Rano Karno Dorong Ruang Publik yang Inklusif dan Demokratis

  • 19 Jul 2026 07:37 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menjaga ruang publik tetap inklusif, terbuka, dan demokratis sebagai wadah masyarakat berkumpul, berdiskusi, serta menyampaikan pendapat. Komitmen tersebut disampaikannya saat menghadiri kuliah umum bertajuk Jalan Buntu Reformasi di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, 18 Juli 2026.

Di hadapan akademisi, sejarawan, aktivis, dan mahasiswa, Rano mengatakan ruang publik memiliki peran strategis dalam memperkuat budaya dialog di tengah kehidupan masyarakat perkotaan. Menurutnya, Taman Ismail Marzuki merupakan salah satu ruang kebudayaan yang berfungsi merawat ingatan kolektif bangsa sekaligus menjadi tempat bertemunya berbagai gagasan.

“Komitmen kami jelas. Jakarta harus tetap menjadi kota tempat masyarakat bebas berkumpul, berpendapat, dan berdiskusi tanpa rasa takut. Taman Ismail Marzuki, kampus-kampus, serta ruang publik lainnya harus selalu terbuka bagi forum-forum diskusi ilmiah dan kritis,” ujar Rano.

Selain menekankan pentingnya ruang publik yang terbuka, Rano juga menyinggung transformasi sosial Jakarta melalui kisah Si Doel. Menurutnya, cerita tersebut merepresentasikan perjuangan masyarakat menghadapi tantangan modernisasi, penataan kota, hingga pemenuhan kebutuhan hunian yang layak.

Karena itu, ia menilai kebijakan pembangunan Jakarta harus berpijak pada kebutuhan nyata masyarakat, terutama dalam memperluas akses terhadap pendidikan, lapangan pekerjaan, serta hunian yang layak.

“Semangat kepedulian sosial harus hadir secara nyata dalam bentuk kebijakan, bukan sekadar pidato formal. Indikator keberhasilan setiap kebijakan di Jakarta adalah sejauh mana kebijakan tersebut mampu mempermudah dan memanusiakan kehidupan warga, terutama dalam aspek hunian, penataan kota, serta akses terhadap layanan dasar,” ujarnya.

Menanggapi paparan Guru Besar Studi Asia University of Melbourne, Profesor Vedi R. Hadiz, mengenai tantangan reformasi dan pembangunan, Rano mengajak seluruh elemen masyarakat tetap optimistis mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi Jakarta. Ia kemudian mengutip ungkapan masyarakat Betawi sebagai filosofi dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan.

“Orang Betawi memiliki ungkapan, ‘Kalau jalan buntu jangan berhenti, cari gang, cari lorong’. Jakarta adalah kota seribu gang. Melalui ruang-ruang kecil yang humanis, warga berinteraksi dan berdiskusi. Dari sanalah solusi-solusi pragmatis untuk memajukan kota kerap lahir,” katanya.

Kuliah umum tersebut dihadiri Anggota DPR RI sekaligus sejarawan Bonnie Triyana, perwakilan berbagai organisasi, serta ratusan mahasiswa dari berbagai daerah. Diskusi berlangsung interaktif dengan mengangkat isu demokrasi, pembangunan, dan masa depan reformasi di Indonesia.

Usai mengikuti kuliah umum, Rano meninjau Pameran Seni Kolaboratif bertajuk EVANESCENCE di Galeri Cipta 1, Taman Ismail Marzuki. Kunjungan itu menjadi bagian dari dukungan Pemprov DKI Jakarta terhadap perkembangan seni rupa kontemporer sekaligus memperkuat fungsi TIM sebagai ruang kreativitas, ekspresi, dan interaksi budaya yang terbuka bagi masyarakat.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....