Pameran Seni Rupa 100 Tahun Ali Sadikin akan Hadir di TIM

  • 02 Sep 2026 23:17 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Taman Ismail Marzuki (TIM) menggelar Pameran Seni Rupa “100 Tahun Ali Sadikin: Memoria dan Utopia Jakarta” sebagai ruang refleksi atas warisan kebudayaan Gubernur DKI Jakarta periode 1966-1977 sekaligus ajakan membayangkan masa depan ibu kota sebagai kota seni dan budaya.

Pameran yang berlangsung di Selasar Nashar, Paviliun Raden Saleh (PRS) tersebut akan di gelar pada 20 November hingga 10 Desember 2026. Nantinya pameran tersebut akan menghadirkan karya 35 seniman dari Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.

Pameran yang dikuratori Syakieb Sungkar bersama Hairus Salim tersebut menjadi salah satu kolaborasi antara PT Jakarta Propertindo (Perseroda) atau Jakpro dengan para seniman dalam memperkuat ekosistem kesenian di kawasan TIM.

Head of SBU TIM Jakpro Anya Aprilia mengatakan pengembangan TIM tidak hanya berfokus pada penyediaan ruang pertunjukan, tetapi juga menciptakan ruang yang mendukung interaksi dan kolaborasi antarseniman, termasuk melalui kehadiran Paviliun Raden Saleh.

“PRS dirancang dengan memperhatikan karakteristik TIM sebagai salah satu ruang berkumpulnya para seniman. Kehadiran fasilitas tersebut memungkinkan seniman dari luar Jakarta, bahkan dari luar negeri, mendapatkan tempat yang mendukung selama berkegiatan di kawasan TIM,” ujar Anya, di Jakarta, Rabu, 2 September 2026.

Menurutnya, PRS menjadi lebih dari sekadar fasilitas akomodasi karena juga berfungsi sebagai ruang perjumpaan yang membuka peluang pertukaran pengetahuan, gagasan, pengalaman, hingga kolaborasi kreatif antara seniman lokal, nasional, dan internasional.

Sementara itu, Kurator Hairus Salim mengatakan pameran ini menjadi momentum untuk mengenang sosok Ali Sadikin sebagai pemimpin yang memberi ruang besar bagi perkembangan kebudayaan Jakarta.

“Hal penting dari peran Ali Sadikin adalah bagaimana beliau mengembangkan Jakarta sebagai kota kebudayaan,” kata Hairus.

Ia menilai kolaborasi dengan Jakpro menunjukkan adanya komitmen untuk menghadirkan kegiatan seni yang relevan dengan perjalanan sejarah Jakarta.

“Kami bersemangat membuat event ini karena ada komitmen dari Jakpro untuk berkolaborasi dan menghadirkan kegiatan yang baik,” ujarnya.

Kurator Syakieb Sungkar menjelaskan seluruh karya dalam pameran berangkat dari arsip sejarah yang menjadi pijakan para seniman dalam menafsirkan dinamika pembangunan Jakarta pada masa kepemimpinan Ali Sadikin. “Lukisan-lukisan ini menceritakan aspek paradoksal dari pembangunan itu sendiri,” ujar Syakieb.

Menurutnya, para perupa yang terlibat dipilih berdasarkan kemampuan mereka mengolah tema sejarah dan pembangunan melalui pendekatan realis maupun karikaturis sehingga mampu menghadirkan narasi visual yang mudah dipahami publik.

Di sisi lain, pameran tersebut sekaligus mempertegas transformasi TIM sebagai ruang seni yang semakin inklusif dan terintegrasi. Selain menjadi tempat pementasan, kawasan ini kini menyediakan ruang bagi seniman untuk tinggal, berdiskusi, membangun jejaring, hingga memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada komunitas internasional.

Seniman TIM sekaligus Panitia Pameran, Seno Joko Suyono, mengatakan TIM telah berkembang menjadi ruang hidup bagi ekosistem seni. “Bagi kami para seniman, TIM bukan sekadar gedung atau kawasan kesenian. TIM adalah ruang hidup tempat gagasan bertemu, karya tumbuh, dan kebudayaan Indonesia diperkenalkan kepada dunia,” katanya.

Melalui pameran berbasis arsip tersebut, penyelenggara berharap masyarakat tidak hanya mengenang sosok Ali Sadikin, tetapi juga diajak melihat kembali perjalanan Jakarta melalui perspektif seni yang lebih dekat, kritis, dan relevan dengan masa kini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....