Jalan Tiba-Tiba Amblas di Lenteng Agung, Ini Fakta di Baliknya

  • 04 Jun 2026 12:00 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Jalan amblas dipicu kerusakan pipa armco tua di bawah badan jalan yang telah berusia lebih dari 20 tahun.
  • DPRD DKI menilai Pemprov lalai melakukan pencegahan dan audit infrastruktur bawah tanah.
  • Pakar menekankan pentingnya pemetaan subsurface untuk mencegah kejadian serupa di titik lain Jakarta.

RRI.CO.ID, Jakarta - Peristiwa jalan ambles di Jalan Raya Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, kembali membuka persoalan lama yang selama ini tersembunyi di bawah permukaan ibu kota: rapuhnya jaringan infrastruktur bawah tanah yang sudah menua namun belum terpetakan secara menyeluruh. Harusnya hari ini ya sudah selesai untuk yang namanya perbaikan gorong-gorong tadi, dan warga harusnya tidak kecewa lagi ya, jangan sampai ada lagi kerusakan-kerusakan atau mungkin lubang-lubang yang ada di sekitar jalan amblas, kata seorang anggota DPRD DKI Jakarta.



Pengendara melintasi jalur darurat di samping lokasi jalan amblas di Jalan Raya Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat 29 Mei 2026 (Foto: RRI/Alfreds Tuter)

Baca juga:

Peristiwa yang terjadi pada akhir Mei 2026 itu memicu kemacetan hingga lima kilometer dan mengganggu mobilitas warga yang melintasi jalur Jakarta–Depok, salah satu koridor tersibuk di Jakarta Selatan.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno sebelumnya bilang kerusakan dipicu oleh pipa armco atau pipa gorong-gorong dari baja gelombang (corrugated steel pipe) yang biasa dipakai di bawah jalan, jembatan kecil, dan saluran drainase , yang telah mengalami keropos dimakan usia lebih dari dua dekade dan kini diganti dengan baja tulangan, box culvert beton K-400, sebagaimana dilaporkan oleh laman resmi Pemprov DKI Jakarta.

“Di bawah jalan itu terdapat saluran yang mengalirkan air dari Waduk UI Depok,” ujar Rano Karno dalam keterangan resmi Pemprov DKI Jakarta.



Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno di lokasi jalan ambles di Jalan Raya Lenteng Agung, Jakarta Selatan. (Foto: Andri Widiyanto/bj)

Data Dinas Bina Marga DKI Jakarta yang dikutip kantor berita Antara menyebutkan laporan awal masyarakat diterima pada 27 Mei 2026, sebelum akhirnya jalan mengalami amblas total pada 28 Mei 2026 malam dengan kedalaman sekitar tiga meter.

Kondisi ini diperparah oleh temuan bahwa tanah di bawah badan jalan mengalami kekosongan atau kopong, sehingga konstruksi tidak lagi mampu menahan beban kendaraan harian yang melintas di atasnya.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah atau DPRD DKI Jakarta Fraksi Partai Solidaritas Indonsia (PSI), August Hamonangan, menilai peristiwa ini bukan sekadar bencana teknis, melainkan bentuk kelalaian dalam pencegahan infrastruktur.

“Yang jelas ini harus kita akui kelalaian dari Pemprov DKI Jakarta,” ujar August dalam wawancara bersama Radio RRI Jakarta, Kamis, 4 Juni 2026.

Dalam siaran radio pagi itu, August menyoroti bahwa gorong-gorong tua seharusnya sudah masuk dalam prioritas penggantian, bukan hanya ditangani setelah terjadi kerusakan besar.



Anggota DPRD DKI Jakarta, sekaligus Penasehat Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), August Hamonangan. (Foto: humas Fraksi PSI DPRD DKI Jakarta)

“Harus mengganti. Jangan sampai terjadi kejadian seperti ini baru buru-buru seperti kebakaran jenggot,” ucapnya.

Ia juga menyebut kemacetan akibat insiden tersebut telah berdampak luas hingga Tanjung Barat dan Depok, menunjukkan bahwa gangguan infrastruktur lokal dapat menjelma menjadi masalah kawasan metropolitan.

Sementara itu, Peneliti Geodesi Institut Teknologi Bandung atau ITB, Heri Andreas, menjelaskan bahwa fenomena jalan amblas seperti di Lenteng Agung di Jakarta Selatan berkaitan erat dengan kondisi infrastruktur bawah tanah yang sudah tua dan terus menerima beban lalu lintas berat setiap hari.

“Secara perlahan nanti beban itu akan menambah risiko untuk nantinya bisa amblas,” kata Heri dalam siaran yang sama, Kamis pagi itu.

Heri menilai Jakarta membutuhkan sistem pemetaan bawah permukaan atau subsurface mapping yang hingga kini belum diterapkan secara menyeluruh.

“Kita harus punya peta bawah permukaan. Sampai dengan hari ini belum direalisasikan,” ucapnya.

Ia bahkan menyebut teknologi seperti Ground Penetrating Radar (GPR) atau yang biasa disebut georadar sudah tersedia dan dapat digunakan untuk memetakan risiko pipa tua sebelum terjadi kegagalan struktur.

Data dari Antara juga mencatat bahwa kondisi gorong-gorong di lokasi kejadian sudah mengalami kerusakan sejak 27 Mei malam dan semakin memburuk hingga akhirnya runtuh total sehari kemudian.

Di sisi lain, laporan Pemprov DKI menunjukkan bahwa perbaikan dilakukan cepat dan sebagian besar pekerjaan selesai dalam waktu lima hari, dengan penggantian struktur lama menggunakan beton box culvert untuk memperkuat jalan utama penghubung Jakarta–Depok tersebut.

Namun, baik DPRD maupun pakar sepakat bahwa kejadian ini bukan kasus tunggal. Banyak pipa armco di Jakarta disebut telah berusia lebih dari 30 tahun dan tersebar di berbagai titik rawan.

Audio
Putar Audio

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....