Kelurahan Cempaka Putih Timur Sulap Sampah Daun jadi Kompos
- 11 Jul 2026 17:58 WIB
- Jakarta
Poin Utama
- Kelurahan Cempaka Putih Timur mengembangkan program komposting untuk mengolah sampah organik berupa dedaunan menjadi pupuk bernilai ekonomis dengan harga Rp10.000 per kilogram.
- Program ini telah berhasil mengurangi volume sampah pohon hingga sembilan meter kubik setiap hari melalui proses pencacahan dan dekomposisi selama tiga bulan.
- Fasilitas komposting telah dikembangkan di tiga wilayah (RW 1, RW 3, dan RW 5) untuk memperluas partisipasi masyarakat dan mendukung keberlanjutan ekonomi sirkular di Jakarta Pusat.
RRI.CO.ID, Jakarta – Kelurahan Cempaka Putih Timur, Jakarta Pusat mengolah sampah organik berupa dedaunan menjadi pupuk kompos bernilai ekonomis. Program komposting tersebut dilakukan di area kantor kelurahan sebagai upaya mengurangi volume sampah hijau sekaligus mendukung ekonomi sirkular.
Lurah Cempaka Putih Timur Hening Nugrahani mengatakan, sampah daun yang dikumpulkan petugas PPSU terlebih dahulu dicacah sebelum masuk ke proses pengomposan. Langkah itu dilakukan agar proses penguraian bahan organik berlangsung lebih cepat.
"Alur kerjanya sangat terstruktur dimulai dari pengumpulan sampah daun oleh tim PPSU di lapangan, kemudian dibawa ke fasilitas komposting kelurahan untuk dicacah agar proses dekomposisi berjalan lebih cepat," ujar Hening, Jumat 10 Juli 2026.
Menurut Hening, proses pengomposan membutuhkan waktu sekitar tiga bulan hingga menghasilkan pupuk yang siap digunakan. Selain dimanfaatkan untuk taman dan ruang terbuka hijau, kompos tersebut juga dijual kepada masyarakat seharga Rp10 ribu per kilogram.
"Hasil akhir dari proses ini tidak hanya dimanfaatkan untuk keperluan internal, tetapi juga memiliki nilai ekonomi. Kami mengemas kompos ini secara rapi dan menjualnya kepada masyarakat umum dengan harga Rp10.000 per kilogram," katanya.
Program yang telah berjalan sekitar tiga bulan itu mampu mengurangi volume sampah pohon hingga sembilan meter kubik setiap hari. Fasilitas komposting juga telah dikembangkan di tiga wilayah, yakni RW 1, RW 3, dan RW 5 untuk memperluas partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah organik.
Hening berharap program tersebut dapat menjadi contoh bagi wilayah lain dalam mengelola sampah berbasis ekonomi sirkular. Menurutnya, limbah organik dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat sekaligus memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....