau di dalam sini ada makam bersejarah," ujar Pak Kasmadi saat ditemui RRI Jakarta di lokasi. Minggu 24 Mei 2026.

Kapitan Yongker sebenarnya bernama asli Ahmad Sangaji, seorang putra asli Maluku yang memiliki peran signifikan dalam sejarah kolonial VOC di abad ke-17. Meski namanya legendaris, kondisi makamnya saat ini jauh dari kata layak. Pak Kasmadi menggambarkan area sekitar makam menyerupai "hutan belantara" yang tidak terawat.

Tanpa adanya juru kunci resmi dari pemerintah, Pak Kasmadi melakukan perawatan secara sukarela. "Saya di sini cuma perantara. Kalau ada yang mau ziarah, saya bantu ambilkan kunci. Sehari-hari ya saya ikhlas saja menyapu dan merapikan, biar tempatnya tidak terlalu berantakan," ujarnya menambahkan.

Meskipun lokasinya tersembunyi dan minim fasilitas, daya tarik Makam Kapitan Yongker tetap kuat bagi sebagian kalangan. Pengunjung datang dari berbagai daerah seperti Harapan Indah, Joglo, hingga Cijantung. Bahkan, dalam dua tahun terakhir, Pak Kasmadi mencatat ada setidaknya tiga kali kunjungan dari warga negara Belanda yang tertarik dengan sejarah VOC.

Selain pengunjung yang mencari nilai sejarah, banyak pula peziarah yang datang untuk tujuan spiritual. Menariknya, Pak Kasmadi menceritakan bahwa beberapa pengunjung datang setelah mengaku mendapat "petunjuk" melalui mimpi.

"Banyak cucu-cucunya dari Maluku yang datang setelah dimimpiin dulu, baru ke sini. Seolah-olah dituntun. Kalau tidak begitu, mungkin mereka juga lupa kalau ada makam ini," ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....