Inflasi DKI Jakarta Mei 2026 Dipicu Kenaikan Harga BBM dan Cabai Merah

  • 02 Jun 2026 13:27 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta mencatat inflasi pada Mei 2026 masih dipengaruhi kenaikan harga sejumlah komoditas kebutuhan masyarakat. Bensin dan cabai merah menjadi penyumbang utama inflasi secara bulanan di Ibu Kota.

Kepala BPS Provinsi DKI Jakarta, Kadarmanto mengatakan, bensin menjadi komoditas dengan andil inflasi terbesar pada Mei 2026. Komoditas tersebut mengalami inflasi sebesar 1,06 persen dengan andil terhadap inflasi bulanan mencapai 0,05 persen.

“Nah dilihat dari komoditasnya, penyumbang utama inflasi secara month to month di Provinsi DKI Jakarta pada bulan Mei 2026 ini adalah komoditas bensin yang tercatat mengalami inflasi sebesar 1,06 persen yang memberikan andil sebesar 0,05 persen,” kata Kadarmanto pada Selasa 2 Juni 2026 di Kantor BPS Jakarta.

Selain bensin, harga cabai merah juga mengalami kenaikan cukup signifikan. BPS mencatat cabai merah mengalami inflasi sebesar 16,92 persen dengan andil inflasi sebesar 0,04 persen.

Komoditas lain yang turut mendorong inflasi adalah minyak goreng, bawang merah, dan bahan bakar rumah tangga. Bawang merah mengalami inflasi sebesar 5,15 persen, sedangkan bahan bakar rumah tangga, terutama LPG, naik 1,24 persen.

Di tengah kenaikan sejumlah komoditas, beberapa bahan kebutuhan masyarakat justru mengalami penurunan harga sehingga membantu menahan laju inflasi. Emas perhiasan menjadi komoditas dengan tingkat deflasi terdalam selama Mei 2026.

“Untuk DKI Jakarta, emas perhiasan mengalami deflasi sebesar 4,19 persen yang memberikan andil deflasi sebesar 0,09 persen,” ujar Kadarmanto.

Selain emas perhiasan, daging ayam ras mengalami deflasi sebesar 2,92 persen dengan andil deflasi 0,04 persen. Telur ayam ras juga turun 6,43 persen, sementara udang basah dan tomat masing-masing mengalami deflasi sebesar 3,91 persen dan 4,7 persen.

Kadarmanto menjelaskan, berdasarkan data historis empat tahun terakhir, Jakarta selalu mengalami inflasi pada momentum Hari Raya Iduladha. Namun besaran inflasi saat Iduladha relatif lebih rendah dibandingkan inflasi pada periode Ramadan dan Idulfitri.

“Secara historis, jika dibandingkan dengan inflasi pada momen Ramadan dan Idulfitri dalam empat tahun terakhir, tingkat inflasi pada momen Hari Raya Iduladha relatif lebih rendah,” jelasnya.

Menurutnya, peningkatan permintaan sejumlah komoditas pangan menjelang Iduladha menjadi salah satu faktor yang memicu inflasi. Meski demikian, tekanan harga yang terjadi masih lebih terkendali dibandingkan periode hari besar keagamaan lainnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....