Saat Film Dipercaya Ciptakan Ekonomi Masa Depan

  • 14 Jun 2026 15:12 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Ketika membicarakan sumber pertumbuhan ekonomi, yang terbayang biasanya kawasan industri, pusat perdagangan, atau investasi infrastruktur. Namun, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melihat peluang lain yang mulai berkembang di ibu kota, yakni industri perfilman.

Pandangan tersebut menjadi salah satu benang merah dalam pertemuan antara Kepala KPw BI DKI Jakarta Iwan Setiawan dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno yang membahas pengembangan industri perfilman sebagai bagian dari strategi memperkuat ekonomi kreatif Jakarta.

Bagi banyak orang, film identik dengan hiburan. Padahal, di balik satu produksi film terdapat rantai ekonomi yang melibatkan banyak sektor. Mulai dari rumah produksi, penyewaan peralatan, jasa transportasi, perhotelan, katering, tata artistik, hingga promosi dan pemasaran. Semakin berkembang industri film, semakin luas pula aktivitas ekonomi yang tercipta.

Kepala KPw BI DKI Jakarta Iwan Setiawan mengatakan alasan itulah yang membuat perfilman layak mendapat perhatian sebagai salah satu sektor ekonomi kreatif yang memiliki prospek besar. “Kami meyakini bahwa industri perfilman tidak hanya memiliki nilai budaya dan kreativitas, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang luas melalui penciptaan lapangan kerja, penguatan urban tourism, serta penggerak sektor-sektor ekonomi lainnya,” ujar Iwan.

Di sejumlah negara, dampak ekonomi industri film sudah terlihat nyata. Korea Selatan berhasil memanfaatkan popularitas film dan drama untuk memperkuat sektor pariwisata dan memperkenalkan budaya negaranya ke berbagai belahan dunia. Thailand secara aktif menarik produksi film internasional melalui berbagai kemudahan dan insentif, sehingga aktivitas syuting turut menggerakkan perekonomian lokal.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno bersama Kepala KPw BI DKI Jakarta Iwan Setiawan beserta jajaran saat melakukan kunjungan ke salah satu rumah produksi film di Jakarta.

Di Eropa, Inggris menjadikan industri film dan audiovisual sebagai salah satu bagian penting ekonomi kreatif. Produksi film internasional yang masuk ke negara tersebut tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga menciptakan lapangan kerja bagi ribuan pekerja kreatif dan sektor pendukung lainnya.

Jakarta melihat peluang yang tidak jauh berbeda. Sebagai kota metropolitan dengan infrastruktur relatif lengkap dan komunitas kreatif yang terus berkembang, ibu kota memiliki modal untuk memperkuat industri perfilman sekaligus memanfaatkan dampak ekonominya.

Salah satu indikasi tumbuhnya ekosistem tersebut terlihat dari tingginya partisipasi generasi muda dalam Jakarta Youth Film Festival (JYFF) 2026. Hingga akhir April, sebanyak 178 film telah terdaftar dalam Lensa Kompetisi Pelajar dan Mahasiswa, sementara Jakarta Film Fund menerima 64 proposal film pendek.

Data itu menunjukkan bahwa pasokan talenta kreatif terus bermunculan. Di balik setiap karya yang dihasilkan, terdapat peluang lahirnya profesi-profesi baru yang menjadi bagian dari rantai industri perfilman.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menilai pengembangan industri film tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, komunitas, dan lembaga lain menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem yang berkelanjutan.

“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta yang telah menjadi mitra strategis utama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mendukung pengembangan industri kreatif, khususnya subsektor perfilman,” kata Rano.

Menurut Rano, penguatan industri kreatif juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan sumber-sumber ekonomi baru yang mampu memperkuat daya saing Jakarta sebagai kota global.

Di tengah persaingan antarkota untuk menarik investasi dan menciptakan lapangan kerja, Jakarta mulai melirik sektor-sektor yang selama ini belum sepenuhnya dipandang sebagai kekuatan ekonomi. Perfilman menjadi salah satunya. Bukan semata karena menghasilkan tontonan, melainkan karena mampu menggerakkan berbagai aktivitas usaha dalam satu ekosistem yang saling terhubung.

Karena itu, ketika Jakarta berbicara tentang masa depan ekonomi kreatif, yang dibayangkan bukan hanya gedung perkantoran atau kawasan bisnis baru. Di dalamnya juga ada studio produksi, lokasi syuting, festival film, serta para kreator yang karyanya berpotensi membawa nama Jakarta dikenal lebih luas sekaligus menciptakan nilai ekonomi bagi kota.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....