Kisah Kapitan Yongker dan Hilangnya Nama Kampung Pejongkeran di Marunda

  • 25 Mei 2026 11:43 WIB
  •  Jakarta

RRI. CO. ID, Jakarta – Di balik kokohnya bangunan industri Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, tersimpan sebuah narasi besar tentang seorang panglima perang legendaris asal Maluku, Kapitan Yongker. Pak Henri (67), juru kunci yang telah lama menjaga situs tersebut, membagikan kisah tentang kesaktian, pengkhianatan, hingga perubahan administratif yang menghapus nama besar sang Kapitan dari peta wilayah.

Bagi masyarakat Maluku, Kapitan Yongker akrab disapa dengan sebutan "Tete" yang berarti kakek. Sejarah mencatat ia sebagai panglima perang yang tak terkalahkan pada abad ke-17. Namun, kegagahannya berakhir tragis akibat politik adu domba.

"Dia dikeroyok Belanda di sini pada abad ke-16 (menuju 17). Istilahnya, dia 'hilang' di lokasi ini setelah dikhianati," ujar Pak Henri saat ditemui RRI Jakarta, Senin 24 Mei 2026.

Awalnya, Yongker sangat disayangi oleh komandan VOC-nya dan dihadiahi lahan luas di wilayah yang kini dikenal sebagai Marunda. Namun, pengganti komandan tersebut tidak menyukai Yongker dan memerintahkan pasukannya untuk menghabisi sang Kapitan.

Sisi mistis dan legendaris menyelimuti kisah Kapitan Yongker, terutama mengenai sumber kekuatannya. Pak Henri menceritakan legenda istrinya, Putri Fajar, yang konon lahir secara ajaib dari sebuah bambu kuning.

"Waktu orang tuanya mau potong bambu untuk bikin bubu ikan, ada suara dari dalam bambu: 'Jangan potong di tengah, potong di ujung.' Begitu dipotong, keluarlah si Putri yang sakti itu," kisah Pak Henri.

Putri Fajar inilah yang kemudian "memandikan" Kapitan Yongker, memberinya kesaktian dan kegagah perkasaan yang membuatnya menjadi panglima perang yang disegani di berbagai medan pertempuran, mulai dari Jawa, Padang, hingga Makassar.

Hilangnya Nama "Pejongkeran"

Sejarah mencatat bahwa wilayah di sekitar makam tersebut dulunya bernama Kampung Pejongkeran, yang diambil dari nama Kapitan Yongker. Wilayah ini dulunya merupakan pemukiman warga yang hidup berdampingan dengan situs sejarah.

Namun, seiring dengan pembangunan pelabuhan dan kawasan industri KBN Marunda, wajah wilayah tersebut berubah total. Warga direlokasi, dan fasilitas umum seperti Sekolah Dasar (SD) yang dulu berdiri di samping makam pun dipindahkan.

"Semenjak dibikin pelabuhan dan KBN ini, penduduknya hilang. Dulu di samping ini ada SD, sekarang sudah jadi kantor. Entah bagaimana, nama Pejongkeran itu sekarang sudah tidak dipakai lagi oleh pemerintah, diganti jadi KBN Marunda," tambah Pak Henri dengan nada prihatin.

Meskipun secara administratif nama Pejongkeran mulai pudar, upaya pelestarian situs ini sebenarnya telah dilakukan sejak masa kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin pada era 1960-an hingga 1970-an. Pak Henri menyebutkan adanya surat-surat resmi terkait revitalisasi cagar budaya tersebut yang masih tersimpan.

Sebagai juru kunci, Pak Henri berharap agar nilai sejarah Kapitan Yongker tidak benar-benar terkubur oleh industrialisasi. Baginya, menjaga makam ini bukan sekadar tugas kebersihan, melainkan menjaga memori tentang seorang pahlawan yang pernah berjaya di tanah Batavia namun terlupakan oleh zaman.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....