Stasiun KRL Karet Ditutup

  • 31 Agt 2026 12:32 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Penutupan layanan penumpang Stasiun Karet diarahkan ke Stasiun Sudirman Baru atau BNI City mulai 1 September 2026.
  • Pengamat transportasi menilai penggabungan layanan dapat mendukung Transit Oriented Development dan membuat perjalanan kereta lebih efisien.
  • KRLmania meminta akses pejalan kaki dari BNI City menuju kawasan Karet Tengsin diperbaiki, termasuk fasilitas bagi penyandang disabilitas dan kelompok rentan.

RRI.CO.ID, Jakarta – Rencana penutupan layanan penumpang Stasiun Karet mulai 1 September 2026 menuai beragam komentar, salah satunya membuka kembali perdebatan mengenai jarak antarstasiun bagi para pengguna.

Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia, Deddy Herlambang, menilai kebijakan tersebut memiliki alasan yang kuat jika dilihat dari sisi pengelolaan transportasi secara keseluruhan. Namun, pegiat komunitas KRLmania, Nenden Resti, melihat persoalan berbeda, terutama bagi penumpang yang bekerja atau beraktivitas di kawasan Karet Tengsin.

Akun Instagram resmi @commuterline mengumumkan rencana penutupan stasiun Karet mulai 1 September 2026. Itu artinya, hari ini, Senin, 31 Agustus 2026 menjadi hari terakhir stasiun ini beroperasi. KAI Commuter bilang Stasiun Karet dan Stasiun Sudirman Baru atau BNI City terus dibenahim yang menurut mereka untuk mendukung integrasi layanan yang lebih aman dan terhubung.

Menurut Deddy Herlambang, keberadaan Stasiun Karet, Stasiun Sudirman, dan Stasiun BNI City perlu dilihat sebagai bagian dari satu sistem, bukan sebagai fasilitas yang berdiri sendiri.

“Di dalam konsep Transit Oriented Development atau TOD, masyarakat memang diharapkan berjalan kaki untuk mengampanyekan non-motorized transport, jalan kaki dan sepeda,” ujar Deddy saat diwawancarai Radio 91,2 FM Pro1 RRI Jakarta, Senin, 31 Agustus 2026. Menurut dia, jarak sekitar 200 meter dari Stasiun Karet menuju BNI City masih berada dalam jarak yang memungkinkan untuk ditempuh dengan berjalan kaki.

Deddy menilai terlalu banyak titik pemberhentian juga dapat memengaruhi waktu perjalanan kereta. Setiap pemberhentian membutuhkan waktu untuk proses naik-turun penumpang sehingga pemangkasan titik berhenti, menurut dia, dapat membuat perjalanan antarkawasan menjadi lebih efisien.

“Kalau terlalu banyak stasiun, itu juga menambah perjalanan kereta,” kata Deddy. Ia menjelaskan, pengurangan titik pemberhentian merupakan bagian dari prinsip efisiensi perjalanan dalam jaringan kereta perkotaan.

Pengguna kereya beraktivitas di kawasan Stasiun BNI City Jakarta. (Foto: IG @commuterline)
Mengapa BNI City, Bukan Memperbesar Stasiun Karet?

Pertanyaan mengenai mengapa Stasiun Karet tidak direvitalisasi justru menjadi salah satu keberatan yang disampaikan pengguna kereta. Nenden Resti mengatakan pertanyaan itu telah lama muncul di kalangan komunitas KRLmania karena Stasiun Karet dinilai memiliki lokasi yang strategis bagi pekerja di kawasan Karet Tengsin.

“Stasiun Karet itu memang kecil, cuma kenapa malah dibangun stasiun yang baru bukannya kemudian melakukan revitalisasi di Stasiun Karet,” ucap Nenden. Menurut dia, persoalan tersebut semakin terasa karena pengguna yang selama ini turun di Karet harus melanjutkan perjalanan dari BNI City menuju kawasan perkantoran di sekitarnya.

Menurut pandangan Deddy sejarah dan fungsi kedua stasiun tersebut berbeda. Menurut dia, pembangunan BNI City sejak awal berkaitan dengan layanan kereta bandara, sementara Stasiun Karet memiliki sejarah sebagai halte yang kemudian berkembang menjadi titik pelayanan penumpang.

“Beda, konsepnya beda. BNI City kan memang untuk kereta bandara,” kata Deddy. Ia menilai keberadaan sejumlah stasiun yang kemudian berada dalam pengoperasian badan yang sama juga membuat aspek efisiensi manajemen perlu diperhitungkan.

Kereta Bandara melintasi kawasan Stasiun BNI City, Jakarta, sebagai bagian dari layanan transportasi yang menghubungkan pusat kota dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta. (Foto: Instagram @commuterline)
Ada Persoalan yang Tidak Terlihat dari Jarak 200 Meter

Angka 200 meter tampak pendek ketika dihitung di atas peta. Namun, bagi penumpang yang membawa barang, memiliki keterbatasan mobilitas, atau harus berjalan dalam kondisi cuaca Jakarta, jarak tersebut dapat berubah menjadi persoalan akses.

