Stok Langka, Harga Mawar di Pasar Rawa Belong Melonjak dari Rp50 Ribu jadi Rp150 Ribu

  • 15 Jun 2026 20:15 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Kelangkaan stok bunga mawar di Sentra Pasar Bunga Rawa Belong, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, menyebabkan harga bunga tersebut melonjak tajam dalam dua pekan terakhir, bahkan mencapai tiga kali lipat dari harga normal.

Salah seorang pedagang bunga di Pasar Rawa Belong, Dani (23), mengatakan kelangkaan terjadi akibat menurunnya pasokan dari petani, sementara permintaan pasar justru meningkat.

“Yang lagi langka sekarang mawar, terutama mawar Malang. Aster juga, tapi mawar yang paling langka karena stok dari petaninya lagi berkurang,” kata Dani saat ditemui di kiosnya, Senin, 15 Juni 2026.

Dani menuturkan, harga mawar yang sebelumnya berkisar Rp50 ribu per ikat kini melonjak hingga Rp150 ribu per ikat.

Menurutnya, berkurangnya stok bunga dipengaruhi oleh cuaca yang kurang mendukung di sejumlah daerah sentra produksi bunga, seperti Malang, Jawa Timur, serta Bandung dan Cianjur, Jawa Barat.

“Kalau mawar paling banyak dari Malang. Hampir semua bunga memang terdampak cuaca buruk, sehingga hasil panennya berkurang,” ujarnya.

Ia menambahkan, mawar merah menjadi jenis yang paling sulit ditemukan saat ini. Sementara mawar dengan warna lain juga mengalami kenaikan harga karena pasokan yang terbatas.

Pedagang bunga lainnya, Gatot (42), membenarkan bahwa kenaikan harga tidak hanya dipengaruhi oleh berkurangnya hasil panen, tetapi juga tingginya permintaan menjelang musim kelulusan sekolah dan wisuda.

“Sekarang lagi musim kelulusan dan wisuda. Banyak yang cari bunga untuk hadiah, jadi stok cepat habis dan harga ikut naik,” katanya.

Gatot mengaku saat ini menjual mawar hingga Rp170 ribu per ikat, jauh di atas harga normal. Namun, ia memperkirakan kondisi tersebut hanya bersifat sementara.

Menurut informasi yang diperolehnya dari distributor, pasokan bunga mulai berangsur normal sehingga harga diperkirakan akan kembali turun dalam waktu dekat.

“Minggu depan kemungkinan harga mawar mulai turun lagi karena stok sudah mulai normal,” ujarnya.

Tak hanya itu, kenaikan harga bunga juga dirasakan para pelaku usaha buket dan bunga hias di Jakarta. Lonjakan harga bahan baku memaksa mereka menyesuaikan harga jual agar usaha tetap berjalan.

Salah seorang pengrajin bunga hias, Nadia (23), mengaku kondisi tersebut cukup memengaruhi bisnis yang dijalankannya.

“Iya, sangat berpengaruh. Karena bunga langka, harga naik, sementara permintaan juga meningkat. Jadi pembeli biasanya lebih mempertimbangkan sebelum membeli,” kata Nadia.

Meski demikian, Nadia memilih menaikkan harga secara bertahap agar tetap terjangkau bagi pelanggan dan tidak mengurangi minat beli.

“Kami naikkan sedikit demi sedikit sambil melihat respons pelanggan. Kalau bisa, kami juga menyesuaikan dengan jenis bunga yang stoknya masih tersedia,” ujarnya.

Ia menjelaskan, harga satu tangkai bunga yang sebelumnya dijual sekitar Rp20 ribu hingga Rp25 ribu kini naik menjadi sekitar Rp30 ribu. Sementara buket bunga ukuran standar yang sebelumnya dibanderol Rp150 ribu kini dijual antara Rp170 ribu hingga Rp200 ribu.

Meski harus menghadapi kenaikan harga bahan baku, Nadia bersyukur permintaan buket bunga tetap tinggi karena bertepatan dengan musim wisuda dan kelulusan sekolah.

“Kalau musim wisuda atau graduation seperti sekarang, permintaannya memang naik. Alhamdulillah, ini jadi salah satu momen paling ramai bagi usaha bunga,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....