Pernah Tembus Rp300 Ribu, Kini Ikan Cupang di Cengkareng Dijual Rp20 Ribu
- 29 Apr 2026 17:01 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Ditengah lesunya tren ikan cupang yang saat ini mengalami penurunan pembeli secara drastis, ternyata tren ikan tersebut sempat melejit pada masa pandemi Covid-19.
Demikian hal itu diungkapkan langsung oleh pedagang di Tempat Promosi Hasil Perikanan (TPHP), Cengkareng, Jakarta Barat, yang kini harus gigit jari menghadapi kondisi pasar yang sepi pembeli.
Salah satu pedagang ikan hias di toko Calysta, Arif (21), mengatakan bahwa ikan cupang pernah menjadi primadona dengan harga jual yang fantastis. Bahkan, pada era kejayaannya, satu ekor ikan cupang bisa dihargai hingga Rp150 ribu hingga Rp200 ribu.
“Kalau sekarang yang dijual Rp20 ribu, dulu bisa Rp150 ribu sampai Rp200 ribu. Bahkan ada yang sampai Rp300 ribu, apalagi kalau sepasang bisa Rp500 ribu,” ujar Arif saat ditemui RRI Jakarta di TPHP Cengkareng, Rabu, 29 April 2026.
Arif mengatakan, lonjakan harga dan permintaan tersebut terjadi saat pandemi Covid-19. Menurut dia, hal itu disebabkan lantaran banyaknya masyarakat yang menghabiskan waktu di rumah dan menjadikan ikan cupang sebagai hiburan sekaligus hobi baru.
“Waktu corona itu justru paling ramai. Orang-orang banyak yang cari hiburan, jadi ikan cupang benar-benar meledak. Dari jual ikannya, makanannya, sampai perlengkapannya, semua laku,” katanya.
Arif mengaku, dalam sehari dirinya bisa meraup omzet hingga puluhan juta rupiah hanya dari penjualan ikan terkhusus ikan cupang. Dengan dua toko yang dimilikinya pada saat itu, pendapatan pada akhir pekan bisa mencapai Rp30 juta per hari.
Namun, seiring meredanya pandemi, minat masyarakat terhadap ikan cupang dinilai mulai menurun. Harga pun ikut anjlok hingga kini berada di kisaran Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per ekor.
“Dulu kalau weekend, kalau dua toko itu bisa nyampe Rp30 juta dulu dalam satu hari. Kalau sekarang udah dapat Rp1 juta aja itu udah ya alhamdulillah lah. Sangat-sangat jauh Mas,” tuturnya.
Tak hanya harga yang turun, jumlah pembeli di TPHP Cengkareng pun megalami penurunan yang signifikan. Arif menyebut, jika sebelumnya pelanggan bisa mencapai 50 hingga 70 orang per hari, kini hanya berkisar 10 hingga 15 orang, bahkan lebih sedikit pada hari biasa.
Dia menilai, penurunan ini tidak hanya disebabkan oleh berakhirnya tren, tetapi juga perubahan pola belanja masyarakat yang kini lebih memilih bertransaksi secara online dibandingkan datang langsung ke pasar.
“Mungkin era sekarang apa ya, banyak hal-hal globalisasi yang mempengaruhi. Terus dari segi media sosial sekarang kan orang lebih kebanyakan milih online gitu daripada langsung ke tempat. Kalau dulu perbandingannya hampir 360 derajat,” katanya.
Tak hanya itu, Arif juga menilai kondisi fisik pasar yang kurang terawat juga turut memengaruhi minat pengunjung. Menurutnya, bangunan yang sudah tua, penataan yang kurang rapi, hingga biaya sewa yang tinggi menjadi faktor lain yang membuat pasar semakin sepi.
“Bangunannya sudah tua, ada yang bocor juga. Penataan juga kurang rapi, jadi orang mungkin sekali datang saja, habis itu pikir-pikir untuk balik lagi,” jelasnya.
Dia pun berharap adanya perhatian dari pemerintah untuk melakukan pembenahan di kawasan TPHP Cengkareng agar kembali menarik minat pengunjung.
“Harapannya pemerintah bisa turun langsung, lihat kondisi di sini, mungkin diperbaiki dari segi bangunan, penataan, dan juga promosi supaya orang tertarik datang lagi,” tandasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....