Gubernur Pramono Sebut Kenaikan Harga Pangan Tak Ganggu Inflasi Jakarta

  • 14 Sep 2026 14:44 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, meyakini kenaikan harga pangan, terutama cabai, yang sempat terjadi dalam beberapa waktu terakhir tidak akan mengganggu laju inflasi di ibu kota. Optimisme tersebut didasarkan pada kondisi pasokan pangan yang dinilai masih terjaga serta sistem distribusi yang berjalan baik.

“Untuk harga pangan, di DKI terutama karena kami infrastrukturnya sudah berjalan dengan baik, memang betul ada kenaikan sedikit, tetapi saya yakin tidak akan mengganggu inflasi yang ada,” kata Pramono, saat ditemui di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin 14 September 2026.

Menurutnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus memantau perkembangan harga pangan setiap hari. Ia menyebut, harga cabai yang sebelumnya mengalami lonjakan, kini mulai bergerak turun dan relatif kembali normal.

Pramono mengatakan, keseimbangan antara pasokan dan permintaan kebutuhan pokok di sejumlah pasar Jakarta masih terjaga. Pemerintah daerah juga memiliki stok komoditas strategis, seperti beras, daging, dan cabai, untuk menjaga stabilitas harga.

Ia menambahkan, saat ini belum memasuki periode hari besar yang biasanya mendorong lonjakan permintaan cabai dalam jumlah besar, sehingga tekanan terhadap harga diperkirakan dapat dikendalikan.

“Memang apalagi kebutuhan cabai sekarang ini kan tidak menghadapi hari-hari besar yang membutuhkan cabai dalam jumlah besar. Mudah-mudahan ini bisa tertangani dengan baik,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, menjelaskan bahwa kenaikan harga cabai tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga di berbagai daerah lain. Ia mengatakan, salah satu penyebab utamanya adalah penurunan luas tanam cabai rawit merah sebesar 14 persen pada periode Februari hingga Juli 2026. Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya produksi selama Agustus hingga Desember 2026.

Selain itu, puncak musim kemarau turut memperburuk kondisi pertanaman akibat berkurangnya pasokan air. Dampaknya, pertumbuhan tanaman terhambat, bunga banyak yang rontok, dan pembentukan buah menjadi tidak optimal.

Hasudungan juga menyebut serangan hama seperti kutu kebul, thrips, tungau, dan ulat semakin menekan produktivitas tanaman. Di sisi lain, kenaikan harga bahan bakar minyak turut meningkatkan biaya produksi dan distribusi pangan, sehingga ikut mendorong kenaikan harga di tingkat pasar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....