Korsleting Listrik Mengintai, Kebakaran Kemayoran Jadi Peringatan

  • 02 Jun 2026 19:52 WIB
  •  Jakarta
Poin Utama
  • Kebakaran Pasar Jiung Kemayoran diduga dipicu korsleting listrik dan berdampak pada sekitar 330 kepala keluarga.
  • Bangunan hunian masih menjadi lokasi kebakaran terbanyak di Jakarta dengan porsi 66,9 persen dari total kejadian pada 2025.
  • Gulkarmat mengingatkan warga untuk mengganti instalasi listrik yang sudah tua, menggunakan perangkat berstandar SNI, dan menghindari penumpukan beban listrik.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kebakaran yang melanda Kampung Pasar Jiung, Jalan Kemayoran Gempol, Kelurahan Kebon Kosong, Jakarta Pusat, pada Senin. 1 Juni 2026 malam menjadi salah satu peristiwa kebakaran terbesar di Jakarta dalam beberapa bulan terakhir. Api menjalar cepat di kawasan permukiman padat yang sebagian besar terdiri atas bangunan semi permanen.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menyebut hampir seluruh kasus kebakaran di Jakarta berawal dari persoalan kelistrikan. Pernyataan itu disampaikan saat meninjau lokasi pengungsian korban kebakaran Kemayoran keesokan harinya, Selasa, 2 Juni 2026 dikutip kantor berita Antara.


Kebakaran melanda permukiman padat penduduk di kawasan Jalan Kemayoran Gempol, Kelurahan Kebon Kosong, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat. (Foto: RRI/Mayzka Da Reisa)

Baca juga:

“Pemprov DKI prihatin dengan kejadian ini, dan sekali lagi yang bisa kita lakukan adalah me-warning kepada masyarakat, yang harus pertama kali dijaga adalah listrik. Karena di Jakarta ini hampir rata-rata kebakaran terjadi karena korsleting listrik. Itu berdasarkan survei kita hampir 95 persen,” ujar Rano.

Angka tersebut menunjukkan bahwa bahaya kebakaran tidak selalu bermula dari faktor besar atau bencana alam. Justru persoalan yang sering dianggap sepele seperti kabel tua, sambungan listrik tidak standar, beban listrik berlebih, hingga perangkat elektronik berkualitas rendah menjadi pemicu utama munculnya api di kawasan permukiman.

Data statistik kebakaran DKI Jakarta turut memperkuat kondisi tersebut. Sepanjang 2025 tercatat 1.847 kejadian kebakaran di Jakarta. Dari jumlah itu, sebanyak 1.235 kejadian atau 66,9 persen terjadi pada bangunan hunian, mulai dari rumah tinggal, kontrakan, rumah toko hingga apartemen.

Kebakaran Kemayoran api yang muncul sekitar pukul 20.55 WIB dengan cepat menjalar ke bangunan-bangunan di sekitarnya yang berdempetan dan sebagian besar berkarakter semi permanen. Berdasarkan data yang disampaikan Wakil Gubernur DKI Jakarta, kebakaran tersebut berdampak pada sedikitnya 304 bangunan. Sebanyak 354 kepala keluarga atau 679 jiwa tercatat terdampak dalam musibah itu.

Korban terdampak terdiri atas 326 laki-laki dan 353 perempuan. Di antara mereka terdapat 35 warga lanjut usia, 90 balita, 53 anak usia sekolah dasar, enam anak usia SMP, 22 remaja usia SMA dan SMK, serta 414 warga dewasa termasuk ibu hamil.

Sementara itu, data Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Pusat menunjukkan sedikitnya 620 jiwa dari 330 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran tersebut. Kepala Sudin Gulkarmat Jakarta Pusat Syarifudin merinci sebanyak 500 jiwa berasal dari RT 12 hingga RT 16 RW 04, sedangkan 120 jiwa lainnya berasal dari RT 01 hingga RT 03 RW 05 Kelurahan Kebon Kosong.

Untuk membantu para korban, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan lokasi pengungsian sementara di Lapangan Yusuf Hamka. Berbagai fasilitas darurat disediakan mulai dari tenda pengungsian, layanan kesehatan, dapur umum, hingga dukungan psikososial bagi anak-anak.

“Kita sudah menyiapkan posko di Lapangan Yusuf Hamka, lengkap dengan pengungsian, posko kesehatan, dapur umum, kemudian ada posko dukungan psikologi untuk anak-anak,” ucap Rano.

Selain itu, Dinas Sosial DKI Jakarta menyalurkan bantuan logistik berupa makanan siap saji, matras, perlengkapan tidur, serta bantuan sandang dan pangan bagi warga terdampak.

Kepolisian, TNI, pemerintah daerah, dan Brimob mengerahkan sekitar 200 personel gabungan untuk membantu proses evakuasi warga. Di saat bersamaan, Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta menurunkan 35 unit pemadam dan sekitar 165 personel untuk mengendalikan kobaran api.


Ilustrasi stopkontak listrik di dalam rumah. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengingatkan masyarakat untuk rutin memeriksa instalasi dan perangkat listrik guna mencegah korsleting yang menjadi penyebab utama kebakaran permukiman. (Foto: PraiseToby Praise/Pexels)

Berbicara pada progam siar Mitigasi Kentongan di radio 91,2FM Pro1 RRI Jakarta, Kepala Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Utara Budi Haryono mengatakan peristiwa Kemayoran memberikan pelajaran penting tentang pencegahan kebakaran. Menurut dia, sebagian besar kebakaran di Jakarta masih berawal dari persoalan listrik yang sebenarnya dapat dicegah sejak dini.

