Pameran 60 Tahun Majalah Horison Resmi Dibuka di TIM

  • 24 Apr 2026 13:36 WIB
  •  Jakarta

RRI.CO.ID, Jakarta - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta bersama Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin resmi membuka pameran sastra bertajuk “Yang Terbit, Yang Tenggelam: 60 Tahun Majalah Horison” pada Kamis, 23 April 2026.

Pameran ini digelar di Galeri PDS H.B. Jassin, Lantai 4 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki dan akan berlangsung hingga 24 Mei 2026.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta, Nasruddin Djoko Surjono, mengatakan pameran tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga warisan budaya, khususnya di bidang sastra.

“Pameran ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga bentuk tanggung jawab institusi publik dalam merawat memori kolektif bangsa melalui sastra,” kata Nasruddin melalui keterangan tertulisnya, Jumat, 24 April 2026.

Menurutnya, perjalanan enam dekade Majalah Horison mencerminkan sejarah panjang pemikiran, dinamika estetik, serta jejak intelektual yang membentuk perkembangan sastra Indonesia. Karena itu, penguatan dokumentasi dan akses publik terhadap karya sastra dinilai semakin penting.

Dengan mengusung tema “Yang Terbit, Yang Tenggelam”, pameran ini menampilkan sisi lain perjalanan sastra, tidak hanya karya yang dikenal luas, tetapi juga karya-karya yang tidak sempat terpublikasi secara luas.

Tim kurator yang dipimpin Esha Tegar Putra menelaah sekitar 360 edisi Majalah Horison dari koleksi PDS H.B. Jassin. Dari hasil kurasi tersebut, dipilih sejumlah cerpen, puisi, serta lebih dari 30 ilustrasi dari periode 1966 hingga 1990 untuk menggambarkan perkembangan estetika majalah tersebut.

Selain itu, pameran juga menampilkan arsip foto dari Dewan Kesenian Jakarta yang merekam hubungan erat antara ekosistem kesenian di TIM dengan para tokoh di balik Majalah Horison.

Berbeda dari pendekatan sejarah yang linear, pameran ini menggunakan metode fragmentaris, yang mengajak pengunjung memahami perjalanan Horison melalui potongan peristiwa, dinamika redaksi, dan gagasan yang berkembang sejak pertama kali terbit pada 1966.

Pengunjung juga dapat menikmati berbagai zona tematik, mulai dari linimasa perjalanan majalah, dokumentasi dewan redaksi lintas generasi, hingga transformasi Horison ke platform digital. Selain itu, tersedia arsip audio berupa rekaman pembacaan puisi oleh para penyair.

Sastrawan Jamal D. Rahman dalam pidato kuncinya menyebut pameran ini sebagai ruang refleksi yang jujur atas perjalanan sebuah majalah sastra.

“Pameran ini tidak hanya merayakan keberhasilan, tetapi juga mengakui kegagalan dan ketidaksempurnaan dalam perjalanan sebuah majalah sastra,” katanya.

Ia menambahkan bahwa di balik setiap karya yang terbit, terdapat banyak naskah dan mimpi yang tidak sempat muncul.

“Pengakuan terhadap hal tersebut merupakan bagian dari integritas kebudayaan,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengakuan terhadap karya-karya yang tidak terbit merupakan bagian dari integritas kebudayaan, sekaligus pengingat pentingnya menjaga martabat bahasa dalam kehidupan sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....