Pasar Kramat Jati Ditata usai Kecelakaan Maut

  • 26 Agt 2026 12:54 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – Kecelakaan maut di Kramat Jati mendorong pemerintah menata kawasan dan merelokasi pedagang dari bahu jalan serta trotoar. Namin, anggota Dewan Pembina Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia atau APPSI DKI Jakarta, Ngadiran, menilai penataan seharusnya dilakukan sejak lama.

Diwawancara radio Pro1 RRI Jakarta, Ngadiran, menilai penataan kawasan tersebut seharusnya dilakukan sejak lama, bukan baru setelah kecelakaan terjadi. Ia mengatakan keberadaan pedagang di luar area pasar perlu ditata dengan tetap memperhatikan keberlangsungan usaha para pedagang.

“Sudah terlambat. Seharusnya bukan lima tahun, puluhan tahun lalu itu ditata dengan sebaik-baiknya,” ujar Ngadiran dalam wawancara Radio 91,2 FM, Rabu, 26 Agustus 2026.

Dalam siaran pagi itu, Ngadiran bilang pemerintah sebenarnya memiliki banyak pilihan tempat untuk menampung pedagang karena terdapat pasar dengan ruang yang belum dimanfaatkan secara optimal. Menurut dia, penataan tidak berarti melarang pedagang kaki lima berjualan, tetapi menempatkan mereka di lokasi yang sesuai agar aktivitas perdagangan tidak mengganggu kepentingan masyarakat.

“Saya tidak anti dengan pedagang kaki lima, itu saudara kita. Tetapi tempatkan di pasar itu kan banyak,” ucapnya.

Pemerintah Kota Jakarta Timur sebelumnya menyiapkan tiga lokasi binaan sebagai kandidat relokasi pedagang di kawasan Jalan Raya Bogor, Kramat Jati. Wali Kota Jakarta Timur Munjirin menyebut lokasi tersebut terdiri atas Lokasi Binaan Kramat Jati di samping Lippo Plaza Kramat Jati, Lokasi Binaan Cililitan, dan Lokasi Binaan Nusa.

Munjirin mengatakan terdapat sekitar 621 tempat yang disiapkan untuk menampung pedagang berdasarkan pemetaan jenis dagangan dan kesesuaian lokasi. Dari tiga lokasi binaan tersebut, tersedia 114 kios kosong di Lokasi Binaan Kramat Jati, 21 kios kosong di Lokasi Binaan Cililitan, dan 27 kios kosong di Lokasi Binaan Nusa.

"Ada tiga lokasi yang menjadi kandidat relokasi para pedagang PKL di kawasan Kramat Jati," kata Wali Kota Munjirin seperti dilansir kantor berita Antara.

Penataan pasar dilakukan setelah kecelakaan yang menewaskan Hammamshidqi, 18 tahun, pada Senin, 17 Agustus 2026. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebut kecelakaan bermula ketika sepeda motor korban terjatuh akibat kondisi jalan licin, kemudian korban terlindas truk pengangkut sampah milik Dinas Lingkungan Hidup yang melaju searah.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebelumnya meminta kondisi jalan yang berpotensi membahayakan segera ditangani agar kejadian serupa tidak terulang. Pemerintah Kota Jakarta Timur kemudian memperketat pengawasan dan pembersihan kawasan dengan melibatkan perangkat daerah terkait.

"Yang di Pasar Kramat Jati, kebetulan saya mengikuti karena memang kondisinya adalah karena jalan yang licin, terpeleset, dan kemudian tertabrak oleh mobil Dinas Lingkungan Hidup," ujar Pramono sehari setelah insiden kecelakaan, Selasa, 18 Agustus 2026 seperti dilansir website resmi Pemprv DKI Jakarta.

Keluarga korban juga meminta Pemerintah Provinsi DKI Jakarta lebih tegas membenahi kawasan tersebut. Ayah korban, Eri Yusnovi dikutip Antara, mengatakan kondisi jalan masih licin beberapa hari setelah kejadian dan meminta penataan dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya dengan memundurkan lapak pedagang.

"Kalau saya lihat dari hari pertama kejadian sampai sekarang belum ada tindakan yang tegas di lapangan. Jalan masih licin, ada yang jatuh walaupun enggak sampai seperti anak saya," kata Eri Yusnovi di Balai Kota.

Saat menyambangi Balai Kota, Eri bersama kuasa hukumnya menyerahkan surat kepada perwakilan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.

Ia berharap ke depannya Pemerintah Jakarta dapat menunjukkan keseriusannya untuk menata kawasan tersebut.

Eri menceritakan lokasi kecelakaan yang menewaskan anaknya merupakan pasar tumpah yang didominasi penjual ikan dan hasil laut lainnya. Ceceran limbah ikan dan komoditas laut di sepanjang jalan membuat jalanan licin.

Menurut Eri, sudah ada komunikasi antara keluarga dengan Dinas Lingkungan Hidup Jakarta, pihak kelurahan, dan Wali Kota Jakarta Timur Munjirin. Namun ia menyebut musibah ini bukan semata belasungkawa dan tanggung jawab sosial.

"Yang dilakukan oleh Satpol PP hanya mundurin lapak pedagang dan arahan jangan buang limbah di jalan. Bagi saya intinya bukan di situ. Kondisi jalan yang licin. Seharusnya bisa lebih tegas, area jalan bukan untuk dagangan," kata Eri.

Menurut Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia atau APPSI DKI Jakarta, penataan harus dilakukan dengan memperhatikan kepentingan pedagang sekaligus keselamatan masyarakat. “Kita itu kan sebenarnya menyadari bahwa mau pedagang kaki lima, mau pedagang yang ada di pasar, mau pedagang apa pun, itu sudah membantu menampung tenaga kerja,” kata Ngadiran uamh menjadi anggota dewan pembina di APPSI DKI Jakarta.

Ia berharap pemerintah tidak hanya melakukan penertiban setelah muncul persoalan, tetapi membangun sistem pengelolaan pasar yang membuat pedagang dapat berjualan secara tertib. “Masyarakat pedagang itu juga jangan hanya dicukai saja tetapi tidak dilayani dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.

google-preference
Audio
Putar Audio

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....