Tantangan Berat Jakarta menuju Kota Global

  • 10 Jul 2026 19:36 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Jakarta saat ini berada di peringkat ke-71 kota global dan menargetkan masuk 50 besar pada tahun 2030, namun menghadapi tantangan multidimensi dalam kualitas SDM, tata kelola lingkungan, dan regulasi.
  • PAM Jaya baru mencapai cakupan layanan air minum perpipaan 82 persen (1,2 juta sambungan rumah melayani 9 juta penduduk) dan memerlukan akselerasi perizinan untuk mencapai target 100 persen pada 2029.
  • Pemprov DKI Jakarta mengalihkan fokus pembangunan pada penguatan kualitas manusia melalui perluasan akses pendidikan, termasuk program Kartu Jakarta Pintar (KJP) dan Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU).

RRI.CO.ID, Jakarta - Target Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, untuk menembus peringkat 50 besar kota global pada tahun 2030, dinilai menghadapi tantangan berat. Meski investasi infrastruktur dasar seperti jaringan air bersih terus dipacu, Jakarta masih harus mengejar ketertinggalan multidimensi, mulai dari kualitas sumber daya manusia, tata kelola lingkungan, hingga pembenahan regulasi agar mampu bersaing sejajar dengan megapolitan dunia. Berdasarkan indeks kota global saat ini, posisi Jakarta masih tertahan di peringkat ke-71.

Pemerhati Jakarta, sekaligus Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (KATAR), Sugiyanto, mengingatkan status kota global tidak boleh terjebak pada simbolisme fisik semata. Menurutnya, pembangunan gedung-gedung pencakar langit tidak akan berarti, tanpa dibarengi perbaikan indikator hidup mendasar, yang dinilai secara internasional.

"Persoalan kota global bukan hanya soal gedung-gedung tinggi atau pembangunan fisik. Kualitas layanan air bersih, sanitasi, lingkungan, transportasi, inovasi, hingga kualitas SDM adalah indikator utamanya," ujar Sugiyanto dalam diskusi "Akselerasi Pembangunan Jakarta Menuju Kota Global", di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat, 10 Juli 2026.

Menurut Sugiyanto, target layanan air bersih 100 persen, yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) DKI Jakarta 2025–2029, menjadi salah satu pertaruhan krusial. Selain itu, Jakarta dituntut mempercepat pengendalian emisi, transformasi teknologi, dan pengelolaan sampah berbasis energi, yang selama ini kerap menjadi titik lemah kota ini.

Merespons tantangan itu, Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Chico Hakim, menyatakan Pemprov DKI Jakarta kini menggeser fokus pembangunan, pada penguatan kualitas manusia. Akses pendidikan diperluas melalui optimalisasi jaring pengaman, seperti Kartu Jakarta Pintar (KJP), Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU), dan perluasan program beasiswa.

"Jakarta harus mampu bersaing dengan kota-kota besar dunia. Pembangunan sebagai kota global harus diawali dengan peningkatan kualitas SDM-nya," kata Chico.

Di sektor utilitas kota, pembenahan akses air minum perpipaan juga terus dikejar. Hal itu untuk mengurangi ketergantungan warga pada air tanah, yang memicu penurunan permukaan tanah Jakarta.

Direktur Utama PAM Jaya (Perseroda), Arief Nasrudin, memaparkan cakupan layanan air minum perpipaan di Ibu Kota saat ini, baru mencapai 82 persen. Angka itu setara dengan 1,2 juta sambungan rumah, atau melayani hampir 9 juta penduduk. Untuk mengejar sisa target 18 persen menuju cakupan total pada 2029, PAM Jaya mengandalkan dukungan regulasi, dan percepatan perizinan dari birokrasi Pemprov DKI Jakarta.

"Ketika dukungannya bukan hanya sekadar bicara, tetapi juga dukungan aturan, akhirnya semangatnya menjadi sama. Kami optimistis, kolaborasi ini akan mempercepat target layanan air bersih bagi seluruh warga," kata Arief.

Kendati demikian, Sugiyanto mengingatkan, sisa waktu menuju tahun 2030 terhitung pendek. Tanpa adanya gerak simultan yang melibatkan dunia usaha, akademisi, dan kesadaran komunitas warga, ambisi melompat ke peringkat 50 besar dunia, berisiko hanya menjadi target di atas kertas.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....