Pakar Sebut Kecelakaan Maut Kembang Kerep Bukan Sekadar Faktor Pengemudi

  • 08 Sep 2026 19:47 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Pakar Psikologi Transportasi dan Keselamatan Jalan Raya, Charli Sitinjak, meminta kecelakaan beruntun maut di turunan Jalan Kembang Kerep, Kembangan, Jakarta Barat, tidak disimpulkan secara terburu-buru hanya dari satu sudut pandang.

Kecelakaan yang terjadi pada Sabtu (5/9/2026) tersebut menewaskan tiga orang yang merupakan satu keluarga dan saat kejadian tengah mengendarai sepeda motor.

Charli mengatakan, dalam perspektif keselamatan transportasi, kecelakaan merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor manusia, kondisi kendaraan, dan lingkungan jalan.

“Jangan langsung menyimpulkan bahwa ini semata-mata kesalahan pengemudi atau sebaliknya menyalahkan kendaraan listrik,” kata Charli melalui keterangannya pada Selasa, 8 September 2026.

Menurut Charli, dari perspektif psikologi transportasi, kemampuan pengemudi dalam mengenali bahaya sejak dini dan menjaga situational awareness sangat penting, terutama ketika melintasi jalan menurun.

Pengemudi tidak hanya dituntut melihat kendaraan di depannya, tetapi juga harus mampu memperkirakan perubahan kondisi lalu lintas. Pada jalan menurun, kendaraan membutuhkan jarak lebih panjang untuk berhenti sehingga pengemudi perlu melakukan antisipasi lebih awal.

“Kalau kendaraan memang melaju dengan kecepatan yang relatif tinggi kemudian baru melakukan pengereman ketika jarak sudah sangat dekat, maka ada kemungkinan terjadi kegagalan antisipasi atau keterlambatan dalam mengambil keputusan,” paparnya.

Namun, Charli menegaskan dugaan tersebut tetap harus dibuktikan melalui proses investigasi. “Tetapi hal ini tetap harus dibuktikan melalui rekaman CCTV, kecepatan kendaraan, jejak pengereman dan rekonstruksi kecelakaan,” lanjutnya.

Charli menjelaskan, dalam keselamatan jalan, kecepatan memiliki hubungan langsung dengan kemampuan manusia dalam merespons bahaya.

Semakin tinggi kecepatan kendaraan, semakin singkat waktu yang tersedia bagi pengemudi untuk mengenali bahaya, mengambil keputusan, dan melakukan pengereman.

Di sisi lain, jarak yang dibutuhkan kendaraan untuk berhenti juga menjadi semakin panjang. Karena itu, menjaga jarak aman menjadi sangat penting ketika kendaraan melintasi jalan menurun.

“Pengemudi harus memperhitungkan bukan hanya posisi kendaraan di depan saat ini, tetapi juga kemungkinan kendaraan tersebut melakukan pengereman atau mengalami perlambatan,” tutur Charli.

Ia mengatakan, apabila hasil investigasi nantinya membuktikan kendaraan melaju dengan kecepatan yang tidak sesuai dengan kondisi jalan dan lalu lintas, persoalannya bukan sekadar pengemudi tidak sempat mengerem.

“Jadi, kalau nantinya terbukti kendaraan datang dengan kecepatan yang tidak sesuai dengan kondisi jalan dan lalu lintas, maka masalahnya bukan hanya tidak sempat mengerem, tetapi kemungkinan terdapat kegagalan dalam speed management, hazard anticipation, dan risk perception,” lanjutnya.

Charli juga menyoroti kondisi psikologis pengemudi ketika menyadari tabrakan sudah berada dalam jarak sangat dekat. Dalam situasi darurat, tekanan psikologis dapat menyebabkan attentional narrowing, yakni kondisi ketika perhatian seseorang menyempit pada ancaman utama.

Kondisi tersebut dapat menurunkan kemampuan seseorang untuk mengevaluasi berbagai alternatif tindakan sehingga respons yang muncul menjadi lebih cepat dan otomatis.

“Jika benar terdapat manuver membanting setir ketika kendaraan mulai oleng, tindakan tersebut perlu dilihat sebagai emergency decision-making under stress. Tetapi saya tidak akan langsung mengatakan pengemudi panik atau salah menginjak pedal. Itu harus dibuktikan melalui rekonstruksi,” paparnya.

Ia menegaskan, psikologi transportasi harus mampu membedakan antara kondisi yang terlihat dari luar dengan proses psikologis yang sebenarnya terjadi di dalam diri pengemudi.

Berdasarkan keterangan kepolisian, kecelakaan beruntun tersebut bermula ketika minibus BYD bernomor polisi B 2703 BNA yang dikemudikan Karsono (51) melaju dari arah selatan menuju utara di Jalan Kembang Kerep.

Saat tiba di dekat turunan jembatan, kendaraan tersebut menabrak bagian belakang Kijang Innova B 1277 UIH yang dikemudikan Hadi Wibawa.

Benturan membuat Kijang Innova terdorong hingga menghantam Toyota Fortuner L 102 BAD yang berada di depannya.

Toyota Fortuner kemudian oleng ke kanan dan bodi samping kirinya menghantam sepeda motor Honda Vario yang dikendarai Andi Prasetyo bersama keluarganya di lajur kiri.

Terkait keterlibatan kendaraan listrik dalam kecelakaan tersebut, Charli mengingatkan agar teknologi Electric Vehicle (EV) tidak langsung dijadikan kambing hitam.

Menurutnya, kendaraan listrik memiliki karakteristik seperti respons akselerasi yang cepat, regenerative braking, serta bobot baterai yang berbeda dari kendaraan konvensional. Karena itu, aspek driver-vehicle adaptation perlu turut diperiksa dalam investigasi.

Di sisi lain, Charli menilai analisis kecelakaan tidak boleh hanya dibebankan kepada pengemudi. Kondisi lokasi kecelakaan di Jalan Kembang Kerep juga perlu diaudit secara menyeluruh oleh pemerintah.

“Prinsip Safe System Approach itu sederhana, yakni manusia bisa melakukan kesalahan, sehingga sistem transportasi harus dirancang agar kesalahan tersebut tidak langsung menyebabkan kematian,” jelasnya.

Ia menilai sejumlah aspek perlu dievaluasi, mulai dari kondisi turunan, batas kecepatan, jarak pandang, rambu lalu lintas, hingga perlindungan terhadap pengguna sepeda motor yang lebih rentan.

Mengenai proses hukum, Charli menekankan kepolisian harus menetapkan tersangka secara objektif berdasarkan alat bukti yang sah, bukan karena tekanan publik.

Menurutnya, alat bukti yang perlu diperhatikan antara lain hasil rekam medis, jejak pengereman, analisis CCTV, hingga rekonstruksi kecelakaan.

“Sistem transportasi yang baik bukan sistem yang mengharapkan manusia tidak pernah salah, melainkan sistem yang mampu ‘memaafkan’ kesalahan manusia dan mencegah kesalahan tersebut berubah menjadi tragedi kematian,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....