Hadapi Cuaca Ekstrem, Gulkarmat Jakbar Perkuat Pencegahan Kebakaran

  • 19 Agt 2026 16:54 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah melalui Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Barat akan mengintensifkan sosialisasi, simulasi, dan gladi pencegahan kebakaran di kawasan permukiman padat penduduk.

Kepala Suku Dinas Gulkarmat Jakarta Barat, Suheri mengatakan, hal ini dilakukan menyusul kondisi cuaca yang semakin panas dan ekstrem. Suheri menilai, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran di wilayah Jakarta Barat.

“Langkah ini dilakukan untuk mencegah kebakaran di wilayah Jakarta Barat mengingat kondisi cuaca yang terus ekstrem panas, yang mungkin kejadian-kejadian kebakaran di Jakarta Barat mulai meningkat,” kata Suheri saat dikonfirmasi, Rabu, 19 Agustus 2026.

Suheri mengatakan, kegiatan pencegahan itu akan dilakukan secara serentak di berbagai wilayah Jakarta Barat dengan mengoptimalkan potensi yang sudah ada di lingkungan masyarakat.

Ia membeberkan, kegiatan tersebut bakal meliputi sosialisasi simulasi kebakaran, hingga gladi penanganan kebakaran.

“Target capaiannya adalah bagaimana cara kebakaran bisa ditangani masyarakat. Jadi, cara pengelolaannya adalah dengan cara pemberdayaan masyarakat yang berbasis yang ada di lingkungan,” kata Suheri.

Ia menjelaskan, materi sosialisasi juga bakal disesuaikan dengan hasil evaluasi dari aetiap kejadian kebakaran yang telag terjadi.

Menurut Suheri, setiap insiden kebakaran dievaluasi untuk melihat sejauh mana peran serta masyarakat dan penerapan standar operasional prosedur (SOP) dalam penanganan kejadian.

“Kalau memang itu kejadiannya belum disosialisasi, kita jadikan target-target, wilayah-wilayah menjadi target sosialisasi,” katanya.

Sementara itu, lanjut dia, apabila sosialisasi telah dilakukan tetapi penanganan di lapangan belum optimal, pihaknya akan melakukan evaluasi kembali untuk memastikan materi dan prosedur yang diberikan benar-benar diterapkan masyarakat.

“Penanganan ini diperlukan keeja sama semua pihak, baik masyarakat, instansi terkait, maupun pemadam kebakaran. Tentu kita tidak bisa berdiri sendiri,” ujarnya.

Adapun Suheri menyebut, pihaknya memberikan perhatian lebih terhadap pembebanan listrik berlebih, penggunaan peralatan yang tidak memenuhi standar, kebocoran isolasi, hingga sambungan kabel yang tidak sempurna.

Ia menambahkan, kawasan Tambora menjadi salah satu lokasi yang mendapat perhatian karena berdasarkan pemetaan, wilayah tersebut memiliki tingkat risiko kebakaran yang sangat tinggi.

“Karena tingkat setelah dipotret, tingkat risikonya sangat luar biasa tinggi. Semakin tinggi tingkat aktivitasnya maka frekuensinya semakin tinggi,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....