Hari Kelima Pasca Kebakaran Tambora, Warga Masih Bertahan di Pengungsian
- 02 Jun 2026 14:54 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Hari kelima pasca kebakaran hebat yang melanda kawasan padat penduduk di Jalan Krendang Barat, Tambora, Jakarta Barat, sejumlah warga terdampak masih bertahan di posko pengungsian, pada Selasa, 2 Juni 2026.
Berdasarkan pantauan RRI Jakarta, sebagian warga yang berstatus pegontrak telah meninggalkan lokasi untuk mencari tempat tinggal baru. Namun, warga yang merupakan pemilik rumah masih bertahan di pengungsian karena kehilangan tempat tinggal.
Mereka kini mengungsi di Musala Mahlul Ibadah dan Musala Al Hikmah dengan kondisi serba terbatas, tidur beralaskan matras seadanya.
Salah seorang korban, Santi (44), mengaku telah mengungsi sejak kebakaran terjadi pada Kamis (28/5/2026) malam. Ia menyebut tidak sempat menyelamatkan harta benda saat api melalap rumahnya.
“Di sini kurang lebih masih sekitar 20 orang. Rumah saya habis semua, nggak ada yang tersisa. Baju saja cuma yang dipakai,” ujar Santi saat ditemui di lokasi, Selasa.
Dalam kondisi tersebut, Santi mengaku kebingungan memikirkan kelangsungan hidup keluarganya. Suaminya yang bekerja di percetakan dengan penghasilan terbatas juga terpaksa tidak bekerja sejak kebakaran terjadi.
Kondisi ekonomi yang sulit membuatnya belum mampu menyewa tempat tinggal sementara, apalagi untuk membangun kembali rumah yang telah hangus terbakar.
“Belum ada uangnya juga, semuanya habis. Mau bangun rumah lagi juga belum mampu,” ungkapnya.
Santi berharap pemerintah dapat memberikan bantuan, khususnya program renovasi atau perbaikan rumah bagi warga terdampak kebakaran.
“Harapannya ada bantuan dari pemerintah untuk bedah rumah, supaya bisa ditempati lagi, tidak seperti sekarang,” tuturnya.
Hal serupa juga dialami oleh Dadang (48), pria yang sudah tinggal di kawasan tersebut sejak puluhan tahun.
Ia membenarkan hingga saat ini masih ada sedikitnya 20 orang dari lima Kepala Keluarga (KK) yang masih bertahan di Musala Mahlul Ibadah bersamanya.
Menyadari bahwa posko pengungsian memiliki batas waktu operasional, Dadang dan sejumlah warga mulai memutar otak.
Ia berencana kembali ke area rumah kontrakannya dan mendirikan tenda darurat menggunakan terpal sebagai pengganti atap yang sudah roboh.
"Kita kan nggak mungkin selamanya tinggal di pengungsian. Namanya pengungsian kita kan selalu terbatas, ada masa waktunya, jadi ya kita bisanya kayak gini aja, yang penting bisa istirahat, mau gimana lagi kan," ujar Dadang.
Meski dinding rumahnya sudah lapuk dan berubah warna menjadi kehitaman akibat gosong, Dadang menyebut dirinya tak memiliki pilihan lain.
Namun, kini ia mengaku masih menunggu datangnya bantuan terpal dan bambu agar bisa dipakai untuk menopang sebagai pengganti atap.
Dadang pun menyebut tak mudah mencari kontrakan yang harganya masih bisa terjangkau olehnya dan memiliki ruang untuk menyimpan gerobak bakso yang ia gunakan untuk mencari nafkah.
"Untuk cari tempat (kontrakan baru) mungkin nggak semudah itu untuk naruh gerobak. Apalagi namanya Jakarta di gang-gang itu nggak sembarangan naruh gerobak,” kata Dadang.
“Jadi kita yang ada tuh kita manfaatin dulu tempat yang ada aja dulu. Menyiasati untuk menghindari hujan ya, atau berteduh kita dengan terpal dulu dah," sambungnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....