Pramono: Teknologi Hidrotermal Percepat Proses Pengolahan Sampah Organik
- 11 Mei 2026 18:12 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau pengolahan sampah organik menggunakan teknologi hidrotermal, di Pasar Area 7 Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin, 11 Mei 2026. Teknologi tersebut diklaim mampu memangkas waktu pengolahan sampah organik dari tujuh hingga 10 hari menjadi hanya sekitar dua jam.
Pramono mengatakan teknologi hidrotermal menjadi salah satu langkah Pemprov DKI Jakarta dalam memperkuat pengelolaan sampah dari sumber, terutama di pasar tradisional yang menghasilkan sampah organik dalam jumlah besar setiap hari.
“Dengan teknologi hidrotermal, waktu pengolahan sampah dapat dipangkas menjadi sekitar dua jam untuk setiap batch. Ini merupakan inovasi yang sangat baik karena mampu mempercepat proses pengolahan sekaligus menghasilkan produk yang bernilai ekonomis,” ujar Pramono.
Teknologi hidrotermal bekerja menggunakan uap panas bertekanan tinggi untuk mengurai sampah organik tanpa proses pembakaran. Melalui metode tersebut, sampah organik dapat diolah menjadi pupuk cair dan residu padat yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai media tanam maupun pupuk organik.
Berdasarkan hasil uji coba pada April 2026, total sampah organik yang berhasil diolah di Pasar Kramat Jati mencapai 1.708,1 kilogram. Dari jumlah tersebut dihasilkan 936 liter pupuk cair dengan efisiensi pengolahan hingga 80 kali lebih cepat dibanding metode konvensional.
Pramono menilai hasil tersebut menunjukkan pengelolaan sampah berbasis inovasi dapat memberikan dampak nyata sekaligus membantu mengurangi beban sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang.
“Capaian ini menunjukkan bahwa inovasi pengelolaan sampah dapat memberikan hasil nyata dan terukur. Ke depan, kami ingin implementasi di Pasar Kramat Jati menjadi percontohan bagi pasar-pasar lain di bawah naungan Perumda Pasar Jaya,” katanya.
Pasar Kramat Jati memiliki 1.803 tempat usaha dan menghasilkan sekitar enam ton sampah setiap hari. Sebanyak 75 hingga 80 persen di antaranya merupakan sampah organik seperti sisa sayuran, buah-buahan, daun, dan makanan.
Menurut Pramono, pengelolaan sampah di pasar tradisional harus dilakukan secara lebih terukur dan tidak lagi hanya bergantung pada pengangkutan menuju tempat pengolahan akhir.
“Pengolahan sampah organik menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan pasar yang bersih, sehat, dan berkelanjutan. Kami ingin pasar-pasar di Jakarta tidak hanya menjadi pusat ekonomi, tetapi juga menjadi ruang publik yang nyaman dan ramah lingkungan,” ujarnya.
Peninjauan tersebut juga menjadi bagian dari tindak lanjut Gerakan Pilah Sampah yang mulai dijalankan Pemprov DKI Jakarta sejak 10 Mei 2026. Pemprov DKI Jakarta bersama Perumda Pasar Jaya berencana memperluas penerapan konsep pasar hijau guna menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan di Jakarta.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....