Budayawan Betawi Ajak Pemuda Perkuat Nasionalisme

  • 20 Mei 2026 15:51 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Sejarawan dan budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra, mengajak generasi muda memperkuat rasa nasionalisme di momentum Hari Kebangkitan Nasional 2026. Menurutnya, nilai kebangsaan harus terus dikenalkan kepada anak muda dengan pendekatan yang sesuai perkembangan zaman.

Dalam dialog bertema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”, Yahya mengatakan generasi muda saat ini membutuhkan inspirasi dari kisah masa lalu. Ia menilai pengalaman perjuangan para pendahulu dapat menjadi motivasi agar anak muda lebih memahami pentingnya menjaga identitas bangsa.

Yahya mengungkapkan para guru di masa lalu selalu menanamkan nilai tanggung jawab kepada generasi muda sebagai calon pemimpin masa depan. “Pemuda masa sekarang waktunya akan menjadi pemimpin di kemudian hari,” ujarnya saat dialog di Pro 1, Rabu, 20 Mei 2026.

Menurutnya, pendidikan karakter dan sopan santun menjadi hal penting yang terus diajarkan kepada generasi muda. Ia mengatakan para orang tua dan pendidik dahulu tidak pernah berhenti memberikan teladan meskipun telah memasuki masa pensiun.

Ia menilai perjuangan generasi terdahulu untuk membangun Indonesia dilakukan dengan penuh pengorbanan. “Kesusahan orang-orang tua kita dulu itu harus dipahami, supaya anak muda tidak berleha-leha dan tetap peduli terhadap bangsa,” kata Yahya.

Dalam mengenalkan nasionalisme kepada generasi muda, Yahya menilai pendekatan harus disesuaikan dengan kebiasaan dan pola pikir anak zaman sekarang. Menurutnya, media sosial dan berbagai tren kekinian dapat dimanfaatkan sebagai sarana menyampaikan nilai kebangsaan.

Ia mencontohkan kisah tokoh Betawi seperti Si Pitung dan Si Jampang yang dapat dikemas menggunakan bahasa yang lebih dekat dengan generasi muda. “Warna perjuangan itu harus disampaikan dengan bahasa yang diminati anak-anak zaman sekarang,” ujarnya.

Yahya berharap generasi muda mampu menjaga nilai nasionalisme dengan menghormati lingkungan tempat tinggal dan tanah kelahirannya. "Ibaratkan kota tempat tinggal sebagai 'emak kedua' yang harus dijaga dan dihormati sebagaimana menghormati orang tua sendiri," tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....