Nenden mengatakan persoalan utama bukan semata-mata jarak antara kedua stasiun, melainkan kualitas jalur yang harus dilalui penumpang. “Yang jelas aksesnya. Kalau misalnya tetap harus berhenti di BNI City, artinya akses untuk ke arah Karet Tengsin itu yang harus dibuat lebih baik,” ujar Nenden.

Kelompok rentan menjadi perhatian khusus dalam persoalan tersebut. Nenden mempertanyakan apakah jalur yang menghubungkan BNI City dengan kawasan Karet telah benar-benar siap digunakan secara aman dan nyaman oleh penyandang disabilitas serta pengguna yang memiliki keterbatasan mobilitas.

“Terutama masalah keamanan untuk jalan kaki ke arah sana, bagaimana caranya supaya dibuat lebih nyaman, kemudian juga tolong pikirkan juga masalah disabilitas,” ucap Nenden. Bagi KRLmania, penataan stasiun tidak cukup hanya dengan menentukan titik pemberhentian baru, tetapi harus memastikan perjalanan sejak keluar dari stasiun hingga tujuan akhir tetap mudah dilakukan.

Pusat kota Jakarta dilihat dari langit. (Foto: Instagram @commuterline)
KAI Commuter Menyiapkan Integrasi

Data akun Instagram resmi @commuterline yang kami akses pada Senin, 31 Agustus 2026, menunjukkan penataan kawasan tidak berhenti pada pengalihan layanan. KAI Commuter menyebut Stasiun Karet dan Stasiun Sudirman Baru atau BNI City terus dibenahi untuk mendukung integrasi layanan yang lebih aman dan terhubung.

Dalam penataan tersebut, Stasiun Karet disebut tetap digunakan sebagai akses pengguna dari Jalan K.H. Mas Mansyur menuju Stasiun Sudirman Baru atau BNI City. Penghubung antarkawasan juga disiapkan melalui pengembangan hall penghubung dan penyediaan travelator untuk memudahkan pengguna menuju layanan Commuter Line.

KAI Commuter juga menyebut Stasiun Sudirman Baru atau BNI City memiliki kapasitas melayani hingga 3.805 pengguna naik dan turun. Sementara itu, Stasiun Karet disebut hanya memiliki kapasitas 300 orang per peron, sedangkan jumlah pengguna mencapai hampir 14.000 orang per hari.

Data tersebut menjadi salah satu alasan penting di balik penataan ulang layanan. Ketika jumlah pengguna jauh lebih besar daripada kapasitas peron, persoalannya bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga bagaimana mengatur arus manusia agar lebih aman dan tidak menimbulkan kepadatan pada satu titik.

TOD dan Tantangan Last Mile

Dalam konsep Transit Oriented Development atau TOD, stasiun bukan sekadar tempat penumpang naik atau turun kereta. Stasiun menjadi simpul yang menghubungkan berbagai moda transportasi sekaligus kawasan tempat orang berjalan kaki menuju tempat kerja, pusat kegiatan, dan layanan publik.

Deddy mengatakan Stasiun Sudirman dan BNI City dapat berfungsi sebagai simpul utama yang menghubungkan sejumlah moda. “Dalam TOD, biasanya titik simpulnya itu ada di stasiun,” ujar dia.

Menurut Deddy, konektivitas dengan MRT Jakarta, LRT Jabodebek, TransJakarta, Commuter Line Basoetta, dan moda lainnya membuat konsolidasi simpul transportasi menjadi penting. Persoalannya kemudian bergeser dari sekadar “di mana penumpang turun” menjadi “seberapa mudah penumpang mencapai tujuan akhirnya”.

Di titik inilah konsep last mile menjadi penting. Stasiun yang secara makro efisien belum tentu terasa efisien bagi setiap pengguna jika jalur menuju kawasan tujuan tidak aman, nyaman, dan mudah diakses.

Antara Efisiensi dan Kenyamanan Pengguna

Deddy menilai jarak berjalan kaki sekitar 200 meter masih tergolong dekat dalam konteks transportasi publik perkotaan. Ia bahkan membandingkannya dengan sejumlah perjalanan antarmoda yang mengharuskan pengguna berjalan lebih jauh.

“Biasanya kalau bagi pengguna transportasi umum, jalan kaki itu hal yang biasa,” kata Deddy. Ia menilai perubahan pola perjalanan memang dapat menimbulkan kegaduhan pada awal penerapan, tetapi belum tentu menunjukkan bahwa kebijakan tersebut keliru.

Nenden Resti dari komunitas KRLmania tidak sepenuhnya menolak penataan layanan. Persoalan yang dia soroti adalah kesiapan fasilitas sebelum seluruh pengguna Karet dialihkan ke BNI City.

“Kalau misalnya tetap memang mau ditutup Karet, setidaknya akses yang dekat Es Teler 77 itu segera diselesaikan,” ujar Nenden. Menurut dia, penyelesaian akses tersebut dapat menjadi jalan pintas bagi pengguna dari arah Sudirman dan Thamrin sekaligus membantu mengurangi kepadatan di Stasiun Sudirman.

google-preference
Audio
Putar Audio

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....