“Kalau cerita pencegahan, bagaimanapun itu yang pertama biayanya lebih murah dibandingkan kalau sudah terjadi kebakaran. Masalah listrik sampai saat ini menjadi penyumbang terbanyak akibat bahaya kebakaran,” ujar Budi pada Selasa, 1 Juni 2026.


Banyak kasus kebakaran berawal dari kabel yang tersembunyi di plafon, terkelupas, atau digigit tikus tanpa disadari penghuni. Kepala Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan atau Kasudin Gulkarmat Jakarta Utara Budi Haryono mengimbau warga rutin memeriksa kondisi jaringan listrik sebagai langkah pencegahan kebakaran. (Foto: Dokumentasi pribadi)

Budi menjelaskan instalasi listrik sering kali tidak mendapatkan perhatian karena letaknya tersembunyi di balik plafon rumah. Akibatnya, kerusakan kabel, gigitan tikus, atau sambungan yang tidak standar sering tidak terdeteksi hingga muncul percikan api.

“Banyak kejadian listrik itu ada di plafon dan tidak terlihat. Tahu-tahunya kita merasakan kejadian ada kebakaran akibat listrik ketika apinya sudah besar,” ucapnya.

Persoalan menjadi lebih rumit ketika kebakaran terjadi di kawasan padat penduduk. Jarak antarrumah yang sangat rapat membuat api mudah menjalar hanya dalam hitungan menit.

Menurut Budi, banyak bangunan di kawasan padat menggunakan material yang mudah terbakar dan memiliki akses jalan sempit. Kondisi itu menyulitkan mobil pemadam mencapai titik api secara cepat.


Kebakaran Rumah di Kemayoran. (Foto: Rekaman amatir warga sekitar)

“Bangunan hunian sangat cepat perambatannya karena sangat padat, bahan bangunan mudah terbakar, akses pemadam sulit masuk, dan sumber air kadang sulit dijangkau,” kata Budi.

Laporan kontributor RRI Jakarta, Mazyka, dari lokasi kebakaran menunjukkan sebagian besar warga kehilangan tempat tinggal akibat bangunan yang hangus terbakar. Hingga Selasa pagi, sejumlah warga masih berusaha menyelamatkan barang yang tersisa sambil menunggu kepastian bantuan dan penempatan pengungsian.

“Rumahnya benar-benar hangus terbakar habis. Warga masih menyelamatkan barang yang masih bisa diselamatkan dari sisa kebakaran semalam,” ujar Mazyka dalam laporan langsung dari lokasi.

Kantor Berita ANTARA melaporkan tiga warga mengalami luka dan telah menjalani perawatan di rumah sakit. Selain korban luka, sejumlah warga juga mengalami gangguan pernapasan akibat menghirup asap tebal selama proses kebakaran berlangsung.

Di balik besarnya dampak kebakaran Kemayoran, terdapat persoalan lain yang jarang disadari masyarakat. Banyak rumah mengalami peningkatan kebutuhan listrik seiring bertambahnya peralatan elektronik, namun instalasi kabel yang digunakan tidak ikut diperbarui.

Budi menilai kondisi itu menjadi salah satu penyebab munculnya korsleting listrik di lingkungan permukiman. Beban listrik yang terus bertambah membuat kabel lama bekerja di luar kapasitasnya.

“Misalnya dulu rumah hanya 900 watt, kemudian sekarang memakai AC, kulkas, mesin cuci, dan berbagai peralatan lain. Ketika kabel lama tetap digunakan, suatu saat kabel itu panas dan bisa memicu kebakaran,” ujar Budi.

Ia mengingatkan warga untuk memperhatikan usia instalasi listrik di rumah masing-masing. Berdasarkan rekomendasi teknis yang diterima dari PLN, instalasi yang telah berusia sekitar 20 tahun perlu mendapat pemeriksaan dan penggantian jika diperlukan.

Selain itu, warga juga diminta memperhatikan tanda-tanda awal kerusakan listrik seperti stopkontak yang menghitam, kabel terkelupas, bau hangus, atau sambungan yang longgar. Menurut Budi, biaya penggantian instalasi listrik jauh lebih kecil dibandingkan kerugian akibat kebakaran.

“Mendingan gunakan yang SNI walaupun mahal daripada rumah Anda terbakar. Masalah kebakaran jangan berpikir sebagai biaya, tapi investasi untuk menyelamatkan harta benda dan orang yang kita cintai,” ucapnya.

Untuk mengurangi risiko kebakaran di kawasan padat penduduk, Gulkarmat DKI Jakarta juga mengembangkan program hidran mandiri. Program tersebut menempatkan sumber air, pompa, dan perlengkapan pemadaman di lingkungan yang sulit dijangkau kendaraan pemadam.

Selain itu, pemerintah mendorong penyediaan alat pemadam api ringan atau APAR di tingkat lingkungan. Program satu RT dua APAR diharapkan dapat membantu warga melakukan pemadaman awal sebelum api membesar.

Budi menegaskan bahwa pencegahan tetap menjadi langkah paling efektif menghadapi ancaman kebakaran di Jakarta. Ia mengajak masyarakat untuk memeriksa instalasi listrik secara berkala, menggunakan perangkat berstandar SNI, dan tidak melakukan pencurian listrik.

“Kalau bukan kita siapa lagi yang menjaga rumah kita dan kampung kita. Kalau bukan sekarang, kapan lagi. Mari kita jaga Jakarta bersama,” kata Budi.

Audio
Putar Audio

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....