Musim Kemarau Tak Selalu Buruk

  • 04 Agt 2026 11:20 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – Musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino 2026 menghadirkan dua wajah berbeda di Jakarta. Di satu sisi, petani di Rorotan, Jakarta Utara, menikmati kondisi sawah yang lebih kering menjelang panen. Namun di sisi lain, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta diminta memperkuat antisipasi terhadap ketahanan pangan dan ketersediaan air bersih agar tidak memicu lonjakan harga maupun krisis pasokan.

Petani Rorotan menghalau hama burung sebelum musim panen tiba di kawasan Rorotan, Jakarta Utara, Senin, 3 Agustus 2026. Musim kemarau membantu aktivitas petani, namun pemerintah tetap diminta mengantisipasi dampaknya terhadap ketahanan pangan dan ketersediaan air. (Foto: RRI/Ilyas)

Di tengah hamparan sawah Rorotan, Jakarta Utara, Ibu Barkah tetap menghabiskan hari-harinya menjaga tanaman padi dari serangan burung. Perempuan berusia 60 tahun itu mengaku musim kemarau kali ini justru mempermudah aktivitas petani karena kondisi lahan tidak lagi berlumpur.

"Nih, lagi jaga burung. Sekitar 20 harian lagi insyaAllah kita mau panen," ujar Barkah kepada RRI Jakarta dalam reportase kontributor kami, Syamsudin Ilyas, Senin, 3 Agustus 2026. Menurutnya, kondisi sawah yang kering membuat petani lebih leluasa bergerak saat merawat tanaman.

Pengalaman itu berbeda jauh dibanding awal tahun lalu ketika banjir merusak seluruh lahan garapannya. Barkah mengatakan ia gagal panen sehingga harus menanggung kerugian dan kesulitan melunasi biaya produksi.

"Kemarin mah kagak panen sama sekali. Tekor kita, sampai mau bayar utang bingung dari mana uangnya. Makanya sedih," ucapnya. Kini ia berharap panen sekitar 1,5 hingga 2 ton gabah dapat membantu menutup kerugian yang masih tersisa.

Cerita Barkah menunjukkan bahwa musim kemarau tidak selalu menjadi kabar buruk bagi sektor pertanian. Namun, manfaat tersebut hanya berlaku apabila ketersediaan air irigasi tetap terjaga dan kemarau tidak berlangsung terlalu lama hingga memicu kekeringan ekstrem.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG menyatakan El Nino 2026 telah memasuki kategori kuat dan berpotensi memicu musim kemarau yang lebih panjang di sebagian besar wilayah Indonesia. BMKG juga memperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus sehingga pemerintah didorong mempercepat mitigasi, menjaga cadangan air, mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan, serta memperkuat sektor pangan melalui percepatan tanam, distribusi air irigasi, dan pengendalian inflasi pangan.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Mengutip laman resmi Pemprov DKI Jakarta, Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta M. Taufik Zoelkifli meminta pemerintah daerah memastikan pasokan pangan tetap aman selama musim kemarau sekaligus menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok.

"Kami menanyakan bagaimana dampak kemarau terhadap ketersediaan pangan di Jakarta. Kalau memang ada dampaknya, harus segera diambil langkah agar ketersediaan dan harga pangan tetap terjaga," kata Taufik. Ia juga mendorong perluasan layanan air perpipaan dan pemeliharaan ruang terbuka hijau agar tidak terdampak kekeringan.

Peneliti Ekonomi Politik dan Pengamat Kebijakan Publik CELIOS, Gusti Raganata, mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperkuat ketahanan pangan dan menjaga pasokan air bersih di tengah musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino 2026. (Foto: LinkedIn.)

Peneliti Ekonomi Politik dan Pengamat Kebijakan Publik CELIOS, Gusti Raganata, menilai tantangan Jakarta jauh lebih kompleks karena kebutuhan pangan dan air tidak hanya melayani penduduk tetap, tetapi juga jutaan komuter yang beraktivitas setiap hari. Menurutnya, pemerintah harus memastikan keseimbangan antara permintaan dan pasokan agar tidak memicu krisis.

"Kalau demand tinggi tapi supply enggak ada, bisa jadi sebuah krisis. Ini benar-benar harus dijaga pasokannya," ujar Gusti saat diwawancarai Pro 1 RRI Jakarta, Selasa, 4 Agustus 2026. Ia memperkirakan kebutuhan pangan Jakarta mencapai lebih dari 5.000 ton per hari, sementara kebutuhan air mencapai sekitar 24.000 hingga 43.000 liter per detik.

Gusti menjelaskan ancaman terbesar selama musim kemarau bukan hanya berkurangnya produksi pertanian, tetapi juga kenaikan harga apabila daerah pemasok mengalami gagal panen akibat El Nino. Karena itu, pemerintah diminta memantau stok pangan di pasar dan gudang secara harian, mengawasi pergerakan harga, serta mengantisipasi praktik penimbunan.

"Pemerintah harus terus memantau stok pangan harian di pasar dan gudang, kemudian melihat perubahan cuaca di daerah pemasok. Kalau terlambat, pemerintah akan kesulitan mencari alternatif suplai makanan," kata Gusti.

Pada sektor air bersih, Gusti menilai efisiensi penggunaan air perlu menjadi prioritas dibanding sekadar menyediakan tandon. Ia mendorong percepatan pipanisasi, pemanfaatan air daur ulang untuk kebutuhan nonkonsumsi, hingga penyediaan truk tangki air sebagai langkah darurat apabila terjadi penurunan pasokan.

"Perlu adanya gerakan penghematan air dan recycling water. Mobilisasi truk angkut air gratis menurut saya lebih efektif dalam kondisi darurat," ucapnya.

Di tingkat masyarakat, upaya penghematan juga dinilai menjadi bagian penting dari mitigasi. Gusti mengingatkan agar warga menggunakan air secara bijak dan mengurangi pemborosan makanan sebagai bentuk menjaga ketahanan pangan selama musim kemarau.

"Marilah kita konsumsi secukupnya dan tidak berlebihan. Menjaga lingkungan salah satunya dengan tidak membuang-buang air maupun makanan," ujarnya.

Sementara itu, di pematang sawah Rorotan, Barkah memilih tetap fokus menjaga tanaman padinya hingga hari panen tiba. Baginya, keberhasilan musim tanam kali ini bukan hanya soal hasil gabah, tetapi juga harapan untuk bangkit setelah gagal panen akibat banjir pada musim sebelumnya.

"Kita mah pasrah aja sama Yang Kuasa. Yang penting usahanya udah maksimal. Minta doanya biar panen kali ini berhasil," kata Barkah.

google-preference
Audio
Putar Audio

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....